Deteksi Tumor Otak dari Sampel Air Mata, Bisakah?
Tumor otak sering kali terlambat dideteksi karena gejalanya tidak spesifik. Sakit kepala dan kejang bisa jadi tanda awal. Namun tak jarang gejalanya hanya sakit kepala yang sering dianggap remeh.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Petra Hamerlik dari Universitas Manchester, Inggris, mencoba mencari cara mendeteksi tumor lebih dini, yakni melalui air mata.
Hamerlik sendiri terinspirasi untuk melakukan penelitian ini karena pengalaman ayahnya. Saat ia berusia 15 tahun, ayahnya meninggal karena tumor otak.
"Saya selalu penasaran apakah kita dapat mendeteksi tumor otak sebelum gejala muncul karena... dalam kasus ayah saya, butuh delapan bulan bagi para dokter untuk mengetahui bahwa ia menderita tumor otak," tutur Hamerlik, seperti dilansir People.
Penelitian dimulai sejak 2012
Hamerlik baru benar-benar memulai penelitian ini pada 2012 lalu setelah percakapan dengan ilmuwan lain di sebuah bar di Denmark.
"Dalam percakapan itu, entah bagaimana muncul bahwa dia menganalisis air mata untuk beberapa penyakit mata dan saya berkata, 'Bagaimana jika ada hubungannya?' Karena kita tahu mata adalah perpanjangan dari sistem saraf pusat," ujar Hamerlik.
Spekulasi awal Hamerlik, apa pun yang terjadi di otak ketika tumor mulai tumbuh, bisa tecermin dari komposisi cairan air mata. Seusai percakapan tersebut, Hamerlik pun memimpin studi tentang air mata ini di Universitas Manchester.
Sekitar 500 orang sudah berpartisipasi dalam penelitian ini dengan bantuan peneliti dari negara lain. Adapun metode pengujiannya, yakni kertas tebal diletakkan di bawah kedua kelopak mata bawah selama sekitar 10 menit.
Kertas harus diletakkan di bagian bawah kelopak mata agar para peneliti dapat melihat perubahan warna lalu mengumpulkan sampel tersebut.
Para peneliti mampu mengidentifikasi tumor yang diderita pasien dengan benar dari air mata. Namun mereka percaya masih dibutuhkan sekitar satu dekade lagi sebelum akhirnya metode ini bisa diterapkan untuk diagnosis tumor otak.
"Bidang ini berkembang dengan kecepatan kosmik, jadi menurut saya, pada saat tes ini disetujui, mungkin sudah ada pengobatannya," kata Hamerlik.
Hamerlik mengatakan, para ilmuwan ingin tes tersebut dapat diandalkan sebelum jadi metode resmi untuk diagnosis kanker.
"Kami ingin memastikan tes ini tidak salah diagnosis. Jadi, jika Anda memiliki sinyal, Anda tahu itu adalah sinyal yang terkait dengan tumor, dan bukan kondisi neurologis lainnya," kata Hamerlik.
Mengapa harus air mata?
Selain mengekspresikan emosi, air mata juga memiliki banyak fungsi lainnya. Mengutip laman Cancer Research UK, fungsi tersebut antara lain mengantarkan oksigen dan nutrisi ke mata, menghilangkan limbah, hingga melindungi mata dari infeksi.
Tak hanya itu, air mata juga mengandung banyak informasi biologis. Adapun tim peneliti yang dipimpin Hamerlik ini melihat adanya hubungan erat antara mata dan otak.
Saraf optik terhubung langsung ke otak, sedangkan air mata terbuat dari plasma darah yang disaring melalui kelenjar yang dikendalikan batang otak.
Kelenjar tersebut juga menghasilkan komplemen imun yang penting bagi kesehatan mata. Hal inilah yang membentuk hipotesis awal, apakah air mata bisa dipengaruhi perubahan imun di otak atau tidak.
"Kami berhipotesis bahwa ketika tumor berkembang, ia mengubah sistem kekebalan tubuh di otak dan hal ini dapat tercermin dalam cairan air mata," kata Hamerlik.
Meski penelitian yang dilakukan oleh Hamerlik dan timnya ini masih berjalan, tetapi hasil awalnya cukup menjanjikan.
"Dengan mengumpulkan air mata menggunakan tes strip Schirmer standar yang sudah digunakan untuk penyakit mata kering, kami menemukan bahwa kami dapat mendeteksi tumor otak dengan akurasi tinggi," tutur Hamerlik.
Setelah mengumpulkan lebih banyak data dan mendapat pendanaan, tim ini menjalankan studi validasi besar yang disetujui National Health Service (NHS) Inggris.
Studi besar yang disebut INFORM ini, kini sedang merekrut pasien dari banyak negara untuk mendeteksi tumor otak pada kelompok lebih besar. Mulai dari Inggris, Swedia, Jerman, Yunani, Slovakia, hingga Republik Ceko.
"Harapannya adalah untuk memberikan dokter alat yang cepat dan andal untuk melakukan triase pasien," kata Hamerlik.
Ia menekankan, metode baru ini nantinya bukan untuk menggantikan MRI, tetapi mempercepat jalur menuju diagnosis. Jika berhasil, metode tes yang menjadikan tetesan air mata sebagai sampel untuk deteksi tumor otak lebih awal ini, bisa menjadi terobosan baru.
(rti)