7 Kebiasaan agar Anak Lebih Suka Makan Sayuran hingga Dewasa
Orang tua mungkin sudah mencoba berbagai cara agar anak mau makan sayuran. Jangan menyerah sebab masih ada cara lain yakni menerapkan beberapa kebiasaan berikut.
"Nggak suka sayur." Kalimat ini mungkin cukup sering terdengar saat anak berhadapan dengan sepiring brokoli, bayam, wortel, atau buncis.
Tak jarang orang tua sudah mencoba berbagai cara, mulai dari membujuk, menyembunyikan sayuran di dalam makanan, sampai menjanjikan hadiah agar anak mau menghabiskan makanannya.
Kebiasaan agar anak lebih suka sayuran
Sayuran jelas mengandung nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. Serat pada sayuran melengkapi kebutuhan serat harian selain dari buah-buahan. Tak heran orang tua berjuang keras agar anak mau mengonsumsi sayuran.
Ada berbagai cara yang bisa diterapkan agar anak mau makan sayuran salah satunya dengan menerapkan beberapa kebiasaan berikut.
1. Jangan langsung menyerah
Anak menolak brokoli hari ini bukan berarti brokoli akan selamanya masuk daftar makanan yang tidak disukai. Salah satu cara yang justru memiliki bukti cukup kuat adalah repeated exposure atau terus memperkenalkan makanan yang sama kepada anak pada kesempatan berbeda.
Coba tawarkan lagi di kesempatan lain, tanpa harus memaksa anak menghabiskannya. Berapa kali harus dicoba? Tidak ada angka yang berlaku untuk semua anak.
Melansir studi dari The Journal of Clinical Nutrition, paparan berulang terhadap satu maupun beragam jenis sayuran dapat meningkatkan kesukaan dan konsumsi sayuran pada anak. Ini berarti ketika anak menolak bayam sekali, orang tua tidak harus langsung mencoretnya dari menu.
2. Kenalkan lebih dari satu jenis sayuran
Jangan hanya mengandalkan satu sayuran yang kebetulan disukai anak. Memperkenalkan berbagai jenis sayuran membuat anak memiliki lebih banyak pengalaman dengan rasa, aroma, warna, dan tekstur makanan.
Setelah anak mulai familiar dengan wortel, misal, orang tua bisa mengenalkan brokoli, buncis, bayam, labu, tomat, atau kacang polong. Tidak harus semuanya sekaligus. Dengan begitu, tujuannya bukan membuat anak langsung menyukai semua sayuran, melainkan memperluas pengalaman makannya sedikit demi sedikit.
3. Coba sajikan sayur lebih dulu
Letakkan sayuran sebagai salah satu makanan pertama yang ditawarkan ketika anak mulai makan. Saat mulai makan, anak biasanya masih lapar.
Ketika sayuran sudah tersedia sejak awal, peluang makanan tersebut untuk dimakan menjadi lebih besar dibandingkan jika sayuran baru muncul setelah anak menghabiskan makanan lain yang lebih disukainya.
4. Perbanyak porsi sayur dalam satu piring
Ubah perbandingan makanan di dalam piring, alih-alih memenuhi piring dengan makanan berkalori lebih tinggi lalu memberikan sedikit sayuran sebagai pelengkap, orang tua bisa secara bertahap memperbesar proporsi sayuran.
Anak pun tetap memiliki pilihan makanan yang disukai, tetapi sayuran mendapat ruang yang lebih besar di dalam piring.
5. Bikin sayur terlihat menarik dan mudah diambil
Anak tidak hanya makan dengan lidah. Matanya juga ikut memilih, cara sayuran disajikan dapat memengaruhi ketertarikan anak untuk mencobanya. Sayuran bisa dipotong dalam bentuk yang lebih menarik, ditempatkan dalam porsi kecil, atau disusun berdampingan dengan makanan lain sehingga lebih mudah dilihat dan diambil.
Mengutip Healthy Children, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan untuk membuat makanan terlihat menarik, termasuk memotong makanan dalam bentuk yang menyenangkan bagi anak. AAP mencatat anak mungkin membutuhkan banyak percobaan sebelum akhirnya menyukai makanan yang sebelumnya ditolak.
6. Orang tua ikut makan sayur
Sulit meminta anak makan brokoli kalau orang dewasa di rumah justru sibuk menyingkirkan brokoli dari piring. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Sebaiknya keluarga makan bersama dan orang tua menjadi contoh dalam mengonsumsi makanan sehat. Anak dapat mengamati dan meniru kebiasaan makan orang tua, saudara, maupun orang-orang di sekitarnya.
7. Libatkan anak dalam menyiapkan makanan
Anak bisa dilibatkan sejak sebelum makanan sampai di meja. Biarkan mereka memilih antara wortel atau brokoli ketika berbelanja, mencuci sayuran, membantu menata makanan, atau menentukan sayuran apa yang ingin dicoba hari itu.
Libatkan anak dalam persiapan makanan karena kegiatan tersebut dapat membuat pengalaman makan menjadi lebih menyenangkan.
Yang tak kalah penting, hindari menjadikan sayur sebagai sumber pertengkaran. Memaksa anak menghabiskan sayuran atau memberikan makanan favorit sebagai hadiah setelah mereka makan sayur justru bukan strategi yang perlu dijadikan andalan.
Tekanan untuk makan dapat membuat anak semakin tidak menyukai makanan tertentu. Orang tua pun tetap menyediakan pilihan makanan yang beragam, sementara anak diberi ruang untuk menentukan apakah dan seberapa banyak mereka akan makan.
(anm/els)