Jejak Jalur Trem Batavia, Merunut Transportasi Jakarta Dulu dan Kini
CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 08:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pemandangan ketika merasakan pengalaman mengikuti walking tour Rute Jakarta Transportation Story, Kamis (22/10). (CNN Indonesia/Dena Sari Dewi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kota Jakarta punya sejarah panjang dalam perkembangan transportasi. Dari aktivitas pelabuhan Sunda Kelapa pada masa Batavia hingga kehadiran Mass Rapid Transit (MRT), berbagai moda transportasi telah menjadi bagian dari perjalanan kota ini.
Lewat program Free Walking Tour Kota Tua yang diselenggarakan oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, masyarakat menjadi punya salah satu cara mengenal sejarah transportasi Jakarta.
Bagi yang ingin menelusuri perkembangan transportasi di Jakarta, tersedia rute Jakarta Transportasi Story. Tur ini dijadwalkan berlangsung setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. Informasi jadwal lengkap dapat dilihat melalui situs Free Guide Walking Tour 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim CNNIndonesia.com mengikuti kegiatan Free Walking Tour Kota Tua pada Kamis (22/10). Perjalanan dipandu oleh Siti Nur Liani, tenaga ahli pemandu wisata Unit Pengelola Kawasan Kota Tua.
Peserta berkumpul di Tourist Information Center Kota Tua pada pukul 15.00 WIB sebelum menyusuri sejumlah titik bersejarah yang menyimpan cerita tentang perkembangan transportasi di ibu kota.
Perjalanan dimulai dari Monumen Jalur Trem. Di titik ini, peserta diajak mengenal trem yang pernah menjadi salah satu moda transportasi penting di Batavia.
Trem mulai beroperasi di Batavia pada 1869 dengan menggunakan tenaga kuda Sandelwood yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Seiring perkembangan teknologi, trem kuda kemudian digantikan oleh trem uap dan trem listrik.
"Trem kuda kemudian digantikan ke trem uap karena kuda adalah makhluk hidup yang melakukan ekskresi, jadi dinilai mengotori kota. Baru kemudian dibuat terobosan untuk trem uap pada 1883," jelas Liani.
Kehadiran trem membantu mobilitas penduduk sekaligus menghubungkan kawasan perdagangan di Batavia. Namun, moda transportasi ini akhirnya berhenti beroperasi pada era 1960-an.
Dari monumen, peserta melintasi Halte Kali Besar sebelum menuju kawasan kanal. Kali Besar dahulu menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan Batavia karena terhubung dengan kawasan pelabuhan dan mendukung pergerakan barang.
"Dulunya kanal adalah sungai alami Ciliwung yang berkelok-kelok, kemudian diluruskan oleh Belanda menjadi seperti kanal yang ada di Amsterdam," kata Liani.
Kawasan ini memperlihatkan bagaimana pengelolaan aliran air turut berkaitan dengan perkembangan kota dan aktivitas perdagangan pada masa kolonial.
Dari TransJakarta hingga sisa Rel Trem
Perjalanan kemudian berlanjut ke area pemberhentian TransJakarta. Berbeda dari trem yang pernah melintasi Batavia, TransJakarta merupakan sistem transportasi berbasis bus yang mengandalkan jalur khusus atau Bus Rapid Transit (BRT).
TransJakarta mulai beroperasi pada 2004. Gagasan pengembangannya telah direncanakan sejak 2001, pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Sistem ini terinspirasi oleh TransMilenio, layanan BRT yang dikembangkan di Bogotá, Kolombia.
Dari sana, peserta melanjutkan perjalanan melewati bangunan bekas bank multinasional di kawasan Kota Tua. Deretan bangunan bersejarah di kawasan ini menjadi saksi aktivitas perusahaan perdagangan dan perbankan internasional pada masa lalu.
Tak jauh dari lokasi tersebut, peserta juga dapat melihat sisa rel trem di dekat Bank Indonesia. Rel ini menjadi salah satu jejak fisik keberadaan trem yang dahulu menjadi bagian dari sistem transportasi perkotaan Batavia.
Salah satu titik penting dalam tur ini adalah Stasiun Jakarta Kota, yang juga dikenal dengan nama Stasiun Beos.
Sebelum stasiun yang sekarang berdiri, kawasan tersebut memiliki dua stasiun yang melayani jaringan kereta berbeda. Untuk menyatukan pelayanan, dibangun stasiun baru yang dirancang oleh arsitek Belanda Frans Johan Louwrens Ghijsels melalui biro arsitektur Algemeen Ingenieurs- en Architectenbureau (AIA).
"Frans adalah salah satu arsitek terkenal di Belanda, dan ternyata ia lahir di Tulungagung," ujar Liani.
Pembangunan stasiun dimulai pada 1914 dan bangunan tersebut diresmikan pada 8 Oktober 1929. Hingga kini, Stasiun Jakarta Kota masih beroperasi dan menjadi salah satu simpul transportasi penting di ibu kota.
Di kawasan stasiun, peserta juga mendapat penjelasan mengenai sejarah becak dan bajaj, dua kendaraan yang pernah menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Jakarta. Liani menjelaskan, sejarah becak berkaitan dengan kendaraan roda tiga yang dikenal sebagai jinrikisha atau becak tarik di Jepang.
"Becak awalnya berasal dari misionaris Amerika Serikat yang tinggal di Jepang. Ia kemudian merancang kendaraan untuk bisa membawa istrinya yang saat itu berkebutuhan khusus. Lalu ia membuat kendaraan seperti gerobak yang bisa ditarik dengan tenaganya sendiri," kata Liani.
Kendaraan tersebut kemudian dikenal dengan nama jinrikisha. Hingga kini, kendaraan sejenis masih dapat dijumpai di Jepang, termasuk sebagai salah satu atraksi wisata.
Di Jakarta, becak mulai dikenal pada 1930. Kendaraan ini disebut dikembangkan oleh seorang pemilik toko sepeda di Makassar bernama Seiko-san, yang memanfaatkan sepeda lama dan memodifikasinya menjadi kendaraan roda tiga.
Sementara itu, bajaj mulai masuk ke Jakarta pada 1975 sebagai salah satu alternatif kendaraan untuk mendukung mobilitas warga. Namanya berasal dari Bajaj Auto, perusahaan otomotif asal India yang memproduksi kendaraan roda tiga tersebut.
Perkembangan Transportasi Modern
Rangkaian tur ditutup dengan memasuki bagian dalam Stasiun Jakarta Kota. Di area ini, peserta dapat melihat galeri MRT yang menyajikan informasi mengenai perkembangan transportasi modern di Jakarta.
Galeri tersebut juga menampilkan temuan arkeologi dari proyek pembangunan MRT Jakarta. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan mobilitas masa kini, tetapi juga bersinggungan dengan upaya mengenali dan menjaga peninggalan sejarah.
Melalui rute Jakarta Transportasi Story, peserta diajak melihat perubahan moda transportasi dari masa ke masa. Mulai dari trem yang melintasi Batavia, kereta api yang menghubungkan berbagai wilayah, hingga bus dan MRT yang menjadi bagian dari sistem transportasi modern Jakarta.
Tur berjalan kaki ini menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah ibu kota melalui bangunan, jalur transportasi, dan berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai di kawasan Kota Tua.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kota Jakarta punya sejarah panjang dalam perkembangan transportasi. Dari aktivitas pelabuhan Sunda Kelapa pada masa Batavia hingga kehadiran Mass Rapid Transit (MRT), berbagai moda transportasi telah menjadi bagian dari perjalanan kota ini.
Lewat program Free Walking Tour Kota Tua yang diselenggarakan oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, masyarakat menjadi punya salah satu cara mengenal sejarah transportasi Jakarta.
Bagi yang ingin menelusuri perkembangan transportasi di Jakarta, tersedia rute Jakarta Transportasi Story. Tur ini dijadwalkan berlangsung setiap Selasa, Kamis, dan Jumat. Informasi jadwal lengkap dapat dilihat melalui situs Free Guide Walking Tour 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim CNNIndonesia.com mengikuti kegiatan Free Walking Tour Kota Tua pada Kamis (22/10). Perjalanan dipandu oleh Siti Nur Liani, tenaga ahli pemandu wisata Unit Pengelola Kawasan Kota Tua.
Peserta berkumpul di Tourist Information Center Kota Tua pada pukul 15.00 WIB sebelum menyusuri sejumlah titik bersejarah yang menyimpan cerita tentang perkembangan transportasi di ibu kota.
Perjalanan dimulai dari Monumen Jalur Trem. Di titik ini, peserta diajak mengenal trem yang pernah menjadi salah satu moda transportasi penting di Batavia.
Trem mulai beroperasi di Batavia pada 1869 dengan menggunakan tenaga kuda Sandelwood yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Seiring perkembangan teknologi, trem kuda kemudian digantikan oleh trem uap dan trem listrik.
"Trem kuda kemudian digantikan ke trem uap karena kuda adalah makhluk hidup yang melakukan ekskresi, jadi dinilai mengotori kota. Baru kemudian dibuat terobosan untuk trem uap pada 1883," jelas Liani.
Kehadiran trem membantu mobilitas penduduk sekaligus menghubungkan kawasan perdagangan di Batavia. Namun, moda transportasi ini akhirnya berhenti beroperasi pada era 1960-an.
Dari monumen, peserta melintasi Halte Kali Besar sebelum menuju kawasan kanal. Kali Besar dahulu menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan Batavia karena terhubung dengan kawasan pelabuhan dan mendukung pergerakan barang.
"Dulunya kanal adalah sungai alami Ciliwung yang berkelok-kelok, kemudian diluruskan oleh Belanda menjadi seperti kanal yang ada di Amsterdam," kata Liani.
