Awas, 6 Kebiasaan Ini Bikin Anak Jadi Sulit Fokus saat Belajar

CNN Indonesia
Sabtu, 26 Sep 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Rutinitas sehari-hari di rumah dapat memengaruhi kemampuan anak untuk fokus, mulai dari waktu tidur hingga kondisi lingkungan saat belajar. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak sulit duduk tenang dan mempertahankan perhatian saat belajar bukan selalu berarti ia malas atau tidak mau mendengarkan. Rutinitas sehari-hari di rumah juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk fokus, mulai dari waktu tidur hingga lingkungan saat belajar.

Ada beberapa kebiasaan yang mungkin tanpa disadari membuat anak lebih sulit mempertahankan fokus. Berikut beberapa di antaranya, merangkum berbagai sumber.

1. Tidur terlalu sedikit

Jam tidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika aktivitas anak sedang padat. Padahal, kurang tidur dapat berpengaruh terhadap kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian.

Studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews menyebutkan, kehilangan tidur pada anak dan remaja berkaitan dengan penurunan sejumlah fungsi kognitif, termasuk perhatian dan fungsi eksekutif.

Anak yang tidur terlalu sedikit bukan hanya bisa merasa mengantuk pada pagi hari. Kemampuannya untuk berkonsentrasi dan mengikuti aktivitas yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama juga dapat ikut terganggu.

2. Masih bermain gawai menjelang tidur

Bukan cuma durasi penggunaan gawai yang perlu diperhatikan, tetapi juga waktunya. Penggunaan perangkat dengan layar menjelang atau saat waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur.

Penggunaan perangkat media portabel pada waktu tidur berkaitan dengan tidur yang tidak mencukupi, kualitas tidur yang lebih buruk, dan rasa kantuk pada siang hari. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi keesokan harinya.

3. Terlalu banyak screen time

Selain penggunaan gawai sebelum tidur, durasi screen time secara keseluruhan juga patut diperhatikan. Mengutip studi yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics, screen time yang lebih tinggi pada usia 24 dan 36 bulan berkaitan dengan hasil perkembangan yang lebih rendah pada usia berikutnya.

Temuan ini tidak berarti setiap anak yang banyak menggunakan layar pasti mengalami masalah konsentrasi. Hubungannya juga dapat dipengaruhi banyak faktor.

Salah satunya adalah apa yang tergantikan oleh screen time. Waktu yang terlalu banyak di depan layar dapat mengurangi kesempatan anak untuk tidur, bergerak, bermain, atau berinteraksi langsung dengan orang lain.

4. Jarang bergerak dan terlalu banyak duduk

Anak memang perlu waktu untuk duduk belajar. Akan tetapi, tubuh juga membutuhkan aktivitas fisik.Penelitian yang sama juga menunjukkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik dan kebugaran dengan beberapa aspek fungsi kognitif serta prestasi akademik.

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga yang terstruktur. Bermain di luar rumah, berlari, bersepeda, atau melakukan aktivitas yang membuat anak aktif bergerak tetap dapat menjadi bagian dari rutinitas.

Anak yang sepanjang hari lebih banyak duduk dan minim bergerak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik bagi fungsi kognitifnya.

5. Sering melewatkan sarapan

'Belum lapar' mungkin menjadi alasan anak melewatkan sarapan sebelum berangkat sekolah. Padahal, makan pada pagi hari juga dapat berkaitan dengan kemampuan kognitif anak.

Penelitian dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience mempelajari hubungan antara sarapan dengan fungsi kognitif, perilaku, dan performa akademik anak serta remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa sarapan dapat memberikan manfaat pada aspek tertentu dari fungsi kognitif dan perilaku. Efeknya memang tidak selalu sama pada setiap anak dan dapat dipengaruhi jenis makanan serta usia.

Jadi, bukan berarti melewatkan satu kali sarapan otomatis membuat anak tidak bisa fokus. Namun, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak menjadi rutinitas, terutama jika membuat kebutuhan makan anak secara keseluruhan tidak terpenuhi.

6. Belajar di tengah banyak distraksi

Ilustrasi. Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang bikin anak susah fokus. (White77/Pixabay)

Anak yang sedang mengerjakan tugas tetapi televisi tetap menyala, mainan berserakan di sekitarnya, atau sesekali berpindah ke aplikasi lain mungkin terlihat seperti sedang tidak fokus. Padahal, lingkungan yang penuh stimulus memang dapat membuat perhatian lebih mudah terpecah.

Misalnya, paparan televisi di latar belakang dapat mengganggu kualitas dan pola bermain anak.

Konsep yang sama dapat diterapkan dalam aktivitas belajar. Televisi yang terus menyala, notifikasi gawai, atau terlalu banyak hal yang menarik perhatian dapat membuat anak lebih sulit mempertahankan fokus pada satu aktivitas.

Perlu diingat pula, sulit fokus tidak otomatis berarti anak malas, tidak disiplin, atau sengaja tidak mau mendengarkan. Kemampuan perhatian anak dipengaruhi banyak hal.

Selain kebiasaan sehari-hari, kondisi seperti stres, kecemasan, masalah tidur, gangguan penglihatan atau pendengaran, hingga ADHD juga dapat berperan.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK