Apa Itu Air Demineral dan Bisakah untuk Diminum?
Air minum tersedia dalam berbagai jenis, salah satunya air demineral yang sudah melalui proses penghilangan mineral terlarut. Tak sedikit yang bertanya, apa itu air demineral dan apakah air ini aman dikonsumsi setiap hari?
Proses pemurniannya memang membuat kandungan zat terlarut di dalam air menjadi sangat rendah. Namun, air yang sangat murni belum tentu cocok untuk diminum sehari-hari.
Lihat Juga : |
Apa itu air demineral?
Mengutip studi Frantisek Kozisek dari National Institute of Public Health di Republik Ceko, air demineral adalah air yang sebagian besar atau hampir seluruh mineral terlarutnya telah dihilangkan.
Mineral tersebut, antara lain kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Proses ini juga dapat mengurangi zat terlarut lain, sehingga jumlah total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) bisa sangat rendah.
Air demineral dapat dibuat dengan beberapa metode, seperti distilasi, deionisasi, filtrasi membran melalui osmosis balik (reverse osmosis atau RO), nanofiltrasi, dan elektrodialisis.
Metode yang digunakan biasanya disesuaikan dengan tujuan pemurnian dan tingkat kemurnian yang dibutuhkan.
Dalam kegiatan industri, distilasi dan deionisasi umum digunakan untuk menghasilkan air dengan kemurnian tinggi. Adapun sistem RO lebih sering dijumpai pada penggunaan komersial maupun rumah tangga.
Perlu diketahui, air demineral tidak selalu sama dengan air yang telah didisinfeksi. Proses penghilangan mineral saja tidak otomatis menjamin air bebas dari semua mikroorganisme atau kontaminan.
Kegunaan air demineral
Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini beberapa contoh pemanfaatan air demineral:
1. Industri energi dan manufaktur
Air dengan kadar mineral rendah dapat digunakan sebagai air umpan atau air tambahan pada ketel bertekanan tinggi. Mineral tertentu berpotensi meninggalkan kerak pada peralatan.
Inilah mengapa air demineral digunakan dalam sejumlah proses manufaktur, termasuk produksi elektronik.
2. Laboratorium
Di laboratorium, air demineral berfungsi sebagai pelarut atau bahan pengencer larutan kimia. Air jenis ini juga digunakan untuk membilas peralatan dan wadah agar sisa mineral tidak mengganggu hasil pengujian.
3. Industri makanan dan minuman
Air demineral dapat dimanfaatkan dalam proses tertentu dan untuk membersihkan peralatan atau wadah produksi.
Namun penggunaan air harus tetap mengikuti standar kebersihan dan keamanan pangan yang berlaku. Proses demineralisasi sendiri bukan jaminan bahan pangan bebas bakteri atau virus.
4. Industri farmasi dan kosmetik
Dalam pembuatan obat, air yang memenuhi spesifikasi dapat digunakan sebagai bahan baku atau pelarut. Industri kosmetik juga memakainya dalam formulasi produk seperti krim, losion, dan serum.
Apakah air demineral cocok untuk diminum?
Jawabannya bergantung pada sumber, proses pengolahan, pengujian, serta apakah air tersebut telah memenuhi standar air minum.
Air demineral yang belum mengalami remineralisasi memiliki kandungan mineral esensial yang sangat rendah. Itulah mengapa air seperti ini umumnya tidak dianggap sebagai pilihan ideal untuk menjadi satu-satunya sumber air minum dalam jangka panjang.
Air hasil desalinasi, misalnya, dapat ditambahkan kembali mineral tertentu setelah proses penghilangan garam. Namun, komposisinya tetap dapat berbeda-beda dan belum tentu menyediakan semua mineral dalam jumlah yang signifikan.
Meski demikian, meminum air tanpa mineral tidak serta-merta 'menguras' mineral dari tulang atau sel tubuh. Sebagian besar kebutuhan mineral umumnya dipenuhi melalui makanan, bukan air minum.
Jadi, fokuslah pada keamanan air, pola makan seimbang, dan petunjuk penggunaan dari produsen.
(rti)