Kawasan ini memperlihatkan bagaimana pengelolaan aliran air turut berkaitan dengan perkembangan kota dan aktivitas perdagangan pada masa kolonial.
Dari TransJakarta hingga sisa Rel Trem
Perjalanan kemudian berlanjut ke area pemberhentian TransJakarta. Berbeda dari trem yang pernah melintasi Batavia, TransJakarta merupakan sistem transportasi berbasis bus yang mengandalkan jalur khusus atau Bus Rapid Transit (BRT).
TransJakarta mulai beroperasi pada 2004. Gagasan pengembangannya telah direncanakan sejak 2001, pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Sistem ini terinspirasi oleh TransMilenio, layanan BRT yang dikembangkan di Bogotá, Kolombia.
Dari sana, peserta melanjutkan perjalanan melewati bangunan bekas bank multinasional di kawasan Kota Tua. Deretan bangunan bersejarah di kawasan ini menjadi saksi aktivitas perusahaan perdagangan dan perbankan internasional pada masa lalu.
Tak jauh dari lokasi tersebut, peserta juga dapat melihat sisa rel trem di dekat Bank Indonesia. Rel ini menjadi salah satu jejak fisik keberadaan trem yang dahulu menjadi bagian dari sistem transportasi perkotaan Batavia.
Mengenal Sejarah Stasiun Jakarta Kota
Seorang tourist guide memandu free walking tour Rute Jakarta Transportation Story, Kamis (22/10). (CNN Indonesia/Dena Sari Dewi)
Salah satu titik penting dalam tur ini adalah Stasiun Jakarta Kota, yang juga dikenal dengan nama Stasiun Beos.
Sebelum stasiun yang sekarang berdiri, kawasan tersebut memiliki dua stasiun yang melayani jaringan kereta berbeda. Untuk menyatukan pelayanan, dibangun stasiun baru yang dirancang oleh arsitek Belanda Frans Johan Louwrens Ghijsels melalui biro arsitektur Algemeen Ingenieurs- en Architectenbureau (AIA).
"Frans adalah salah satu arsitek terkenal di Belanda, dan ternyata ia lahir di Tulungagung," ujar Liani.
Pembangunan stasiun dimulai pada 1914 dan bangunan tersebut diresmikan pada 8 Oktober 1929. Hingga kini, Stasiun Jakarta Kota masih beroperasi dan menjadi salah satu simpul transportasi penting di ibu kota.
Di kawasan stasiun, peserta juga mendapat penjelasan mengenai sejarah becak dan bajaj, dua kendaraan yang pernah menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Jakarta. Liani menjelaskan, sejarah becak berkaitan dengan kendaraan roda tiga yang dikenal sebagai jinrikisha atau becak tarik di Jepang.
"Becak awalnya berasal dari misionaris Amerika Serikat yang tinggal di Jepang. Ia kemudian merancang kendaraan untuk bisa membawa istrinya yang saat itu berkebutuhan khusus. Lalu ia membuat kendaraan seperti gerobak yang bisa ditarik dengan tenaganya sendiri," kata Liani.
Kendaraan tersebut kemudian dikenal dengan nama jinrikisha. Hingga kini, kendaraan sejenis masih dapat dijumpai di Jepang, termasuk sebagai salah satu atraksi wisata.
Di Jakarta, becak mulai dikenal pada 1930. Kendaraan ini disebut dikembangkan oleh seorang pemilik toko sepeda di Makassar bernama Seiko-san, yang memanfaatkan sepeda lama dan memodifikasinya menjadi kendaraan roda tiga.
Sementara itu, bajaj mulai masuk ke Jakarta pada 1975 sebagai salah satu alternatif kendaraan untuk mendukung mobilitas warga. Namanya berasal dari Bajaj Auto, perusahaan otomotif asal India yang memproduksi kendaraan roda tiga tersebut.
Perkembangan Transportasi Modern
Rangkaian tur ditutup dengan memasuki bagian dalam Stasiun Jakarta Kota. Di area ini, peserta dapat melihat galeri MRT yang menyajikan informasi mengenai perkembangan transportasi modern di Jakarta.
Galeri tersebut juga menampilkan temuan arkeologi dari proyek pembangunan MRT Jakarta. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan mobilitas masa kini, tetapi juga bersinggungan dengan upaya mengenali dan menjaga peninggalan sejarah.
Melalui rute Jakarta Transportasi Story, peserta diajak melihat perubahan moda transportasi dari masa ke masa. Mulai dari trem yang melintasi Batavia, kereta api yang menghubungkan berbagai wilayah, hingga bus dan MRT yang menjadi bagian dari sistem transportasi modern Jakarta.
Tur berjalan kaki ini menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah ibu kota melalui bangunan, jalur transportasi, dan berbagai peninggalan yang masih dapat dijumpai di kawasan Kota Tua.