Kala Joey Barton Berhadapan Dengan Suporter Rusia

Martinus Adinata
Selasa, 14/06/2016 21:00 WIB
Ilustrasi suporter Rusia saat timnya melawan timnas Inggris. (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta, CNN Indonesia -- Sepanjang kariernya di lapangan hijau, nama Joey Barton dikenal sebagai salah satu gelandang tipikal Inggris dengan gaya permainan kick and rush-nya. Namun, bukan hanya itu. Barton pun dikenal sebagai pemain yang sering bersinggungan dengan pemain lawan.

Barton dikenal kerap tersangkut masalah indisipliner karena berkelahi di dalam, maupun luar lapangan. Hal itu pun membuat julukan 'bad boy' melekat pada pemain berusia 33 tahun itu.

Namun, status itu benar-benar teruji ketika Barton kebetulan berada di lokasi tempat terjadinya kericuhan antara suporter Inggris dan Rusia di Marseille, Perancis, Sabtu (11/6).

"Saya berlari ke arah para suporter Rusia pada saat itu dan itu merupakan pemandangan yang sangat mengerikan. Mereka sangat terorganisasi," ujar Barton seperti dilansir Daily Mirror.

"Saat itu saya sedang bersama dua teman saya dan satu di antaranya membawa anaknya. Kami menggunakan kereta bawah tanah untuk menghindari mereka. Namun saat keluar dari stasiun, saya justru melaju tepat ke arah mereka."

Barton menuturkan para suporter Rusia itu bersebaran di jalanan, dan berusaha mengejar para suporter Inggris yang berlarian. Namun, pemain Glasgow Rangers itu mengaku cukup beruntung karena para suporter Rusia itu mengabaikan mereka.

"Kami berlari tepat ke arah mereka, tetapi untungnya mereka tak tertarik dengan kami. Ada sekitar 40 hingga 50 dari mereka yang mencari suporter Inggris, mereka tak mengincar kelompok yang hanya terdiri dari satu atau dua orang saja," ujar Barton melanjutkan.

"Untungnya, saya dan teman saya tak mengenakan atribut Inggris. Hanya anaknya yang mengenakan seragam timnas. Kami lalu berjalan di tengah-tengah mereka dan semuanya merasa takut."

Barton beserta kawan-kawan yang akhirnya selamat dari kericuhan suporter itu pun menilai para suporter yang melakukan kericuhan itu sangat terorganisasi. Hal itu kemudian menimbulkan spekulasi dalam benak Barton bahwa ada latar belakang militer di kubu suporter Rusia itu.

"Jika Anda memberikan samaran kepada orang-orang itu, Anda akan mengira mereka merupakan tentara Rusia," ujar Barton lebih lanjut.

"Mereka sangat terorganisisasi, dan terlihat memiliki rencana yang panjang. Itulah yang membuat saya berpikir mereka memiliki latar belakang militer."

(kid)

ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar