Mengupas Misteri Lukisan dan Kepribadian Da Vinci

Karina Armandani, CNN Indonesia | Kamis, 02/10/2014 10:49 WIB
Mengupas Misteri Lukisan dan Kepribadian Da Vinci Salah satu lukisan Leonardo Da Vinci (REUTERS/Max Rossi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Leonardo da Vinci selalu punya rahasia di setiap karyanya. Baru-baru ini, peneliti asal Perancis mengungkap misteri salah satu lukisan terkenal milik Da Vinci, dengan teknologi terbaru.

Pascal Cotte, menghabiskan tiga tahunnya memeriksa lukisan Da Vinci, Lady with an Ermine. Dipercaya, itu dilukis antara tahun 1489 dan 1490. Cotte menggunakan teknologi cahaya reflektif untuk memeriksanya.

Sebelumnya, wanita dalam lukisan itu diduga sengaja disandingkan dengan cerpelai. Namun upaya Cotte menunjukkan, Da Vinci membuat satu tampilan tanpa cerpelai dan dua alternatif dengan versi berbeda pada bulunya.


Lady with an Ermine sendiri melukiskan Cecilia Gallerani, wanita muda di pengadilan Milan yang merupakan gundik bangsawan Milan, Ludovico Sforza. Bangsawan itu merupakan pelindung utama Da Vinci selama 18 tahun tinggal di Milan. Sang bangsawan, dikenal sebagai 'cerpelai putih'.

Lukisan itu kini dimiliki Czartoryski Foundation. Biasanya, ia dipajang di Museum Nasional di Krakow. Tetapi, saat ini Lady with an Ermine ditampilkan di dekat kastil Wawel, karena museum direnovasi.

Meneliti dengan cahaya

Cotte merupakan penemu Lumiere Technology di Paris. Ia telah mengembangkan teknik yang bernama metode lapisan amplifikasi (Layer Amplification Method).

Metode itu bekerja dengan memproyeksikan serangkaian cahaya secara intens ke sebuah karya, sementara kamera mengukur refleksinya. Hasilnya membuat Cotte dapat menganalisa dan merekonstruksi apa yang terjadi antara lapisan-lapisan lukisan yang digunakan di kanvas.

"Teknik LAM mampu mengupas lukisan seperti bawang bombay, melepaskan permukaannya untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya dan di balik lapisan yang berbeda pada suatu lukisan," katanya.

"Kami menemukan bahwa Leonardo selalu mengubah pikirannya. Ia seperti ragu-ragu, menghapus beberapa hal, menambahkan beberapa hal, lalu mengubah pikirannya lagi dan lagi," ia melanjutkan.

Menurut Martin Kemp, profesor pensiunan sejarah seni di Universitas Oxford, penemuan itu luar biasa. "Ini memberitahu kita tentang pola pikir Leonardo saat mengerjakan lukisannya," tuturnya.

Dari fakta itu, kata Kemp, orang-orang jadi tahu mengapa Da Vinci butuh waktu lama menyelesaikan satu lukisan saja. "Sekarang kita tahu dia terus bermain-main sepanjang waktu dan menjelaskan mengapa dia sangat sulit menyelesaikan lukisan-lukisannya," ujar Kemp.

Penemuan Cotte soal Da Vinci, kata Kemp, membuatnya berdebar karena mengetahui kepribadian pelukis kondang itu, selapis demi selapis.

Jika termasuk pengagum Da Vinci, silakan menyaksikan langsung karya-karyanya yang saat ini hanya sejengkal jarak dari Indonesia. Karya-karya asli Da Vinci akan ditampilkan di Museum ArtScience, Singapura, pada 15 November 2014 sampai Mei 2015. Pameran itu dibuka untuk umum.