Situationship, Hubungan Tanpa Status yang Makin Diminati Anak Muda

CNN Indonesia
Minggu, 01 Nov 2026 06:50 WIB
Ilustrasi. Situationship menjadi pilihan sebagian anak muda untuk menjalin kedekatan tanpa komitmen. (iStock/Irina Gutyryak)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika dua orang saling tertarik, biasanya ada beberapa tahap yang dilewati sebelum hubungan mereka resmi disebut pacaran. Mulai dari perkenalan, pendekatan atau PDKT, hingga momen salah satu menyatakan perasaan. Ada semacam kesepakatan yang menandai bahwa keduanya ingin membawa hubungan ke arah yang lebih serius.

Belakangan, proses pendekatan seperti itu tidak lagi selalu terjadi. Dua orang bisa dekat, rutin bertukar kabar, pergi bersama, bahkan saling menunjukkan perhatian seperti pasangan, tanpa pernah benar-benar membicarakan status hubungan.

Pola hubungan ini dikenal sebagai situationship atau hubungan tanpa status (HTS). Hubungan yang berada di antara pertemanan dan pacaran ini memungkinkan dua orang menikmati kedekatan emosional maupun fisik tanpa harus menyematkan label sebagai pasangan.

Mawar (21) (bukan nama sebenarnya), misalnya. Perempuan yang baru lulus kuliah ini sudah menjalani hubungan tanpa status selama kurang lebih delapan bulan. Baginya, HTS memberikan ruang untuk menikmati kedekatan tanpa merasa harus memenuhi tuntutan seperti dalam hubungan pacaran.

"Ya udah saja sih, kayak enggak terlalu banyak tuntutan. Kan enggak ada tanggung jawab juga," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/10).

Saat ditanya alasan memilih hubungan tersebut, Mawar mengaku belum ingin menjalani hubungan yang terlalu serius, apalagi memikirkan pernikahan. Meski tidak memiliki status resmi, ia dan orang yang dekat dengannya tetap berusaha menjaga satu sama lain.

"Enggak mau yang serius-serius juga, belum mikirin mau nikah juga," katanya.

Ia bahkan pernah membicarakan status hubungan tersebut dengan orang yang sedang dekat dengannya.

"Pernah dibahas juga sih statusnya mau apa, tapi sejauh ini sama-sama aja, kayak hubungan pacaranku sebelumnya, cuman yang ini enggak official saja," lanjutnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Bobi (23). Ia mengaku belum merasa siap untuk berkomitmen dalam hubungan jangka panjang, tetapi juga tidak ingin terus-menerus merasa kesepian.

"Iya, sebenarnya enggak siap untuk komitmen panjang, tapi agaknya enggak mau kesepian juga," cerita Bobi sambil tertawa kecil.

Bobi mengaku masih nyaman menjalani hubungan tanpa status dan belum terpikir untuk mengubahnya menjadi hubungan pacaran.

"Untuk sekarang sih masih nyaman gini-gini aja," katanya.

Lantas, mengapa sebagian anak muda memilih kedekatan tanpa komitmen? Apakah mereka memang tidak ingin terikat atau justru sedang berusaha melindungi diri dari risiko terluka?

Bukan hal baru, tetapi pilihannya semakin banyak

Dating and relationship coach Kei Savori mengatakan hubungan tanpa status sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Pada generasi sebelumnya, pola serupa sudah dikenal melalui istilah teman tapi mesra (TTM).

Menurut Kei, perbedaannya terletak pada skala dan kemudahan seseorang membangun kedekatan dengan banyak orang sekaligus. Kehadiran media sosial dan aplikasi kencan membuat pilihan untuk berkenalan semakin terbuka.

"Jadi perginya sama si A, tapi chatting-annya sama si B di Instagram. Terus juga bisa video call-annya sama si C sebelum tidur," kata Kei saat diwawancarai pada Senin (26/10).

Jika dulu seseorang mungkin hanya dekat dengan satu atau dua orang, sekarang interaksi bisa berlangsung dengan beberapa orang dalam waktu bersamaan. Seseorang bisa bertemu satu orang, bertukar pesan dengan orang lain, dan tetap membuka kemungkinan berkenalan dengan orang baru.

Kondisi ini berkaitan dengan konsep paradox of choice. Semakin banyak pilihan yang tersedia, seseorang justru bisa semakin sulit menentukan pilihan. Kei menjelaskan, sebagian orang enggan menetapkan komitmen karena merasa masih ada kemungkinan menemukan pasangan yang lebih cocok.

"Semakin kita punya banyak pilihan, semakin kita enggak bisa milih. Karena selalu berharap ada pilihan yang lebih baik," ujarnya.

"Jadi selalu mencari yang lebih baik. Dan ini yang bikin jadi enggak mau komitmen dulu," tambahnya.

Selain banyaknya pilihan, media sosial dan aplikasi kencan juga membuat proses berkenalan lebih mudah berakhir tanpa penjelasan. Seseorang bisa berhenti membalas pesan atau menghilang begitu saja karena belum memiliki banyak keterikatan dengan orang yang baru dikenalnya.

Fenomena ini dikenal sebagai ghosting. Ketika hubungan belum memiliki ikatan yang jelas, sebagian orang mungkin merasa lebih mudah meninggalkannya tanpa perlu menjelaskan alasan.

