Identitas Diri dalam Gambar Tato

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 30/09/2014 15:37 WIB
Identitas Diri dalam Gambar Tato Ilustrasi tato (Getty Images/Pojoslaw)
Jakarta, CNN Indonesia -- 8 Ribu tahun lalu, laki-laki Peru membuat tato berupa kumis di atas bibir mereka. Mumi mereka menjadi contoh tato tertua di dunia. Saat ini, tato bukan lagi hal yang asing di tengah masyarakat urban. 

Menurut Professor Nicholas Thomas, Direktur Museum of Archeology and Anthropology di Cambridge University, tato telah kembali berjaya dengan cara yang berbeda.

“Telah terjadi perubahan yang luar biasa selama 25 tahun terakhir ini. Ketika saya masih kecil pada tahun 1960-an, tato tidak ada di mana-mana seperti sekarang. Kini telah terjadi ledakan popularitas dan ini menjelaskan siapa kita secara budaya dan individu.”


Faktanya, menurut beberapa penelitian, lebih dari 38 persen orang Amerika dan seperlima orang Inggris memiliki berbagai seni pada tubuh dalam jangka panjang. Banyak faktor yang memengaruhi popularitas tato, yang paling utama adalah perubahan konsepsi mengenai tubuh.

“Kemajuan teknologi dan ilmu medis menyebabkan orang tidak hanya mengerti tubuh sebagai sesuatu yang alami. Lebih dari itu, kita memahami tubuh sebagai sesuatu yang terus berubah dan bermutasi,” kata Thomas seperti dilaporkan oleh laman CNN.

“Orang-orang bisa melakukan berbagai bedah, baik itu secara medis maupun kosmetik. Bahkan, mengubah gender adalah sesuatu yang mungkin," ujar Thomas.

Ini artinya kita sekarang melihat tubuh sebagai sesuatu yang kita desain sendiri dan kita pertanggungjawabkan. Aksi sederhana seperti senam kebugaran dan berjemur hingga kulit menggelap mengindikasikan sikap tersebut.”

Cap permanen akan identitas

Identitas kini dilihat sebagai sesuatu yang didesain daripada diwariskan. “Identitas kita semakin spesifik, semuanya terhubung dengan minat, kepentingan, tradisi budaya dan spiritual, selera musik, dan lainnya.

Tato menjadi semacam kendaraan untuk identifikasi-identifikasi tersebut.

Selama abad ke-20, tato diidentikkan dengan kriminal, pelaut, dan anggota militer, yang memang menginginkan adanya tanda pada tubuh mereka. Orang-orang California mengambil tren itu dan menciptakan sendiri desain mereka.

Mereka memasukkan tinta pada kulit mereka sebagai bentuk seni daripada cap sosial.

Pada masa lalu, tato tidak dilakukan untuk memberikan identitas individual. Tato lebih seperti proyek bersama dalam suatu unit kebudayaan tertentu. Tato juga digunakan sebagai upacara inisiasi saat telah mencapai usia tertentu.

“Di Samoa, laki-laki membuat tato pada paha, bokong, serta dada bagian bawah,” kata Thomas. “Tato menjadi semacam cobaan yang menyakitkan.”

Orang-orang Samoa dan komunitas tradisional lainnya melihat tato sebagai proses penting dibandingkan simbol kepemilikan pribadi. Seluruh badan ditato dalam waktu bersamaan.

Sementara pada zaman modern seperi sekarang, penggemar tato menganggapnya sebagai penanda akan kejadian penting dalam hidupnya.

“Seni tato tidak lagi dilihat sebagai bentuk kesamaan dengan komunitas. Orang-orang sekarang membuat tato agar terlihat unik,” kata Thomas. Jonny Depp pernah berkata, “Tubuh saya adalah jurnal saya dan tato saya adalah cerita saya.”

Penelitian menunjukkan orang dewasa yang bertato menunjukkan lebih aktif secara seksual, melakukan hal-hal yang lebih berisiko, dan lebih percaya diri akan tubuhnya.

Namun, kepercayaan diri pada tubuh tersebut menurun pada perempuan pada tiga minggu pertama setelah membuat tato.