Pembunuhan dan Ancaman Simpatisan ISIS di Tengah Piala Eropa

Martinus Adinata, CNN Indonesia | Rabu, 15/06/2016 14:35 WIB
Pembunuhan dan Ancaman Simpatisan ISIS di Tengah Piala Eropa Ilustrasi ajang pelaksanaan Piala Eropa 2016 di Perancis. (REUTERS/Pawel Kopczynski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang simpatisan ISIS telah memublikasikan ancaman dan pembunuhan di tengah Piala Eropa lewat video di Facebook. Dalam video tersebut, ia juga menyebutkan 'Piala Eropa akan jadi pemakaman'.

Sang pengancam telah membunuh seorang kepala polisi di Perancis. Pria berusia 25 tahun yang diidentifikasi bernama Larossi Abbala itu membunuh kepala polisi, Jean Baptiste Salvaing, dan istrinya, Jessica Schneider.

Kepala polisi itu ditikam sampai tewas di depan rumahnya pada Senin (13/6) malam waktu setempat di daerah Magnaville, pinggiran Paris.


Dan, ancaman lewat Facebook itu diduniakan sang pelaku setelah penikaman dilakukan.

"Piala Eropa akan jadi pemakaman. Begitu pula Anda (Presiden Perancis, Francois) Hollande. Saya belum melupakan apa yang Anda katakan, kami akan bersikap kejam dan saya telah bersikap kejam terhadap polisi dan istrinya," ujar Abballa dalam video ancamannya.

Selain mengancam perhelatan Piala Eropa, Abdulla juga menyoroti kebijakan pemerintah Perancis yang ia anggap tak memihak kepada imigran.

"Anda menutup pintu bagi pehijrah (imigran), Anda juga menutup pintu bagi kaum Arab. Maka kami membuka pintu jihad di daerah Anda," ancam Abballa.

Dalam video asli Abballa di Facebook--sebelum dihapus-- juga sempat tampak buah hati Salvaing dan Schneider yang masih berusia tiga tahun.

Namun, sumber dari pihak penyidik Perancis mengatakan kepada CNN, tim anti huru-hara Perancis berhasil mengamankan anak itu. Dan, pelaku sendiri telah tewas karena tembakan unit polisi khusus.

Serangan terhadap Salvaing dan Schneider itu sendiri langsung dikecam oleh pemerintah Perancis, yang melabeli tindakan Abballa itu sebagai aksi terorisme.

"Tak bisa disangkal lagi itu merupakan sebuah aksi terorisme, karena pelaku yang telah dilumpuhkan di lokasi kejadian berkat reaksi cepat petugas keamanan, ingin aksinya itu disebut sebagai aksi terorisme," ujar Presiden Perancis, Francois Hollande.

Hal itu menambah daftar kelam keamanan di tengah penyelenggaraan Piala Eropa. Semenjak akhir pekan lalu, perhelatan Piala Eropa diganggu kerusuhan suporter bola yang melibatkan pendukung timnas Inggris dan timnas Rusia.

(kid)