Hal ini juga pernah dibahas dalam penelitian bertajuk All the Feels, None of the Labels: Young Adults' Experiences of Situationships. Melalui wawancara terhadap orang dewasa muda berusia 19-25 tahun, peneliti mengidentifikasi lima tema dalam pengalaman menjalani situationship.

Di antaranya adalah ketidakjelasan status dan batas hubungan, ketimpangan keterlibatan emosional, peran aplikasi kencan dalam mempertahankan banyak pilihan, keinginan untuk tetap mandiri, serta dampak psikologis dari hubungan yang tidak jelas.

Sejumlah partisipan mengaku mengalami patah hati yang berat setelah hubungan berakhir. Akan tetapi, mereka juga merasa kesedihannya tidak sepenuhnya dianggap sah karena hubungan tersebut tidak pernah resmi disebut pacaran.

Sebagian partisipan bahkan mengalami kesulitan membangun kembali kepercayaan setelah pengalaman tersebut. Seseorang tetap bisa merasa kehilangan, meskipun hubungan yang dijalani tidak pernah memiliki status resmi.

Tidak mau berkomitmen, tetapi tetap bisa jatuh hati

Ada orang yang sengaja mempertahankan hubungan tanpa status sebagai cara melindungi diri dari kemungkinan terluka. Mereka ingin tetap memiliki kedekatan, tetapi tidak ingin terlalu jauh melibatkan perasaan.

Kei menilai strategi tersebut tidak selalu berhasil. Sebab, kedekatan yang berlangsung intens tetap bisa membangun keterikatan emosional, meskipun kedua orang tidak pernah menyebut hubungan mereka sebagai pacaran.

"Kalau situationship, tapi sering ketemu dan interaksinya intens, kayak misalnya chatting-annya banyak, terus sering call, ketemunya juga sering, itu secara biologis pasti tercipta yang namanya attachment," jelasnya.

Menurut Kei, label hubungan bukan satu-satunya hal yang menentukan munculnya perasaan. Intensitas interaksi, kebiasaan bertemu, komunikasi sepanjang hari, hingga kontak fisik dapat membuat seseorang semakin terikat.

"Meskipun namanya situationship, pasti akan tumbuh namanya perasaan. Sedikit banyak kalau misalnya nanti di-ghosting atau pisah, pasti sakit hati juga," kata Kei.

Situasi ini bisa menjadi rumit ketika kedua orang memiliki harapan berbeda. Salah satunya mungkin benar-benar menikmati hubungan kasual, sementara yang lain mulai menginginkan hubungan yang lebih jelas.

Kei mengatakan kondisi tersebut kerap ia temui dalam sesi konsultasi. Pada awalnya, kedua pihak mungkin sudah sepakat untuk tidak berpacaran. Akan tetapi, seiring dengan intensitas pertemuan dan komunikasi, salah satu pihak mulai menginginkan perhatian lebih.

Orang yang mulai merasa tidak nyaman dalam situationship belum tentu langsung memilih pergi. Ada yang tetap bertahan meski menyadari bahwa dirinya menginginkan hubungan yang lebih serius.

"Yang satu rutinitas, karena udah ada rutinitas tiap hari ngobrol. Terus mungkin seminggu dua tiga kali ketemuan. Itu rutinitas itu menyenangkan," ujar Kei.

Alasan lainnya adalah rasa takut kehilangan seseorang yang dianggap sulit ditemukan kembali. Bisa jadi, orang tersebut merasa sudah menemukan sosok yang menarik secara fisik maupun kepribadian sehingga enggan melepaskan kedekatan yang sudah terbangun.

Ada pula harapan yang telanjur terbentuk. Ketika menyukai seseorang, tidak jarang orang mulai membayangkan kemungkinan masa depan bersama. Mereka mungkin membayangkan hubungan yang lebih serius atau bahkan memperkenalkan orang tersebut kepada keluarga.

Ketika hubungan berakhir tanpa kejelasan, yang hilang bukan hanya sosok orang tersebut, tetapi juga harapan yang sudah dibangun sebelumnya.

Kapan harus membicarakan status hubungan?

Bagi orang yang nyaman menjalani hubungan tanpa status, kondisi tersebut mungkin bukan masalah. Namun, situasinya berbeda jika salah satu pihak mulai menginginkan komitmen dan merasa tidak mendapat kepastian.

Kei menyarankan agar pembicaraan mengenai status tidak ditunda terlalu lama, terutama jika kedua orang sudah cukup mengenal satu sama lain.

"Kalau udah satu bulan terus enggak ada kejelasan, udah langsung ditanya aja. Baik cewek maupun cowok," jawabnya.

Ia menyarankan agar seseorang menyampaikan keinginannya secara terbuka. Misalnya, dengan mengatakan bahwa dirinya sudah merasa nyaman dan ingin membawa hubungan ke arah yang lebih jelas.

"Kalau misalnya kamu mau juga, yuk kita make it official. Tapi kalau enggak, ya udah kita enggak usah lanjut. Karena aku enggak mau ngabisin waktu aku dan waktu kamu juga," katanya.

Kei juga mengingatkan agar seseorang tidak mengabaikan pernyataan sejak awal ketika calon pasangan sudah mengatakan tidak ingin berkomitmen. Menurutnya, lebih baik mengetahui perbedaan harapan sejak awal daripada terus menjalani hubungan yang berpotensi membuat salah satu pihak terluka.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK