Karhutla TN Wasur Papua Selatan Ancam Habitat Ratusan Spesies Burung

CNN Indonesia
Kamis, 05 Nov 2026 08:15 WIB
Karhutla TN Wasur Papua Selatan Ancam Habitat Ratusan Spesies Burung
Taman Nasional Wasur di Papua Selatan. (Tangkapan layar web indonesia.travel/id/id)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Papua Selatan turut mengancam kawasan Taman Nasional (TN) Wasur di Kabupaten Merauke.

Kebakaran tersebut dikhawatirkan mengganggu ekosistem kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa, termasuk burung endemik Papua dan burung migran.

Mengutip dari Detik, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB mencatat luas area terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari jumlah tersebut, sebanyak 253 hektare masih berstatus belum padam. BNPB juga mencatat 379 titik panas dan 171 titik api di wilayah tersebut.

BNPB menyebut luas area terbakar telah turun dari 1.742 hektare pada 31 Oktober menjadi 695 hektare pada 1 November. Sementara itu, area yang belum padam berkurang dari 577 hektare menjadi 253 hektare.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena TN Wasur memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Berdasarkan data Balai TN Wasur, kawasan ini menjadi habitat bagi 403 spesies burung.

Sebanyak 74 spesies di antaranya merupakan burung endemik Papua, sedangkan sekitar 114 spesies termasuk satwa dilindungi. TN Wasur juga menjadi tempat persinggahan burung migran dari Australia dan Selandia Baru.

Kebakaran berpotensi merusak vegetasi dan lahan basah yang menjadi tempat satwa berlindung, mencari makan, hingga berkembang biak. Dampaknya tidak hanya dirasakan ketika api membakar habitat, tetapi juga akibat asap dan perubahan kondisi lingkungan.

Untuk menangani karhutla di Papua Selatan, BNPB bersama BMKG memperkuat pemantauan melalui citra satelit, drone, dan sistem digital guna mengidentifikasi titik api. Penanganan juga melibatkan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya.

BNPB dan BMKG turut melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak. Hingga 31 Oktober lalu, operasi tersebut telah melakukan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan 13.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Berton SP, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyebut Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober lalu.

Melalui pemantauan udara tersebut, kepulan asap dan sejumlah titik api di Kabupaten Merauke masih terlihat.

"Karena itu, penanganan terus diperkuat melalui pemantauan berbasis satelit dan drone, verifikasi titik api, serta koordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait untuk mempercepat respons di lokasi kebakaran," kata Berton.

(dsd/wiw)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA