Wisata Raja Ampat Terdampak Karhutla, Homestay Sepi Selama Sebulan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Dayan Bonder, Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, berdampak pada aktivitas pariwisata, pertanian, hingga ketersediaan air bersih warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 7,2 hektare pada awal September 2026. Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 2 September lalu sekitar pukul 03.00 WIT, sebelum api kembali muncul di sejumlah titik pada akhir bulan yang sama.
Dampak kebakaran turut dirasakan pelaku usaha pariwisata setempat. Pemilik Batanta Paradise Homestay, Ketsya Kolomsusu, mengatakan wisatawan membatalkan kunjungan setelah mengetahui kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut.
"Untuk aktivitas wisata di laut memang tidak terganggu dengan asap kebakaran. Tapi, untuk tamu di homestay sudah tidak ada lagi selama satu bulan ini," kata Ketsya, dikutip dari Antara, Kamis (15/10).
Ia berharap wisatawan kembali berkunjung agar usaha penginapan keluarganya dapat terus berjalan. "Kami sangat butuh tamu," tambahnya.
BPBD Papua Barat Daya tiba di Pulau Dayan dua hari setelah kebakaran terdeteksi dan melakukan penanganan selama 14 hari. Warga setempat, termasuk pemilik homestay, turut membantu upaya pemadaman.
Kebakaran tersebut mengancam ekosistem Pulau Dayan yang menjadi bagian dari ekosistem pendukung Hutan Lindung Pulau Batanta. Kawasan ini merupakan habitat berbagai satwa dan tumbuhan, termasuk kakatua raja, kuskus, matoa, dan kayu besi.
Selain sektor pariwisata, kebakaran, dan kemarau berkepanjangan juga menyulitkan warga memperoleh air bersih.
Sumur milik keluarga Ketsya berubah menjadi asin sehingga air untuk memasak harus diambil dari mata air di pulau seberang. Kondisi serupa dilaporkan dialami warga di Batanta Utara dan Batanta Selatan.
Koordinator Wilayah Pulau Batanta, Wilhemus Mayor, mengatakan kondisi tersebut tidak biasa terjadi di wilayahnya. "Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Hampir enam bulan, hujan baru turun sekali," kata Wilhemus.
Dampak kekeringan juga dirasakan petani di Kampung Wailebet, Distrik Batanta Selatan. Tanaman kakao milik warga mengalami kerusakan buah dan daun menguning.
Sementara itu, BMKG memperkirakan fenomena El Niño berlangsung hingga awal 2027 dan berpotensi memundurkan awal musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
(dsd/wiw)