Indonesia Diprediksi Hadapi 4 Juta Kasus Demensia pada 2050

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Wamenkes singgung kemungkinan kasus demensia di Indonesia terus meningkat. (CNN Indonesia/Khaira Ummah Junaedi Putri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia mulai memasuki era aging population. Jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah seiring meningkatnya angka harapan hidup.

Kondisi ini membuat persoalan kesehatan pada kelompok lanjut usia menjadi tantangan yang perlu dipersiapkan sejak sekarang, termasuk demensia.

Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan Indonesia berpotensi menghadapi jutaan kasus demensia dalam beberapa dekade mendatang jika faktor risikonya tidak mulai dikendalikan.

"Secara global WHO memperkirakan ada 50 juta orang dengan demensia dan ada 10 juta kasus (baru) setiap tahunnya," kata Dante dalam sambutannya pada acara Bergerak Melawan Demensia yang diselenggarakan Alzheimer's Indonesia (ALZI) Jakarta, Rabu (30/9).

Dante mengatakan jumlah tersebut dapat terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Ia memperkirakan Indonesia bisa menghadapi sekitar 3-4 juta kasus demensia pada 2050 jika upaya pencegahan tidak dilakukan sejak sekarang.

"Penduduk Indonesia bisa melonjak menjadi 3 sampai 4 juta pada 2050 kalau kita tidak melakukan ini mulai dari sekarang," ujarnya.

Menurut Dante, meningkatnya angka harapan hidup seharusnya tidak hanya dilihat sebagai keberhasilan dalam memperpanjang usia.

"Namun tugas kita bukan sekadar memperpanjang usia, melainkan memastikan masa tua yang sehat, mandiri dan menjaga umur," kata Dante.

Ia mengatakan demensia menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan seiring bertambahnya populasi lansia. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bagi keluarga karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengalami demensia, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

"Kalau kita tidak mulai dari sekarang, bagaimana menjaga keluarga, kisah dari keluarga, tantangan dan anak-anak," ujarnya.

Sekitar 45 persen kasus bisa dicegah

Di tengah meningkatnya jumlah lansia dan potensi kasus demensia, Dante mengatakan masih ada ruang untuk melakukan pencegahan.

"Namun ada fakta yang membuat kita punya harapan sekaligus kendali atas masa depan. Ini menunjukkan bahwa 45 persen dapat dicegah," kata Dante.

Menurutnya, upaya pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk menjaga aktivitas fisik dan pola makan serta mengendalikan sejumlah faktor risiko penyakit.

"Penjagaan perilaku dan pencegahan terbaik dari penyakit Alzheimer adalah investasi yang harus kita lakukan hari ini melalui aktivitas fisik, menjaga pola makan, mengendalikan tekanan darah, gula darah dan terus mengatur pola kemampuan kognitif kita sehari-hari," jelasnya.

Dante juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap perubahan fungsi kognitif, seperti pikun pada usia lanjut, sebagai sesuatu yang selalu wajar.

"Ini yang sering kita lupa. Selama ini menganggap pikun adalah wajar. Yang ada adalah jangan maklum dengan itu," kata Dante.

Pesan tersebut juga dirasakan secara langsung oleh Prof. Melani Budianta, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang baru saja pensiun sekaligus dementia advocate.

Ia membagikan pengalaman keluarganya ketika sang suami mulai menunjukkan perubahan yang kemudian mengarah pada diagnosis gangguan kognitif.

Awalnya dianggap lupa biasa

Melani mengatakan sebelumnya ia dan suaminya tidak pernah secara khusus memikirkan demensia. Keduanya masih aktif bekerja dan menjalani berbagai kegiatan.

Suaminya merupakan seorang jurnalis yang juga dikenal sangat hafal berbagai jenis tanaman beserta nama Latinnya. Karena sejak dulu memang kerap lupa meletakkan barang, perubahan yang terjadi pada awalnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius.

"Bagi saya, lupa-lupa kacamata, lupa handphone, selalu itu sudah puluhan tahun," kata Melani.

Perubahan mulai terasa ketika orang-orang terdekat menyadari suaminya tidak lagi seaktif sebelumnya, termasuk dalam berkomunikasi melalui WhatsApp. Kecurigaan semakin kuat ketika ia mulai keliru mengenali tanaman yang selama ini sangat dikenalnya.

"Suami saya sangat hafal tanaman, bahasa Latin. Lalu suatu ketika ada tanaman yang saya tahu, itu bukan aloe vera. Itu aloe vera," ceritanya.

Pemeriksaan kemudian dilakukan dan keluarga mulai mendapat gambaran mengenai kondisi kognitif yang dialami suaminya.

Mulai mengubah kebiasaan keluarga

Pengalaman tersebut membuat Melani dan keluarganya mulai lebih memperhatikan berbagai faktor risiko, mulai dari kesehatan metabolik, hidrasi, pola makan, aktivitas fisik hingga interaksi sosial.

"Kita harus mengurangi faktor risiko seperti yang disebutkan oleh teman-teman tadi. Kesehatan, metabolismenya, karena suami saya juga harus minum obat hipertensi, minum obat statin untuk mengurangi kolesterol, macam-macam," ujarnya.

Ia juga menyadari pentingnya hal-hal sederhana yang sebelumnya kerap diabaikan.

"Hidrasi itu tadi yang sangat saya abaikan. Makanan kadang-kadang kita masih sering makanan yang agak jorok gitu ya, goreng-gorengan dan sebagainya," kata Melani.

Dosen yang juga masih mengajar di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya itu menyebut perubahan dalam kehidupan sosial juga perlu diperhatikan. Suaminya mulai enggan mengikuti acara bersama teman-teman, sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu mereka sadari sebagai perubahan.

"Satu hal yang waktu itu kita kurang sadari, suami saya mulai kurang suka interaksi sosial. Kalau di acara teman-teman, 'Ah males,' dan ternyata itu ada di dalam berjalan-jalan juga yang menuju demensia," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat keluarga berusaha mempertahankan interaksi sosial yang nyaman sekaligus membangun rutinitas baru.

Keluarga ikut beradaptasi

Melani mengatakan menghadapi demensia bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga bagaimana keluarga beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Keluarga dapat membantu dengan memahami kondisi yang dialami, memberikan rasa aman dan nyaman, serta menghindari kesalahpahaman ketika kemampuan seseorang mulai berubah.

Rutinitas sederhana dapat dilakukan bersama, seperti membaca dengan suara keras, berolahraga, beribadah, menyanyi, menekuni kegiatan seni dan budaya, merawat hewan peliharaan, hingga berkumpul dengan orang-orang terdekat.

Stimulasi otak juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang disukai, seperti mempelajari hal baru, membuat catatan harian, atau mengerjakan teka-teki. Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga tetap penting untuk memantau kondisi kesehatan.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK