10 Cara Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying, Peran Ortu Penting Lho

CNN Indonesia
Minggu, 04 Okt 2026 11:50 WIB
Ilustrasi. Orang tua perlu mengajarkan anak cara memperlakukan orang lain dengan baik agar tidak menjadi pelaku bullying di luar rumah. (Foto: iStock/StockPlanets)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu hal yang paling ditakutkan oleh orang tua adalah ketika anak yang mereka besarkan sejak kecil menjadi pelaku bullying dan menindas orang lain.

Menerapkan cara mencegah anak menjadi pelaku bullying agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Bullying tidak selalu dilakukan oleh anak yang dianggap "nakal". Ada berbagai alasan yang dapat membuat anak bersikap kasar kepada teman, seperti ingin diterima dalam kelompok, mencari perhatian, merasa tidak percaya diri, atau meniru perilaku yang dilihat di rumah.

Karena itu, orang tua perlu mengajarkan anak cara memperlakukan orang lain dengan baik agar tidak menjadi pelaku bullying di luar rumah.

1. Ajak anak berbicara secara terbuka

Berdasarkan situs Child Mind Institute, salah satu cara mencegah anak menjadi pelaku bullying adalah dengan mengajak anak berbicara secara terbuka.

Jika guru atau orang tua lain memberi tahu bahwa anak melakukan bullying, jangan langsung memarahi atau memberi hukuman. Ajak anak berbicara dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Dengarkan cerita dari sudut pandangnya. Cara ini dapat membantu orang tua mengetahui apakah anak ingin diterima teman, sedang mencari perhatian, merasa kesal, atau memiliki masalah lain.


2. Cari tahu alasan di balik perilakunya

Ilustrasi. Cara mencegah agar anak tidak menjadi pelaku bullying di luar rumah. (Foto: iStock/Nuttawan Jayawan)

Anak dapat melakukan bullying karena berbagai alasan. Ada yang ingin terlihat kuat, merasa tidak aman, sulit mengendalikan emosi, atau mengikuti teman yang melakukan bullying.

Memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan perilaku tersebut. Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi masalahnya.


3. Ajarkan cara berteman yang baik

Anak perlu mengetahui perilaku seperti apa yang diharapkan dari mereka. Daripada hanya mengatakan "jangan jadi pelaku bullying", berikan contoh tindakan yang harus dilakukan.

Misalnya, ajarkan anak untuk mengajak teman bermain, menggunakan kata-kata yang sopan, menghargai pendapat orang lain, dan tidak sengaja mengucilkan teman.


4. Ajarkan anak memahami perasaan orang lain

Bantu anak melihat situasi dari sudut pandang orang yang menjadi korban. Tanyakan apakah mereka pernah merasa sedih, malu, takut, atau tersisih ketika diperlakukan tidak baik.

Kemudian jelaskan bahwa teman yang menjadi sasaran bullying juga dapat merasakan hal yang sama. Cara ini membantu anak belajar memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.


5. Ciptakan contoh yang baik di rumah

Anak banyak belajar dari perilaku orang-orang di sekitarnya. Jika mereka sering melihat teriakan, hinaan, ejekan, atau kekerasan saat terjadi konflik di rumah, mereka dapat meniru perilaku tersebut.

Karena itu, orang tua perlu menunjukkan cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah dengan tenang. Hindari memanggil anak dengan sebutan yang merendahkan atau menggunakan kekerasan sebagai bentuk disiplin.


6. Ajarkan menghargai perbedaan

Anak perlu memahami bahwa perbedaan penampilan, kemampuan, kondisi ekonomi, agama, suku, atau latar belakang bukan alasan untuk mengejek seseorang.

Orang tua dapat mengajarkan bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan sopan dan hormat. Anak juga dapat diajak mengikuti kegiatan yang membuat mereka bertemu dengan teman dari latar belakang yang beragam.


7. Berikan konsekuensi yang jelas

Bullying perlu ditanggapi dengan serius. Tetapkan aturan yang jelas dan jelaskan konsekuensinya jika anak melanggar.

Hukuman sebaiknya berhubungan dengan perilaku dan tidak diberikan terlalu lama. Misalnya, jika anak melakukan cyberbullying melalui ponsel, penggunaan ponsel atau media sosial dapat dibatasi untuk sementara.

Tujuannya bukan sekadar menghukum, tetapi membantu anak belajar bertanggung jawab.


8. Dorong anak memperbaiki kesalahan

Setelah anak tenang, ajarkan bahwa kesalahan perlu diperbaiki. Anak dapat meminta maaf kepada korban atau melakukan tindakan yang menunjukkan bahwa mereka memahami kesalahannya.

Perbaikan tidak selalu harus berupa permintaan maaf secara langsung. Yang penting, anak memahami dampak perbuatannya dan belajar memperlakukan orang lain dengan lebih baik.


9. Berikan pujian untuk perilaku positif

Situs Nemours Kid Health juga menambahkan untuk selalu memberikan pujian ketika anak berperilaku positif. Jangan hanya memperhatikan anak ketika melakukan kesalahan.

Berikan pujian ketika mereka menunjukkan sikap baik, seperti membantu teman, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, atau mengajak teman yang sedang sendirian.

Pujian yang tepat dapat memperkuat kebiasaan positif dan membuat anak memahami bahwa perilaku tersebut dihargai.

[Gambas:Video CNN]


10. Pantau lingkungan pertemanan anak

Orang tua perlu mengetahui bagaimana kehidupan sosial anak di sekolah maupun di lingkungan lainnya. Sesekali tanyakan tentang teman, kegiatan, dan masalah yang mereka hadapi.

Jika bullying terus terjadi meskipun sudah dibimbing, orang tua dapat bekerja sama dengan guru atau konselor sekolah. Bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan jika anak mengalami kesulitan mengendalikan emosi atau perilakunya.

Demikian cara mencegah anak menjadi pelaku bullying. Semoga bermanfaat.

(sac/fef)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK