Benarkah Anak yang Sekolah Dini Lebih Cepat Pintar? Ini Kata Neurolog

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Anggapan menyebutkan, sekolah dini bikin anak lebih cepat pintar. (Istockphoto/ SeventyFour)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian orang tua menyekolahkan anak sejak usia 3 tahun agar lebih cepat mengenal huruf, angka, hingga membaca. Sebaliknya, ada kekhawatiran belajar terlalu dini justru membuat anak cepat bosan dan menurunnnya rasa ingin tahu.

Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak, Arifianto mengatakan, sekolah sejak usia dini tidak serta-merta berdampak buruk bagi anak. Hal terpenting adalah menyesuaikan metode belajar dengan tahap perkembangan dan minat anak.

"Jadi memang tidak bisa disimpulkan seperti itu [lebih pintar], tapi tidak berarti juga sekolah yang lebih dini akan menghasilkan dampak yang lebih buruk, enggak juga," kata Arifianto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/10).

Perkembangan otak anak usia 3-4 tahun

Menurut Arifianto, perkembangan anak dapat dipantau melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang memuat tahapan kemampuan sejak lahir hingga usia 5 tahun. Meski perkembangan otak berlangsung pesat, anak usia 3-4 tahun belum tentu siap mengikuti pembelajaran terstruktur seperti anak sekolah dasar.

Salah satu bagian otak yang masih berkembang adalah korteks prefrontal, yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan kemampuan mempertahankan perhatian. Karena itu, anak belum ideal jika dituntut duduk diam dan berkonsentrasi dalam waktu lama.

"Karena korteks prefrontal ini adalah yang mengatur seperti membuat keputusan dan juga meregulasi emosi. Maksudnya tadi, dalam mempertahankan fokus dalam menerima pelajaran tertentu. Kalau pendekatannya masih belum berkembang dengan baik, tentu pembelajaran yang membuat anak harus fokus sampai sekian jam, mungkin lebih dari 15 menit, itu tidak ideal," ujarnya.

Arifianto menyarankan pembelajaran berbasis bermain atau play-based learning, yakni kegiatan belajar melalui permainan, aktivitas fisik, dan aktivitas singkat yang bervariasi.

"Bentuknya itu adalah kegiatan beragam, melibatkan kegiatan fisik, dan dalam satu kegiatan itu tidak membutuhkan waktu yang lama, misalnya maksimal 15 menit atau 20 menit. Berarti dia bergantian lagi dengan kegiatan lainnya," kata Arifianto.

Benarkah sekolah terlalu dini bisa memperlambat otak?

Selain anggapan membuat anak lebih cepat pintar, ada juga anggapan lainnya yang menyebut sekolah sejak usia 3 tahun dapat memperlambat perkembangan otak. Namun, Arifianto mengatakan, hal itu juga kurang tepat jika disimpulkan secara umum.

Arifianto menjelaskan, interaksi dan stimulasi membantu membentuk hubungan antarsel saraf di otak. Proses ini dikenal sebagai synaptogenesis.

"Justru setiap bentuk interaksi yang dialami sepanjang waktu itu membentuk yang namanya synaptogenesis, atau membentuk jalinan antarsel saraf otak, yang jumlahnya itu bisa mencapai triliunan dan itu terus bertambah dengan stimulasi yang diberikan pada anak usia 3 tahun tersebut," jelasnya.

Menurut dia, yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian metode belajar dengan kemampuan anak, termasuk durasi konsentrasinya.

Sebagai gambaran, Arifianto menyebut, patokan sekitar 2-3 menit konsentrasi untuk setiap tahun usia anak. Dengan demikian, anak usia 3 tahun diperkirakan mampu fokus sekitar 6-9 menit, sedangkan anak usia 4 tahun sekitar 8-12 menit. Angka tersebut bukan batas mutlak karena minat anak juga memengaruhi kemampuan mempertahankan perhatian.

"Jadi kalau misalnya hal itu tidak membuat dia tertarik, ya otaknya tidak melambat, cuma jadinya anaknya tidak akan fokus juga," sebutnya.

Selain durasi belajar, waktu tidur juga perlu diperhatikan. Arifianto menyebut anak usia 3-4 tahun membutuhkan sekitar 9-11 jam tidur per hari.

Anak yang sekolah lebih dini belum tentu lebih pintar

Lalu, apakah anak yang mulai sekolah sejak usia 3 tahun akan lebih unggul dibandingkan anak yang baru masuk pada usia 4-5 tahun?

Arifianto mengatakan, hal itu tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan usia masuk sekolah. Setiap anak memiliki minat, kemampuan, dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Sebagian anak mungkin sudah tertarik mengenal alfabet, angka, bahkan belajar membaca. Akan tetapi, tidak semua anak memiliki ketertarikan yang sama.

"Artinya, silakan lebih cepat belajar, tapi tadi bentuknya itu harus tepat, bentuk yang melibatkan aktivitas fisik," katanya.

Ilustrasi. Anggapan menyebutkan, sekolah dini bikin anak lebih cepat pintar. (iStockphoto)

Ia menambahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia 3-4 tahun melakukan aktivitas fisik setidaknya 180 menit atau tiga jam sepanjang hari, termasuk sebagian aktivitas dengan intensitas sedang hingga berat.

Karena itu, kegiatan belajar sebaiknya tidak membuat anak terlalu lama duduk diam. Bermain, bergerak, dan berinteraksi dengan orang lain tetap perlu menjadi bagian dari keseharian mereka.

Arifianto juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah serta kegiatan yang sesuai dengan minat anak. Anak tidak seharusnya hanya menerima informasi secara pasif melalui layar gawai.

Maka dari itu, orang tua tidak perlu terburu-buru mengejar kemampuan akademis hanya karena anak lain seusianya sudah bisa membaca atau berhitung. Hal terpenting adalah memastikan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan anak, tetap memberi ruang untuk bermain dan bergerak, serta mendukung interaksi yang sehat.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK