Film Marvel

Marvel Berburu Perempuan-perempuan Super

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 21/10/2014 16:13 WIB
Marvel Berburu Perempuan-perempuan Super Perempuan yang ikut serta dalam kompetisi kostum di Comic-Con Rusia, Jumat (3/10) (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil presiden khusus bidang efek visual dan pasca-produksi Marvel, Victoria Alonso mengakui kurangnya campur tangan perempuan di industri kreatif, terutama pembuatan film. Itu disampaikan Alonso saat berbicara di Visual Effects Society Production Summit.

Dalam acara itu, Alonso menyesalkan dominasi laki-laki di perfilman, terutama di bidang yang ia kuasai. Masih sedikit perempuan yang bisa bekerja di ranah efek visual dan pasca-produksi.

“Harus ada lebih banyak perempuan di sini. Akan lebih baik jika perbandingannya 50-50 dengan laki-laki,” ujarnya, seperti dikutip Variety dan Digital Spy. Ia menambahkan, bidangnya tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Para perempuan hanya perlu membiasakan diri.


“Saya telah bekerja dengan banyak orang berbakat dan kreatif di sana selama dua dekade. Saya katakan pada Anda semua, itu akan lebih baik setelah beberapa hari di dalamnya,” ujar Alonso lagi.

Ia menjelaskan, tidak ada yang perlu ditakutkan bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki. Sebaliknya, kaum pria juga harus memberi ruang bagi perempuan, terutama yang berbakat.

“Mereka adalah keseimbangan yang Anda butuhkan,” tutur Alonso lagi, menegaskan.

Pernyataan Alonso itu terdengar sangat feminis. Itu mengingatkan kembali pada penantian masyarakat akan hadirnya pahlawan super perempuan dari kalangan Marvel. Belakangan ini, Marvel dituntut membuatkan film sendiri untuk Black Widow. Namun, belum ada kepastian untuk itu.

Alonso sempat berkomentar soal itu. “Jika terserah saya, saya akan membuatnya hari ini juga,” ia mengucapkan. Sayang, Alonso bukan satu-satunya penentu kehidupan pahlawan super Marvel.