Studi Ungkap 7 dari 10 Siswa SD di Jakarta Alami Masalah Kognitif

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 11:15 WIB
Ilustrasi. Studi dari Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 1.007 responden menemukan, 7 dari 10 siswa SD di Jakarta mengalami masalah kognitif. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia Health Development Center (IHDC) merilis hasil studi terkait beban kognitif anak sekolah dasar di Jakarta. Hasilnya, sebanyak 68,5 persen atau 7 dari 10 responden memiliki masalah kognitif.

Studi ini dilakukan terhadap 1.007 siswa kelas 4, 5, dan 6 di sejumlah SD negeri di Jakarta.

Melansir detikhealth, dalam penelitian ini, fungsi kognitif tak cuma diukur dari nilai rapor atau tes IQ. Lebih dari itu, fungsi kognitif mencakup kemampuan siswa dalam memusatkan perhatian, mengingat informasi, mengolah materi pelajaran, hingga berinteraksi dengan teman sebaya.

Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Peneliti, Ray Wagio Basrowi menjelaskan, studi ini memotret kondisi riil anak perkotaan melalui metode potong lintang (cross-sectional).

Dalam studi ini, tim mengidentifikasi empat beban utama yang menghambat performa kognitif anak. Di antaranya adalah gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, minimnya asupan protein dan energi, serta masalah mental.

Hasil pengukuran klinis memperlihatkan sebanyak 30 persen siswa mengalami gangguan refraksi pada mata. Analisis menunjukkan, kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi berisiko mengalami gangguan kognitif harian 3,1 kali lebih besar daripada anak tanpa risiko.

Ditemukan juga risiko kecemasan tinggi yang berkorelasi dengan peningkatan gangguan kognitif harian sebesar 3,3 kali.

Sementara dari sisi gizi, ditemukan masih tingginya hambatan terkait kecukupan asupan zat besi dan protein harian anak.

"Anak yang sulit fokus perlu diperiksa kesehatannya, bukan buru-buru dicap malas. Kesulitan melihat papan tulis atau kecemasan yang tidak tertangani berhubungan langsung dengan kesulitan belajar harian," jelas Ray di Jakarta Pusat, Senin (19/10).

Atas temuan ini, IHDC mendorong intervensi konkret yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Pertama, penyelenggaraan skrining mata di sekolah yang terintegrasi dengan pemberian kacamata gratis.

Kedua, jalur rujukan psikologis dan pendampingan emosional di sekolah demi menciptakan lingkungan belajar yang aman.

(asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK