Banjir Informasi Bikin Generasi Sekarang Lebih Overwhelmed?

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi. Overwhelmd gara-gara banjir informasi. (istockphoto/Jacob Wackerhausen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baru bangun tidur, buka ponsel, muncul berita perang. Geser sedikit, ada kabar pemutusan hubungan kerja (PHK). Berikutnya muncul berita bencana, konflik politik, isu kesehatan, lalu foto teman yang sedang liburan.

Belum selesai mencerna satu informasi, informasi lain sudah muncul di layar.

Situasi seperti ini mungkin terasa akrab bagi banyak orang yang hidup di era media sosial. Berbagai persoalan dari belahan dunia yang berbeda dapat masuk ke layar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Lantas, apakah generasi sekarang memang lebih mudah merasa overwhelmed atau kewalahan dibandingkan generasi sebelumnya?

Pengamat sosial budaya Devie Rahmawati mengatakan pertanyaan tersebut perlu dilihat secara hati-hati. Menurut dia, bukan berarti generasi sekarang otomatis menghadapi lebih banyak penderitaan dibandingkan generasi sebelumnya.

Setiap generasi memiliki persoalannya masing-masing, mulai dari perang, wabah, krisis ekonomi, konflik politik hingga bencana.

"Yang berbeda bukan keberadaan masalahnya, melainkan kecepatan, volume, kedekatan, dan kontinuitas paparannya," kata Devie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).

Generasi terdahulu juga menghadapi berbagai tragedi besar. Bedanya, mereka tidak mendapatkan pembaruan mengenai berbagai peristiwa tersebut setiap beberapa menit melalui satu perangkat yang selalu berada di dekat mereka.

"Sekarang seseorang dapat bangun tidur melihat perang, beberapa detik kemudian bencana, berikutnya PHK, kekerasan, krisis iklim, konflik politik, lalu di antara semuanya muncul foto teman sedang berlibur," ujar Devie.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat seseorang harus berpindah dari satu emosi ke emosi lain dalam waktu sangat singkat.

"Otak harus berpindah dari duka, ke marah, lalu takut, lucu, lalu belanja, dan duka lagi, hanya dalam beberapa menit," lanjutnya.

Perpindahan tersebut terjadi ketika konteks dari setiap informasi sebenarnya sangat berbeda. Ada kabar yang membutuhkan empati, ada yang memicu kemarahan, ada yang menghibur, sementara informasi lain justru dapat mendorong seseorang untuk berbelanja.

Bukan berarti generasi sekarang lebih lemah

Devie juga memaparkan studi Reuters Institute yang menunjukkan bahwa 40 persen responden di berbagai negara mengatakan mereka kadang atau sering menghindari berita. Angka tersebut meningkat dari 29 persen.

Kelompok yang disebut selective news avoiders juga muncul, yakni orang-orang yang sengaja mengurangi paparan berita pada waktu tertentu atau menghindari topik tertentu karena merasa menerima terlalu banyak informasi.

Kelompok anak muda juga lebih sering menyebut rasa tidak berdaya ketika menghadapi persoalan besar, kesulitan mengikuti berita, atau kekhawatiran terhadap perdebatan yang dianggap toksik.

Artinya, mengurangi paparan berita tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Bisa saja seseorang justru sedang berusaha mengatur seberapa banyak informasi yang sanggup diterimanya.

Menurut Devie, fenomena tersebut tidak seharusnya langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa generasi sekarang lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya. Masalahnya mungkin terletak pada lingkungan informasi yang telah berubah sangat drastis.

Notifikasi tidak hanya datang dari berita. Ada pesan pribadi, grup percakapan, media sosial, kalender, aplikasi olahraga, pekerjaan, hingga berbagai layanan digital lainnya. Reuters Institute juga mencatat konsumen dapat merasa kewalahan oleh kombinasi berbagai notifikasi dan aliran informasi tersebut.

"Bisa jadi kita sedang meminta otak manusia yang kapasitas biologisnya terbatas untuk hidup di dalam arus informasi yang tidak pernah tidur," kata Devie.

Dengan kondisi tersebut, rasa lelah terhadap informasi bukan sesuatu yang aneh. Seseorang bisa saja peduli terhadap perang, bencana, atau persoalan sosial, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk mengikuti seluruh perkembangannya setiap saat.

Setiap generasi punya krisisnya sendiri. Yang berubah adalah cara masalah datang kepada kita.

Jika dulu seseorang mungkin harus menunggu koran, televisi, atau kabar dari orang lain untuk mengetahui sebuah peristiwa, kini berbagai persoalan dunia dapat muncul di layar ponsel sepanjang hari.

Karena itu, mungkin yang dibutuhkan bukan terus-menerus mengikuti semuanya, melainkan belajar menentukan informasi mana yang perlu diketahui, mana yang perlu dipahami lebih dalam, dan kapan waktunya mengambil jeda.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK