Bolehkah Orang Tua Curhat ke Anak? Ini Batas yang Harus Dijaga

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 17:00 WIB
Keterbukaan antara orang tua dan anak memang bisa membangun kedekatan.
Ilustrasi. Keterbukaan antara orang tua dan anak memang bisa membangun kedekatan. (Istockphoto/ Fizkes)
Jakarta, CNN Indonesia --

Orang tua juga manusia, ada kalanya mereka merasa lelah, sedih, kecewa, atau sedang menghadapi masalah yang membuat pikiran penuh. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika muncul keinginan untuk bercerita kepada orang terdekat, termasuk anak. Lalu, apakah orang tua boleh curhat kepada anak?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana boleh atau tidak. Penelitian menunjukkan, keterbukaan antara orang tua dan anak justru bisa membantu membangun kedekatan. Batasnya terletak pada apa yang diceritakan, bagaimana cara menyampaikannya, serta peran seperti apa yang diberikan kepada anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Curhat ke anak tidak selalu buruk

Berbagi cerita personal dengan anak tidak otomatis berarti orang tua sedang membebani mereka. Melansir studi yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships, ketika orang tua dan anak saling berbagi hal personal atau melakukan self-disclosure, anak melaporkan merasa lebih dicintai dibandingkan ketika mereka hanya melakukan percakapan ringan atau small talk.

Percakapan yang lebih personal juga membuat orang tua dan anak membicarakan emosi, keluarga, hingga pengalaman yang dianggap bermakna. Artinya, keterbukaan orang tua kepada anak dalam batas yang sesuai usia justru dapat menjadi bagian dari hubungan yang dekat.

Orang tua tidak harus selalu terlihat kuat di depan anak. Menunjukkan bahwa orang tua juga bisa merasa sedih, kecewa, atau stres dapat membantu anak memahami bahwa emosi tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan.

Ketika anak mulai menjadi tempat menanggung masalah

Persoalannya muncul ketika cerita tersebut membuat anak merasa harus ikut memikul masalah orang tua. Dalam psikologi keluarga terdapat istilah parentification, yaitu kondisi ketika anak mengambil peran atau tanggung jawab yang seharusnya berada pada orang tua.

Salah satu bentuknya adalah emotional parentification, ketika anak menjadi tempat utama orang tua mendapatkan dukungan emosional. Pada kondisi ini, anak bukan lagi sekadar mendengarkan cerita orang tua.

Mereka bisa merasa bertanggung jawab untuk membuat orang tuanya merasa lebih baik, memberikan solusi atas masalah orang dewasa, atau bahkan ikut mengambil keputusan dalam persoalan keluarga.

Sejumlah penelitian tentang keluarga mengaitkan parentification dengan konflik perkawinan, rasa terancam pada anak, hubungan orang tua-anak yang kurang hangat, serta masalah penyesuaian pada anak.

Meski begitu, penelitian juga menekankan bahwa parentification perlu dilihat berdasarkan konteks dan tahap perkembangan anak. Tidak setiap bentuk tanggung jawab atau keterlibatan anak otomatis merupakan parentification.

Batas antara berbagi cerita dan membebani anak menjadi semakin penting ketika orang tua mulai memberikan terlalu banyak informasi mengenai persoalan orang dewasa.

Penelitian mengenai emotional parentification pada remaja juga membahas pemberian peran emosional kepada anak, termasuk kemungkinan oversharing atau membagikan informasi yang tidak sesuai dengan usia dan posisi anak.

Bolehkah Orang Tua Curhat ke Anak? Ini Batas yang Harus Dijaga BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2