Gaya Komunikasi Generasi Milenial Terlalu Kaku dan Formal, Benarkah?

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Gaya komunikasi generasi Milenial sering dianggap terlalu formal dan kaku bagi generasi di bawahnya. Benarkah demikian atau hanya beda gaya antargenerasi saja? (istockphoto/NickyLloyd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perbedaan gaya komunikasi antara Generasi Z dan Milenial kerap terlihat jelas, terutama di ruang digital dan dunia kerja. Gen Z dikenal lebih spontan, ringkas, dan akrab dengan bahasa informal yang dibentuk media sosial.

Di sisi lain, gaya komunikasi Milenial sering dianggap terlalu formal dan kaku bagi generasi di bawahnya. Namun benarkah demikian?

Tumbuh di masa peralihan dari teknologi analog ke digital, sejumlah penelitian menilai Milenial lebih fleksibel dalam menyesuaikan bahasa, tetapi tetap bisa menyesuaikan diri dengan konteks situasi.

Adapun perbedaan gaya komunikasi ini tak sekadar soal pilihan kata, tetapi juga dipengaruhi pengalaman generasi masing-masing dalam beradaptasi dengan teknologi.

Meski begitu, dinamika semacam ini sebenarnya bukan hal baru, karena gaya komunikasi milenial pun pernah bikin generasi di atasnya 'sakit kepala.'

Beda gaya komunikasi Gen Z dan Milenial

Perbedaan gaya komunikasi antara Gen Z dan Milenial tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh pengalaman mereka tumbuh bersama teknologi yang berbeda. Temuan ini tampak dalam penelitian Fatima Jihan yang dipublikasikan di jurnal Language Horizon (2024).

Menurut studi tersebut, gaya komunikasi Gen Z sangat dipengaruhi budaya global dan perangkat komunikasi digital. Karena sudah terpapar teknologi komunikasi sejak dini, praktik linguistik generasi ini banyak dibentuk oleh media sosial dan komunitas online.

Berbagai platform tersebut mendorong penggunanya untuk mempraktikkan gaya komunikasi lebih santai dan langsung. Alhasil, bahasa gaul dan informal jadi banyak digunakan.

Generasi Milenial juga sebenarnya dipengaruhi oleh komunikasi digital, tetapi mereka mengalaminya secara bertahap. Sebagai generasi yang hidup di masa peralihan, Milenial tidak sejak awal tumbuh di tengah ekosistem digital seperti Gen Z.

Hal ini membuat pendekatan Milenial terhadap bahasa tetap lebih konservatif, terutama dalam konteks profesional.

Milenial umumnya tetap mematuhi norma dan praktik komunikasi yang sudah mapan. Mereka menyeimbangkan pengaruh komunikasi digital dengan ekspektasi generasi di atasnya tentang formalitas dan rasa hormat.

Perbedaan ini terlihat jelas di tempat kerja. Gen Z cenderung lebih sering menyingkat pesan dan menggunakan gaya bahasa santai. Adapun Milenial lebih memilih bentuk yang sedikit lebih formal.

Contohnya dalam konteks profesional, Milenial lebih nyaman menggunakan "terima kasih" ketimbang menyingkatnya jadi "thx" yang dilakukan Gen Z.

Jika penelitian Jihan menyoroti perbedaan gaya komunikasi secara umum, penelitian lain memperlihatkan dampaknya dalam interaksi antargenerasi.

Proyek penelitian Aileen Dieu dkk. di UCLA pada 2024 tersebut menemukan adanya hambatan komunikasi semantik antara Milenial dan Gen Z.

Kedua generasi memang sama-sama menggunakan ciri bahasa gaul seperti akronim dan eufemisme. Namun, kesamaan itu mulai memudar ketika masuk ke kata atau frasa slang tertentu.

Bahasa gaul Gen Z sering kali lebih spesifik dan terkait erat dengan konteks budaya internet yang melahirkannya. Untuk memahaminya, generasi lain perlu mengetahui asal-usul dan konteks penggunaannya.

Di titik inilah Milenial kerap tertinggal. Mereka cenderung memakai slang yang sudah usang, keliru menggunakan istilah, atau sama sekali tidak memahami istilah baru yang sedang populer.

Di platform yang didominasi Gen Z, kebingungan itu biasanya terlihat dalam bentuk pertanyaan dari pengguna Milenial yang berusaha mencari makna dan konteks suatu unggahan, komentar, atau lelucon yang sedang ramai dibicarakan.

Baca halaman selanjutnya...

Milenial juga sempat bikin 'sakit kepala' generasi di atasnya


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :