Dokter Sebut Rajin Bergerak Bisa Bantu Turunkan Risiko Demensia

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 13:00 WIB
Ilustrasi. Aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan risiko demensia dan Alzheimer. Begini cara kerjanya. (Foto: Getty Images/eyesfoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lupa meletakkan barang atau sesekali bingung sering dianggap wajar ketika seseorang memasuki usia lanjut. Padahal, perubahan fungsi kognitif tidak selalu merupakan bagian normal dari proses menua.

Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. A. Andi Kurniawan, mengatakan masyarakat perlu lebih peka ketika orang tua mulai sering lupa, mengalami perubahan orientasi, atau menunjukkan tanda-tanda pikun.

"Ketika kita melihat bapak-ibu kita mungkin lupa, mungkin (kita) sedikit bias orientasi, kalau kelihatan seperti pikun kita menganggap maklum. Oh, maklum, sudah tua," kata Andi dalam acara Bergerak Melawan Demensia yang diselenggarakan Alzheimer's Indonesia (ALZI) Jakarta, Rabu (30/9).

Menurut Andi, kebiasaan menganggap pikun sebagai sesuatu yang wajar perlu diubah. Terlebih, demensia menjadi persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi seiring bertambahnya populasi lansia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah rutin beraktivitas fisik. Andi mengatakan aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan risiko demensia.

"Kabar baiknya bahwa 40 persen kasus Alzheimer atau demensia itu bisa dicegah. Salah satu faktor risikonya adalah karena kurang aktivitas fisik," ujarnya.

Andi mengatakan orang yang rutin melakukan aktivitas fisik memiliki risiko demensia atau Alzheimer yang lebih rendah.

"Mereka yang rajin melakukan aktivitas fisik ternyata bisa menurunkan risiko demensia atau Alzheimer itu sampai 45 persen," katanya.

"Jadi salah satunya bisa saya sampaikan hari ini bahwa gerak atau bergerak atau berolahraga itu adalah investasi kita untuk mencegah di kemudian hari," lanjutnya.


Manfaat bergerak bagi otak

Andi menjelaskan aktivitas fisik dapat memberikan manfaat bagi otak melalui beberapa mekanisme. Pertama, olahraga merangsang produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel saraf.

"BDNF itu adalah pupuk otak kita. Jadi kalau misalnya otak itu adalah kebun, ketika kita bergerak kita itu memberi pupuk atau menyirami kebun itu. Kalau kita stop, kita cuma duduk aja, ya kebun kita enggak akan berkembang, bunganya enggak akan tumbuh," jelasnya.

Kedua, aktivitas fisik membantu meningkatkan aliran darah ke otak sehingga suplai oksigen tetap terjaga.

"Ketika kita bergerak, kita akan mengalirkan aliran darah ke otak. Jadi ketika kita bergerak, itu akan meningkatkan aliran darah kita ke otak dan di situlah mengantarkan oksigen. Jadi oksigenasi atau kardio buat otak sangat penting," katanya.

Selain itu, olahraga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Aktivitas fisik dapat membantu mencegah sejumlah kondisi seperti diabetes dan hipertensi yang merupakan faktor risiko demensia.

"Yang terakhir adalah dengan bergerak kita akan tercegah dari diabetes, hipertensi dan segala macamnya, yang merupakan faktor risiko dari demensia atau Alzheimer," ujarnya.

Andi juga menjelaskan aktivitas fisik berkaitan dengan proses lain yang mendukung kesehatan otak, termasuk neurogenesis, peningkatan aliran darah, membantu proses pembersihan amyloid beta, mengurangi peradangan, serta menjaga kesehatan pembuluh darah.

"Ketika kita memutuskan untuk bergerak secepat mungkin, sedini mungkin, atau kita berolahraga sedini mungkin, maka manfaat yang akan kita capai nanti itu akan semakin baik," katanya.


Berapa lama lansia berolahraga?

Jenis dan durasi aktivitas fisik, kata Andi, perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama bagi lansia yang sudah mengalami gangguan kognitif.

Untuk lansia yang masih sehat, ia merekomendasikan aktivitas fisik 150 menit per minggu yang dapat dilakukan secara fleksibel.

"Untuk lansia yang masih sehat rekomendasinya adalah 150 menit per minggu. Durasinya bisa fleksibel. Terus kemudian latihannya adalah aerobik dan kekuatan otot," kata Andi.

Latihan aerobik dapat berupa aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang. Sementara bagi orang yang sudah mengalami mild cognitive impairment (MCI), latihan dapat disesuaikan dengan kondisinya.

"Untuk orang tua kita atau kita yang sudah ada MCI, mungkin direkomendasikan cukup tiga sampai empat kali per minggu. Tetapi yang menarik di sini adalah durasi aktivitasnya itu bisa lebih dari 60 menit, karena ketika durasi yang panjang di situlah bisa merangsang BDNF," ujarnya.

"Untuk Alzheimer di sini direkomendasikan untuk bagaimana kita bisa mempertahankan kemandirian. Yang sudah Alzheimer ya, kita pilih dari yang kompleks menjadi yang lebih sederhana," tambahnya.

Andi menyarankan latihan aerobik dan penguatan otot karena keduanya memiliki manfaat yang berbeda.

Alzheimer, juga perlu dilakukan dengan memperhatikan keamanan. Sebelum berolahraga, keluarga atau caregiver perlu memastikan lansia sudah makan, mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, serta menggunakan kursi atau alat bantu yang kokoh jika diperlukan.

Lingkungan sekitar juga perlu dipastikan bebas dari benda yang dapat membuat lansia tersandung atau jatuh.

Andi mengingatkan aktivitas perlu dihentikan jika muncul tanda bahaya, seperti nyeri dada atau sesak napas. Keluarga juga perlu memperhatikan perubahan kondisi lansia saat berolahraga.

(anm/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK