Menurut The Guardian, Inggris juga menyakini bahwa sebagian dari kelompok suporter yang terlibat kericuhan dan menyerang suporter Inggris di kota Marseille pada 10 Juni lalu adalah bagian dari pasukan keamanan Rusia.
Kepada Observer, anggota istana juga mengatakan bahwa pihak keamanan Inggris sedang mengawasi sosial media untuk mencari tahu latar belakang kerusuhan tersebut.
"Sangat sukar untuk membuktikan bahwa kerusuhan ini direstui Kremlin, namun kami bisa melihat bahwa sebagian dari mereka (suporter Rusia) adalah bagian dari pasukan keamanan Rusia," demikian sumber dari istana Whitehall.
Kepala operasi pengamanan Piala Eropa 2016 dari kepolisian Inggris, Mark Roberts, mengatakan bahwa aksi kerusuhan di Marseille adalah penyerangan paling serius dan terkoordinasi yang pernah ia lihat dalam masa 10 tahun mengurusi soal kekerasan di sepak bola.
Ia mengatakan bahwa saksi mata dari kepolisian Inggris melihat sekitar 150 pendukung Rusia membawa peralatan seperti pelindung gigi dan juga sarung tangan yang biasa digunakan dalam pertarungan seni bela diri.
Kepolisian Perancis hingga saat ini telah menahan 43 pendukung Rusia, dengan satu di antaranya adalah Alexander Shprygin -- pria yang pernah difoto di samping Putin ketika menghadiri pemakaman seorang suporter sepak bola pada 2010 silam.
Pihak pemerintah Rusia membantah adanya penangkapan terhadap pendukung mereka dan menuduh pihak keamanan Perancis menyebarkan sentimen anti-Rusia. (vws)