Baru Vaksin HPV saat Usia Dewasa, Efektif atau Tidak?

CNN Indonesia
Sabtu, 26 Sep 2026 16:40 WIB
Ilustrasi. Pemberian vaksin HPV saat usia dewasa tetap bisa memberikan perlindungan. (iStockphoto/Samara Heisz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin Human papillomavirus (HPV) memang umum diberikan pada usia anak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sendiri kini tengah gencar menjalankan program vaksinasi HPV pada anak usia sekolah.

Lantas, bagaimana jika seseorang baru melakukan vaksinasi HPV pada usia dewasa dan sudah aktif secara seksual? Apakah vaksin masih bisa memberikan perlindungan maksimal?

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Yudo Irawan mengatakan, vaksin HPV memang paling ideal diberikan sebelum terpapar virus. Meski begitu, kesempatan mendapatkan perlindungan dari vaksin tidak otomatis hilang ketika seseorang sudah dewasa.

"Sebenarnya kalau idealnya atau yang paling sangat dianjurkan itu adalah usia ketika seorang laki-laki atau perempuan belum diekspektasikan [melakukan] kontak seksual," ujar Yudo pada CNNIndonesia.com, Kamis (24/9).

Pada anak hingga remaja, Yudo menganjurkan vaksin dilakukan pada usia 9-12 tahun. Namun, bukan berarti setelah usia itu vaksin jadi tidak direkomendasikan. Seseorang masih bisa melakukan vaksinasi HPV pada usia dewasa.

Vaksin HPV tidak otomatis menjadi sia-sia hanya karena seseorang sudah dewasa atau pernah melakukan kontak seksual. Menurut Yudo, terdapat panduan yang memungkinkan vaksinasi diberikan hingga usia 45 tahun pada laki-laki. Pemberiannya dilakukan berdasarkan pertimbangan antara dokter dan pasien.

"Jadi vaksinasi HPV dapat diberikan hingga usia 45 tahun pada laki-laki dengan pertimbangan bersama setelah diskusi antara dokter dan pasien. Jadi kita sebutnya itu shared clinical decision making," ujarnya.

Dalam pertimbangan tersebut, dokter akan melihat kemungkinan seseorang terinfeksi HPV serta kondisi lain yang dapat memengaruhi manfaat vaksinasi.

Bagaimana efektivitas vaksinasi HPV saat usia dewasa?

Yudo mengatakan, vaksin HPV tidak memberikan perlindungan 100 persen terhadap seluruh infeksi HPV. Meski begitu, perlindungan yang diberikan tetap tinggi.

"Walaupun tampaknya masih [diberikan pada] masa anak-anak dengan dosis yang komplit gitu, [vaksin] tidak 100 persen akan melindungi infeksi HPV. Karena sekali lagi, faktor yang dapat menyebabkan seseorang terkena infeksi HPV itu sangat banyak. Tapi perlindungan setelah divaksin itu sangat tinggi, 90 persen lebih," jelas Yudo.

Efektivitas juga akan tetap didapat bagi mereka yang baru melakukan vaksinasi setelah pernah terinfeksi HPV.

"Perlindungan pada pasien setelah vaksinasi HPV, setelah terinfeksi HPV sebelumnya itu tetap didapatkan," ujar Yudo.

Hal ini berkaitan dengan banyaknya tipe HPV. Saat seseorang pernah terinfeksi satu tipe HPV, bukan berarti dirinya otomatis kebal terhadap seluruh tipe HPV lainnya. Karena itu, vaksinasi tetap dapat dipertimbangkan meski seseorang pernah mengalami infeksi HPV sebelumnya.

Hanya saja, pada orang yang pernah terinfeksi, efektivitas vaksin dapat sedikit menurun. Meski begitu, bukan berarti vaksin tidak lagi memberikan manfaat.

"Nah, kalau misalnya sudah terinfeksi, memang angka efektivitasnya itu sedikit menurun, tapi bukan berarti kurang dari 50 persen. Tetap ada efektivitas perlindungan HPV terhadap tipe-tipe yang belum pernah kena sebelumnya," pungkasnya.

Berapa dosis vaksin yang dibutuhkan untuk dewasa?

Jumlah dosis vaksin HPV juga berbeda berdasarkan usia saat vaksinasi dimulai. Menurut Yudo, orang dewasa umumnya membutuhkan tiga kali suntikan untuk menyelesaikan dosis vaksinasi.

"Untuk berapa kali, sebenarnya sampai sekarang itu dari panduan juga menyebutkan baik dari CDC, dari WHO, ataupun juga dari yang nasional kita, baik yang dilakukan oleh kami, SpDVE, atau dari penyakit dalam, untuk dosis komplit orang dewasa itu adalah sebanyak 3 kali suntikan, dengan rata-rata injeksi intervalnya di bulan 0, bulan 2, dan bulan 6," katanya.

Sementara untuk anak yang mendapatkan vaksin sebelum usia 15 tahun, jumlahnya lebih sedikit.

"Tapi, kalau misalnya injeksi tersebut diberikan pada anak-anak di bawah 15 tahun, itu cukup 2 dosis, jadi 2 kali suntik. Di bulan 0 dan di bulan 6 hingga 12 bulan. Jadi, anak-anak dua, orang dewasa tiga," jelas Yudo.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK