Aruna dan Lidahnya

Laksmi Pamuntjak 'Terlambat' Empat Bulan

Vega Probo, CNN Indonesia | Jumat, 14/11/2014 19:02 WIB
Laksmi Pamuntjak 'Terlambat' Empat Bulan Penulis Laksmi Pamuntjak meluncurkan buku terbaru Aruna dan Lidahnya di Canteen-Aksara, SCBD, Jakarta (13/11). (Praxis/Cempaka Fajriningtyas)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Novel baru bertema kuliner dan perjalanan seputar Indonesia diharapkan terbit bulan Juli 2014.” Demikian tulis Laksmi Pamuntjak dalam surel yang dikirimkannya pada pertengahan tahun. Nyatanya, novel yang dimaksud, Aruna dan Lidahnya, baru dirilis pada Kamis kemarin (13/11) di Canteen–Aksara, Pacific Place, Jakarta. Terlambat empat bulan dari jadwal semula.

Ketika itu, Juni 2014, Laksmi harus bolak-balik Jakarta-Singapura dalam rangka berobat. Dalam pres rilis yang dibagikan oleh pihak penerbit Gramedia Pustaka Utama, dinyatakan sejumlah kendala yang mengiringi proses penggarapan novel ini. Selama 2012-2014, Laksmi melanglang delapan kota, dari Surabaya sampai Mataram, dan sempat sakit lama.

“Januari sampai April 2014, saya merampungkan tulisan, tapi lalu jatuh sakit lagi, cukup lama, sehingga novel baru bisa terbit akhir tahun ini,” kata perempuan yang tetap langsing sekalipun memiliki hobi dan obsesi makan. Diakui Laksmi, makanan adalah pintu masuk sosiologi sebuah kota, karena itulah ia menjelajah.


Digagas 2005, diramu 1,5 tahun, akhirnya novel terbaru Laksmi Pamuntjak pun dirilis (13/11). (Praxis/Cempaka Fajriningtyas)
Lewat novel 426 halaman ini, Laksmi “menggunakan pendekatan kuliner untuk merayakan perbedaan manusia yang bertaut dengan berbagai isu sosial.” Tak heran bila novelnya sarat isu, dari dari kesehatan, politik, agama, mitos, aktivisme, realita sosial, sejarah lokal, cinta, dan persahabatan.

Laksmi menyakini, “Selalu ada cerita yang tersimpan dalam sebuah hidangan; tentang proses pemilihan bahan, pengolahan hingga penyajiannya, tentang filosofi di baliknya. Obrolan yang muncul dari cerita-cerita tersebut bukan saja saling memperkaya, tapi tak jarang memunculkan hal-hal tak terduga: persahabatan, pengertian, tenggang rasa.”

Aruna dan Lidahnya mengisahkan kebersamaan Aruna Rai, Bono dan Nadezhda Azhari, yang masing-masing berprofesi sebagai epidemiologist (ahli wabah), chef dan penulis. “Saat Aruna ditugaskan untuk meneliti kasus flu unggas di delapan kota di Indonesia, ketiga sahabat itu berkenalan dengan kekayaan kuliner lokal.”

Butuh 1,5 tahun bagi Laksmi untuk merampungkan Aruna dan Lidahnya. “Namun ide mengenai karya sastra yang menggunakan pendekatan kuliner ini sudah muncul sejak 2005, saat isu flu unggas mulai merebak.” Selama satu dekade, Laksmi memformulasikan tema makanan dengan realita sosial politik.  

Diakui penulis empat buku Jakarta Good Food Guide, masa penulisan novel ini lebih cepat daripada novel sebelumnya, Amba, namun pengendapan idenya memang lebih lama. Agaknya dengan begitu pembaca bisa merasakan manis, asin, asam, pedas, asam, pahit, gurih Aruna dan Lidahnya.