Daycare Tak Sekadar Tempat Titip Anak, Ini yang Dicari Orang Tua

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 21:54 WIB
Ilustrasi. Daycare ternyata bukan cuma tempat titip anak. (Istockphoto/Nadezhda1906)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi orang tua yang bekerja, daycare bukan lagi sekadar tempat menitipkan anak selama jam kerja. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan usia dini, orang tua mulai mempertimbangkan aspek lain, seperti stimulasi tumbuh kembang, kemandirian, kemampuan sosial, hingga cara anak memecahkan masalah.

Kebutuhan tersebut membuat konsep daycare turut berkembang. Lingkungan pengasuhan kini diharapkan tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga mampu menjadi ruang belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Keterampilan seperti berpikir kritis, beradaptasi, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah juga dinilai penting untuk dipersiapkan sejak usia dini. Kemampuan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak memasuki usia sekolah, tetapi mulai terbentuk melalui berbagai pengalaman sehari-hari.

Salah satu pendekatan pendidikan yang banyak digunakan dalam pendidikan anak usia dini adalah metode Montessori. Pendekatan ini menekankan pengalaman langsung, pembelajaran melalui aktivitas konkret, serta kesempatan bagi anak untuk melakukan berbagai hal secara mandiri sesuai dengan tahap perkembangannya.

Dalam Montessori, aktivitas sehari-hari atau Practical Life menjadi salah satu bagian penting. Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana, seperti merapikan mainan, mencuci tangan, menuang air, menyiapkan makanan ringan, merawat tanaman, hingga menjaga lingkungan di sekitarnya.

Aktivitas tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi bagian dari proses anak belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Menurut Indah Tri Novita, Co-Founder PlayHive Montessori Daycare sekaligus Diploma Montessori, pendidikan anak seharusnya tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik seperti membaca dan berhitung.

"Padahal dunia yang akan dihadapi anak-anak kita 10 hingga 20 tahun mendatang sangat berbeda. Kemampuan yang akan membuat mereka berhasil bukan hanya akademik, tetapi juga kemampuan berpikir mandiri, menyelesaikan masalah, beradaptasi, berkomunikasi, dan memiliki rasa percaya diri. Semua fondasi itu mulai dibangun sejak usia dini," ujar Indah dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas secara mandiri dapat membantu anak membangun rasa percaya diri. Ketika anak diberi ruang untuk mencoba dan menyelesaikan tugas sederhana sendiri, mereka juga belajar berkonsentrasi, mengambil keputusan, serta memahami konsekuensi dari tindakannya.

"Ketika anak diberi kesempatan melakukan sesuatu sendiri, mereka belajar bahwa dirinya mampu. Dari situlah muncul kepercayaan diri, konsentrasi, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan. Ini adalah life skills yang akan mereka bawa sepanjang hidup," katanya.

Menyesuaikan stimulasi dengan usia anak

Pendekatan terhadap anak juga perlu disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembangnya. Kebutuhan bayi tentu berbeda dengan anak yang sudah memasuki usia prasekolah.

Pada bayi dan toddler, misalnya, stimulasi dapat diarahkan pada eksplorasi lingkungan, pengalaman sensorik, gerak aktif, serta pembentukan rasa aman. Sementara anak usia prasekolah mulai dapat diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan bahasa, kemampuan sosial dan emosional, numerasi, kreativitas, hingga kemampuan berpikir kritis.

Konsep tersebut juga diterapkan di PlayHive Montessori Daycare di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Layanan daycare dan early learning tersebut ditujukan bagi anak usia 6 bulan hingga 6 tahun dengan kegiatan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan.

Program pembelajaran mencakup sejumlah area Montessori, antara lain Practical Life, Sensorial, Language, Mathematics, dan Culture. Selain kegiatan belajar, lingkungan pengasuhan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan orang tua ketika memilih daycare.

Kualitas interaksi antara anak dan pengasuh, keamanan lingkungan, kompetensi pengasuh, serta pemantauan perkembangan anak dapat menjadi pertimbangan. Indah mengatakan pemilihan daycare sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kelengkapan fasilitas.

"Daycare adalah tempat di mana anak menghabiskan sebagian besar waktunya setiap hari. Karena itu, orang tua perlu melihat apakah lingkungan tersebut membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan memiliki kecintaan belajar," ujarnya.

Kebutuhan terhadap layanan pengasuhan yang sekaligus mendukung proses belajar anak pun menjadi bagian dari perubahan pola pengasuhan keluarga. Bagi sebagian orang tua, daycare kini tidak hanya dipandang sebagai solusi selama bekerja, tetapi juga sebagai lingkungan yang dapat membantu anak mengembangkan berbagai keterampilan sejak dini.

Stimulasi anak tidak selalu harus berupa kegiatan akademik. Kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, menyelesaikan persoalan sederhana, dan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dapat menjadi bagian dari proses belajar anak.

(tis/tis)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK