Obat Ini Ternyata Efektif Bantu Berhenti Nge-vape, Kata Studi Baru
Tak sedikit orang mulai menggunakan vape dengan harapan bisa berhenti merokok, tetapi kemudian jadi sulit menghentikan kebiasaan vaping.
Ketergantungan nikotin bisa membuat keinginan untuk nge-vape muncul berulang kali. Kabar baiknya, obat yang biasa digunakan dalam terapi berhenti merokok berpotensi membantu sebagian orang berhenti vaping juga.
Obat tersebut, yakni varenicline. Berdasarkan sebuah uji klinis, obat ini memberikan hasil yang menjanjikan. Meski begitu, obat ini bukan solusi instan dan penggunaannya harus dengan resep dokter.
Hasil studi terbaru menjanjikan
Sebuah uji klinis oleh Eden Evins et al. di JAMA pada 2025 menunjukkan hasil menjanjikan. Varenicline itu sendiri merupakan obat yang digunakan dalam terapi berhenti merokok.
Studi ini melibatkan 261 peserta berusia 16-25 tahun. Mereka menerima varenicline disertai konseling, plasebo disertai konseling, atau dukungan biasa yang diperkuat. Peserta juga mendapat rujukan ke layanan dukungan melalui pesan teks.
Pada minggu ke-9 hingga ke-12, sekitar 51 persen peserta kelompok varenicline berhasil berhenti vaping secara terverifikasi. Angkanya lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo, yaitu 14 persen.
Hasil tersebut memberi harapan, tetapi tidak menjamin obat akan berhasil untuk semua orang. Perlu dicatat, peserta penelitian adalah anak muda yang tidak merokok secara rutin, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada kelompok usia atau kondisi kesehatan lain.
Selama studi berlangsung dilaporkan terdapat efek samping, yakni 86 persen di kelompok varenicline, 79 persen kelompok plasebo, dan 79 persen di kelompok dengan dukungan biasa yang diperkuat.
Sebagian kecil peserta menghentikan obat karena efek samping, tetapi tidak ditemukan efek samping serius yang dinilai terkait obat.
Hanya dua peserta kelompok varenicline dan 1 peserta kelompok plasebo yang menghentikan pengobatan karena efek samping. Meski demikian, tak ditemukan efek samping serius terkait obat ini.
Cara mengurangi vaping secara bertahap
Berhenti sekaligus bukan satu-satunya pendekatan. Bila siap mengurangi, buat rencana yang realistis. Kalau memungkinkan, diskusikan dengan dokter atau konselor untuk berhenti nge-vape. Beberapa langkah berikut bisa dicoba:
1. Kurangi kadar nikotin
Menurut laman NHS, kamu bisa memulai dengan mengurangi kadar nikotin dalam likuid secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Kalau kemudian jadi lebih sering vaping dari biasanya, bisa jadi itu pertanda kamu menguranginya terlalu cepat. Jadi, coba mulai kurangi hanya saat kamu siap.
2. Tingkatkan waktu antar sesi vaping
Kalau kamu biasanya vaping setiap 20 menit, coba untuk memperpanjang jarak waktu, misalnya jadi setiap 40 menit. Tambah terus jeda waktu di antaranya hingga keinginan kamu untuk nge-vape berkurang.
3. Tentukan lokasi bebas vape
Pilih tempat atau waktu tertentu kamu tidak akan melakukan vaping. Misalnya, di tempat kerja atau di dalam ruangan tertentu di rumah. Perluas area ini secara perlahan sampai kamu merasa lebih nyaman tanpa vape sama sekali.
4. Perhatikan gejala putus nikotin
Kamu bisa saja mengalami gejala putus nikotin, seperti gelisah, marah, sedih, atau kesulitan konsentrasi. Ini umum terjadi dan gejala akan membaik seiring waktu asal kamu konsisten mengurangi penggunaannya.
5. Buat rencana untuk mengatasi pemicu
Mengutip laman HSE, kamu perlu mengenali apa saja yang jadi pemicu vaping dan rencanakan cara untuk menghindarinya. Selain itu, buatlah jurnal penggunaan vape selama dua minggu. Ini bisa membantumu melihat pola kapan kamu menggunakan vape.
Jika kamu serius ingin berhenti, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional agar bisa membuat perencanaan matang sesuai kondisi diri.
(rti)