Serial Baru

Tragedi Ebola Jadi Serial di Televisi

Utami Widowati, CNN Indonesia | Selasa, 21/10/2014 07:12 WIB
Tragedi Ebola Jadi Serial di Televisi Kampanye melawan Ebola (Reuters/Luc Gnago)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tragedi di satu benua, ide film di benua lain. Inilah yang terjadi dengan Ebola. Penyakit yang sedang mewabah di sebagian benua Afrika itu justru menjadi ide bagi sejumlah sineas Amerika Serikat untuk dijadikan serial televisi. 

Sutradara Ridley Scott menjadi salah satu nama dibalik produksi serial televisi itu nantinya. Scott sendiri kemungkinan akan menyutradarai seri episode pertama.

Seperti dilaporkan Hollywood Reporter dan dikutip CNN, Scott akan bermitra dengan produser Lynda Obst untuk membuat serial yang diangkat dari novel laris tahun 1994, berjudul The Hot Zone karya Richard Preston.

Preston yang pertama kali membuat The Hot Zone pada tahun 1992 di New York, mengatakan sedang menyusun cerita tentang Ebola lagi dan akan diterbitkan di majalah.


Bukan sekadar memanfaatkan berita tentang Ebola yang sedang hangat, Scott dan Obst sebenarnya telah memiliki berbagai properti untuk film itu selama beberapa tahun terakhir.

Mereka juga sudah mengatur jadwal tentang apa yang akan dilakukan untuk film itu. Namun dengan kembalinya penyakit ini menjadi berita utama — yang membawa ketakutan warga sedunia — Obst menyebut ini adalah waktu yang sempurna untuk memproduksi serial tersebut.

“Saya pikir dengan kecepatannya merengut korban jiwa membuat penyakit ini jadi sangat menakutkan,” kata Obst. “Masyarakat berharap bisa tinggal jauh-jauh dari wabah ini. Tapi itu hanya khayalan dunia modern. Faktanya dunia modern membuat kita jadi satu keluarga besar yang saling terhubung.”

Obst yang jadi produser untuk film terbaru Christopher Nolan Interstellar berharap banyak pada serial Ebola ini. “Serial pendek adalah cara yang bagus untuk membuat film ini. Karena kita tak perlu membatasi struktur seperti yang kita lakukan dengan film.”

Pada tahun 2011, sutradara Steven Soderbergh sudah membuat film Contagion yang mengangkat isu yang sama. Penulis naskah film ini, Scott Z. Burns kepada The Warp mengatakan bahwa kepedulian utamanya lebih kepada penyakit itu sendiri. Bukan ketakutan yang dibawanya.

“Yang lebih menakutkan bagi saya dari Ebola adalah virus yang lebih berbahaya yakni dari kebodohan dan ketakutan para partisan politik,” kata Burns.

Wabah Ebola di tahun ini dimulai pada bulan Maret, hingga kini telah merenggut 4.500 korban jiwa di Afrika Barat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat memperkirakan akan ada 10 ribu kasus Ebola baru per minggu yang menjadi bencana terberat yang akan dialami dunia hingga akhir tahun.

Namun, Jumat (17/10) WHO mengumumkan akhir wabah Ebola di Senegal dan berharap hal serupa akan terjadi di Nigeria pada Minggu (19/10) lalu.