Mengapa Sensasi Takut Justru Dicari Penggemar Horor?

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 02:30 WIB
Ilustrasi. Ternyata ini alasan orang suka nonton horror. (iStockphoto/Mladen_Kostic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada orang yang menutup mata sepanjang film horor. Namun, ada pula yang sengaja datang ke rumah hantu, menonton film paling menyeramkan, bahkan merasa kurang puas jika tidak dibuat terkejut.

Bagi sebagian orang, rasa takut merupakan sesuatu yang harus dihindari. Namun, bagi penggemar horor, sensasi jantung berdebar, teriakan mendadak, hingga suasana mencekam justru menjadi bagian yang dicari.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal keberanian. Dalam psikologi, pengalaman menakutkan yang sengaja dicari untuk mendapatkan kesenangan dikenal sebagai recreational fear atau rasa takut rekreasional.

Salah satu penelitian yang membahas fenomena ini adalah Playing With Fear: A Field Study in Recreational Horror yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science. Alih-alih hanya meminta peserta menilai kesukaan mereka terhadap horor, peneliti mengamati pengalaman tersebut secara langsung melalui sebuah wahana rumah hantu.

Selama menjelajahi rumah hantu, peserta mengenakan alat pemantau detak jantung. Peneliti juga mengukur tingkat ketakutan dan kesenangan yang dilaporkan peserta ketika menghadapi berbagai kejutan.

Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara rasa takut dan kesenangan menyerupai kurva U terbalik. Artinya, kesenangan cenderung meningkat seiring bertambahnya rasa takut hingga mencapai titik tertentu. Namun, ketika ketakutan sudah terlalu tinggi, tingkat kesenangan justru menurun.

Ketika rasa takut masih berada pada tingkat yang bisa dinikmati, kejutan dan ketegangan dapat terasa seru. Sebaliknya, jika rasa takut terlalu rendah, pengalaman mungkin terasa membosankan. Sementara itu, ketakutan yang berlebihan justru bisa membuat seseorang merasa kewalahan.

Peneliti juga menemukan adanya hubungan antara perubahan detak jantung dan pengalaman emosional peserta. Perubahan detak jantung yang lebih besar berkaitan dengan tingkat ketakutan, sedangkan pola perubahan dalam skala yang lebih kecil berkaitan dengan kesenangan yang membentuk kurva U terbalik.

Datang atas kemauan sendiri, lebih menikmati horor?

Alasan seseorang mengunjungi rumah hantu juga tampaknya memengaruhi pengalaman mereka. Dalam penelitian yang sama, sebanyak 56,5 persen peserta mengaku datang atas keinginan sendiri. Sementara itu, 43,5 persen lainnya datang karena ajakan teman, rekan kerja, atau keluarga.

Secara keseluruhan, peserta melaporkan tingkat kesenangan rata-rata 6,95 dari skala sembilan. Adapun tingkat ketakutan rata-rata berada di angka 5,71 dari sembilan.

Peneliti juga menemukan bahwa peserta yang datang atas kemauan sendiri melaporkan tingkat kesenangan lebih tinggi dibandingkan mereka yang datang karena dorongan orang lain.

Temuan ini mengisyaratkan bahwa pilihan pribadi dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menikmati pengalaman menakutkan. Ada perbedaan antara sengaja mencari sensasi horor dan terpaksa menghadapinya karena mengikuti orang lain.

Sensasi, karakter pribadi, hingga akhir cerita ikut berperan

Kesukaan terhadap horor juga tidak bisa dilepaskan dari karakteristik masing-masing individu.

Jurnal Frontiers in Psychology merangkum sejumlah penelitian terdahulu mengenai respons psikologis terhadap film horor. Salah satu konsep yang dibahas adalah sensation-seeking, yakni kecenderungan seseorang untuk mencari pengalaman baru, kompleks, dan intens.

Orang dengan kecenderungan tersebut mungkin lebih tertarik pada sensasi yang muncul ketika menonton film horor atau menghadapi kejutan. Bagi mereka, ketegangan dan pengalaman emosional yang intens justru menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, kesukaan terhadap horor tidak bisa dijelaskan hanya melalui kecenderungan mencari sensasi. Respons setiap orang juga dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap rasa takut, tingkat kecemasan, empati, hingga jenis adegan yang ditonton.

Seseorang mungkin menikmati cerita misteri dengan suasana mencekam, tetapi tidak nyaman melihat adegan kekerasan atau penyiksaan. Ada pula orang yang menyukai kejutan mendadak, tetapi kurang tertarik pada cerita horor yang terlalu realistis.

Dengan kata lain, menyukai film horor tidak berarti seseorang menikmati semua bentuk ketakutan. Jenis cerita dan adegan tertentu bisa memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap penonton.

Jadi, mengapa rasa takut bisa terasa menyenangkan?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa sebagian orang justru menikmati pengalaman menakutkan.

Pertama, ketegangan bisa terasa menyenangkan selama intensitasnya masih berada dalam batas yang dapat dinikmati. Rasa takut dan kesenangan tidak selalu meningkat bersama-sama. Ada titik ketika ketegangan terasa seru, tetapi setelah melewati batas tertentu, pengalaman tersebut justru menjadi tidak menyenangkan.

Kedua, alasan seseorang mencari pengalaman horor juga beragam. Ada yang ingin menikmati sensasi, menguji keberanian, atau sekadar mencari hiburan bersama teman. Pilihan pribadi bahkan berkaitan dengan tingkat kesenangan yang dilaporkan peserta dalam penelitian rumah hantu.

Ketiga, respons terhadap horor dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kecenderungan mencari sensasi, karakteristik individu, jenis adegan, hingga penyelesaian cerita.

Karena itu, menyukai film horor tidak otomatis berarti seseorang lebih berani atau memiliki kepribadian tertentu. Bagi sebagian orang, rasa takut justru bisa menjadi pengalaman menyenangkan selama mereka masih merasa mampu mengendalikan situasi.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK