Kabar Penulis

Andrei Aksana Bangga Novelnya Tak Kebarat-baratan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 18/12/2014 08:45 WIB
Andrei Aksana Bangga Novelnya Tak Kebarat-baratan Andrei Aksana meluncurkan buku tentang Ubud berjudul Angin Bersyair (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah vakum sekitar empat tahun, Andrei Aksana kembali dengan karya terbarunya, Angin Bersyair. Novel yang menceritakan sebuah upaya pencarian kebahagiaan ini memiliki latar cerita di Ubud, Bali. Sang penulis juga mengupas tuntas tentang Ubud.

Andrei mengaku, keinginan menulis tentang Bali sudah dipendam sejak lama. Baginya, Bali adalah sebuah rumah, tempat di mana ia selalu ingin merasa pulang. Tak heran, mengingat ia pernah menempuh pendidikan sarjana di Universitas Udayana.

"Dari dulu pengen banget nulis tentang Bali, tapi baru belasan tahun kemudian bisa," kata Andrei saat ditemui usai peluncuran bukunya di Plaza Senayan, Rabu (17/12). Ia menambahkan, keinginan mengangkat Ubud dalam novelnya bukan disengaja.


"Sebenarnya saya ke Bali sama Anjasmara, diundang Happy Salma, lalu dapat ide nulis tentang Ubud," kata pria kelahiran Jakarta itu.

Keinginan Andrei semakin kuat untuk mengupas Ubud, lantaran saat ini sangat jarang penulis yang menggunakan latar budaya Indonesia dalam karyanya. Penulis sekarang, menurut Andrei, lebih suka menampilkan latar negara lain dibandingkan Indonesia.

"Saya merasa, kenapa jarang penulis Indonesia yang mengangkat tentang negaranya, terutama tentang Ubud, malah penulis luar negeri yang mengangkatnya walaupun hanya berupa latar tempat. Saat itu saya berpikir, saya mau mengangkat Ubud," cerita Andrei.

Seperti diketahui, Ubud menjadi salah satu latar dalam novel dan film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts.

Menurut Andrei, banyak orang yang datang ke Ubud tapi belum tahu seluk beluknya. Untuk itulah Andrei menyelipkan sejumput sejarah dan budaya tentang Ubud di Angin Bersyair. "Banyak orang tidak tahu kalau sejarah Bali dimulai di Ubud, dimulai di satu lokasi di dalam buku ini."

Andrei berkisah, lokasi tersebut merupakan sebuah pertemuan dua arus sungai di mana ada sungai ketiga yang berada di alam maya. Lokasi itu bernama Sungai Campuhan.

Untuk mengupas Ubud dalam novelnya, Andrei mengaku menemukan sejumlah kesulitan. Ia harus membuka literatur kuno yang usianya mencapai seribu tahun.

"Dalam literatur itu saya menemukan banyak sekali hal yang dimulai di Ubud. Penyebaran Hindu dan budaya di Bali dimulai di Ubud," ucap Andrei kepada CNN Indonesia.

Sang penulis mensyukuri, situs purbakala sebagaimana tercantum dalam sejumlah literatur masih ada di Bali. Hal ini mempermudah penelusuran yang dilakukannya.

Ia pun berharap, melalui novelnya kali ini ia bisa menginspirasi penulis lain untuk mengupas kekayaan Indonesia sehingga pembaca lebih mengenal negaranya sendiri.

"Semoga semakin banyak penulis yang mengangkat topik tentang daerah di Indonesia yang kaya adat dan norma kehidupan yang menurut saya harus dilakukan agar semakin banyak yang tahu tentang Indonesia," tukasnya.