Festival Film Indonesia

Ajang FFI dengan Penjurian ala Oscar

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 20/10/2014 07:40 WIB
Ajang FFI dengan Penjurian ala Oscar Reza Rahadian dan Christine Hakim, ikon FFI 2014 (CNNIndonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Festival Film Indonesia (FFI) mencoba bergaung kembali. Penyelenggara berganti, sineas-sineas muda mulai dilibatkan. Sistem penjurian pun dilakukan dengan menyontek sistem Academy Awards.

Tahun 2014, ajang itu mencoba kembali ke khittah. FFI mulai berdandan. Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kini menggandeng Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk menggelar FFI. BPI sendiri diketuai aktor senior Indonesia, Alex Komang.

Christine Hakim dan Reza Rahadian dipilih menjadi ikon FFI Baru. Ia juga terlibat sebagai salah satu juri. Tak seperti sebelumnya yang hanya berjumlah sembilan, juri di FFI 2014 mencapai 85 orang. Juri untuk masing-masing kategori film minimal lima orang.

Reza menjelaskan, ia tidak akan menjuri filmnya sendiri. Meski ia hanya menilai aktris terbaik, materi yang berhubungan dengan filmnya tetap tidak akan dikirim padanya. “Bisa saja saya pilih Pevita Pearce di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tapi saya enggak bisa,” Reza menuturkan.

Yang menilai filmnya adalah 84 juri lain. Penilaian pun dilakukan secara bertahap. Pertama, Reza dan juri-juri lain menentukan penilaian pribadi melalui kuesioner. Hasilnya, dikirim pada akuntan publik independen, DeLoitte untuk direkapitulasi. Dari situ, dikembalikan pada panitia.

“Setelah tabulasi, baru kita bisa tahu siapa 10 teratas,” ujar Reza melanjutkan. Film-film pilihan itulah yang disebut nominator. Dari film atau nama sineas yang dinominasikan, juri masih harus berdiskusi sengit, menentukan satu yang menjadi pemenang. Diharap, penjurian lebih objektif.

“Kami mencoba mengembalikan kepercayaan masyarakat. Biar enggak dianggap lagi FFI mewakili stasiun televisi tertentu, ada pemenang titipan, atau cuma ajang bagi-bagi piala,” kata Reza lagi.

Menurutnya, sistem penjurian itu tak lagi bisa menjadi alasan untuk menuding bahwa ada permainan dalam penilaian FFI. “Namanya festival, di mana-mana sekelompok orang yang menilai. Ini menjadi tanggung jawab mereka, dan enggak ada yang salah dengan itu,” ia menegaskan.

Reza mengatakan, penjurian dengan sekelompok orang itu akan meminimalisasi pertentangan kepentingan. Tahap pertama kuantitatif. Saat menentukan pemenang, baru ada perdebatan.

Ganti genggaman

Perubahan FFI 2014 tak cukup sampai di situ. BPI, Christine, dan Reza juga meminta bentuk Piala Citra diubah. Piala yang menjadi kebanggaan tertinggi sineas Indonesia itu memang baru diganti saat penyelenggaraan tahun 2008. Namun, panitia meminta piala itu dikembalikan ke bentuk aslinya.

Seperti diketahui, Piala Citra diciptakan oleh pematung Sidharta, dan dianugerahkan pada pemenang FFI sejak tahun 1966. Bentuknya ramping seperti tongkat. Tahun 2008, bentuk piala itu melebar. Piala itulah yang akan diganti, dikembalikan dengan modifikasi oleh seniman Dolorosa Sinaga.

Christine punya alasan tersendiri saat mengubah bentuk piala. “Sudah trademark Piala Citra seperti itu. Saya berharap lebih kecil, masalah efisiensi saat memegang saja. Biar lebih cantik. Selama ini terlalu berat. Itu sebabnya dikembalikan ke bentuk aslinya lagi,” ujar Christine pada CNN Indonesia.

Jadi satu-satunya

Seluruh perubahan itu merupakan upaya mengembalikan pamor FFI. BPI, Christine, dan Reza bercita-cita FFI menjadi satu-satunya tolok ukur dunia perfilman Indonesia. Diharapkan, festival itu tidak bersaing dengan ajang-ajang serupa, apalagi sampai mati di negeri sendiri.

“Mematikan FFI itu mematikan sejarah film Indonesia,” ucap Reza tegas. Christine menambahkan, keinginan membubarkan atau mengganti FFI adalah kesombongan pihak yang tak mau tahu sejarah.

Keduanya ingin, FFI menjadi seperti Academy Awards di Hollywood. Ia satu-satunya perhelatan film di tingkat nasional. Kalaupun ada FFB, Piala Maya, atau IMA, atau AFI, lingkupnya diharap tak menyamai FFI. Sebab, festival itu diselenggarakan negara, sedang yang lain bisa saja swasta.

“Seperti Oscar saja. Tingkat nasional ya Oscar. Golden Globe berbeda lagi. Inginnya seperti itu,” ujar Christine. Bintang film Daun di Atas Bantal itu menambahkan, festival yang hanya ada satu juga tidak akan menghabiskan anggaran negara. Untuk FFI 2014, kata dia, dananya tak banyak.

Saat bertemu Alex Komang di Festival Film Cannes beberapa waktu lalu, Christine menyarankan bintang film 9 Summer 10 Autumns itu meminta anggaran sampai Rp 200 miliar. Ternyata, Alex menulis Rp 8 miliar di proposalnya. Dana itu jelas lebih hemat dan sederhana.

Selain ingin menjadi satu-satunya, Reza juga berharap FFI 2014 bisa ditayangkan serentak di seluruh stasiun televisi di Indonesia. Ia mengibaratkan festival film itu bagai pidato presiden.

“Ini diselenggarakan negara lho. Tidak berlebihan ketika saya punya doa, ini seperti pidato presiden yang bisa ditayangkan di semua stasiun televisi. Kalau memang ada instruksi presiden, bisa saja. Dan dengan begitu, enggak ada lagi kepentingan masing-masing stasiun televisi,” ujarnya menjabarkan.


FFI 2014 sendiri saat ini sudah mulai bergulir. Senin (20/10) seluruh materi film yang masuk akan diserahkan pada juri. Sejauh ini, sudah ada 25 judul yang masuk. Pesta FFI 2014 akan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 Desember 2014.

Berbagai acara digelar untuk memeriahkannya. Di antaranya: diskusi film, festival seni, pesta kerajinan dan kuliner, dan jumpa artis. Sementara ini, pesta FFI 2014 akan ditayangkan di TVRI.