PAMERAN LUKISAN

Lukisan Cat Air Tak Lekang oleh Waktu

Vega Probo, CNN Indonesia | Sabtu, 25/10/2014 12:10 WIB
Lukisan Cat Air Tak Lekang oleh Waktu Pameran lukisan Zhang Xue Hong, Lei Han Lin dan Shu Xin Sui di Museum Nasional (CNN Indonesia/Vega Probo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telah berlangsung belasan abad, tradisi melukis menggunakan cat cair di atas medium kertas dan kain sutra tak juga usang. Hingga kini, para pelukis asal China, seperti Zhang Xue Hong, Lei Han Lin, Shu Xin Sui, tetap setia melakoninya.

Karya-karya mereka yang terlihat klasik dipamerkan di Museum Nasional sejak akhir pekan lalu sampai hari ini (25/10). Bersanding dengan karya-karya pelukis asal Indonesia, seperti I Made Wianta, Kartika Affandi, Nyoman Gunarsa, Erica, dan lain-lain.

Dalam tulisannya yang tersaji di buku katalog, kurator Agus Dermawan T. sekilas mengisahkan eksistensi lukisan cat air yang telah “mengibar pesonanya sejak abad ke-tujuh” atau tepatnya, sejak era Dinasti Tan (618-906). Pameran pertama yang digagas Indonesia-China Art Association (ICAA) ini diberi tajuk Hikayat Air. Karena, sebagaimana ditulis oleh Agus, “secara tersirat dan tersurat menceritakan perjalanan lukisan cat air lewat karya-karya terbaru para pelukis cat air.”


Di antara puluhan lukisan cat air yang menampilkan objek klasik—lanskap, flora, fauna dengan kaligrafi—tampak dua yang tersimak nyeleneh. Keduanya dikreasikan oleh Zhang Xue Hong asal Beijing. Salah satunya, bertajuk Nothing yang menggambarkan gejolak air.

“Melukis bukan sekadar melanggeng tradisi, juga mengekspresikan pencapaian meditasi,” kata Hong dalam bahasa China yang diterjemahkan oleh Aulia dari ICAA. “Meditasi menggiring pada mencapai ketenangan batin yang diungkapkan melalui lukisan.”

Ketenangan batin menggerakkan jemari Hong untuk menyapukan kuas, membentuk objek yang absurd. Sekilas seperti seonggok batu yang berdaya menyemburkan air. Namun pelukis berambut panjang ini enggan menyebutnya batu. “Itu adalah titik insting manusia, awal dari segalanya.”

Hong membiarkan penikmat seni menerka sendiri objek tersebut. “Tidak ada nama pasti, tidak bisa dipaksakan ini apa. Abstrak. Silakan kembangkan sendiri sesuai imajinasi masing-masing. Boleh menyatakan ini sebagai suatu benda, batu atau telur, terserah,” kata Hong.

Dari “titik abstrak” di bagian bawah, sapuan kuas diarahkan oleh Hong ke bagian atas untuk memvisualkan gejolak air. Sesuai filosofi meditasi: pemikiran dari hati atau titik insting berkembang menjadi pusat fokus yang melahirkan daya untuk melakukan sesuatu.

Nothing melukiskan “air sebagai benda yang berwujud namun tidak berwujud. Ia ada, lalu mengalir menuju tiada. Selagi mengalir, ia berdaya mengasah bebatuan.” Begitu diterangkan oleh Hong, barulah memaknai sapuan sebidang hitam, bebatuan, “titik abstrak” dan gejolak air di lukisannya.

Lukisan Nothing dipajang bersebelahan dengan lukisan lain kreasi Hong yang berukuran lebih

besar, menggambarkan bebatuan dalam jumlah lebih banyak. “Saya memang suka batu dan air. Air lambang kebajikan, mampu membuat batu menjadi berharga, tanpa meminta balasan.”

Hong juga mengaku senang berpartisipasi dalam pameran kali ini. Bertemu dan bertukar pikiran dengan para pelukis membuatnya antusias dan mendapat inspirasi untuk melukis lagi. Melestarikan tradisi bangsanya yang telah berlangsung belasan abad.