Resensi Film

Lika-liku Beruang Paddington Mencari Rumah

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 22/12/2014 07:57 WIB
Lika-liku Beruang Paddington Mencari Rumah Paddington (Stefan Wermuth/Reuters Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harapan dua beruang langka di pedalaman hutan Peru melambung, seiring topi seorang petualang yang diterbangkan ke rumah pohon mereka. "Kalau suatu saat kalian bisa mencapai London, kalian akan disambut hangat!" kata-kata sang petualang terngiang-ngiang.

Si petualang tak lain kawan mereka beberapa hari terakhir. Darinya, kedua beruang itu belajar soal peradaban. Sang petualang mengajari mereka bahasa Inggris, budaya orang Inggris, bahkan membuat mereka menyukai selai jeruk. Mereka juga dinamai seperti manusia: Lucy dan Patuzo. Maka saat 40 tahun kemudian hutan tempat mereka tinggal diguncang gempa bumi, pilihan tempat tinggal yang paling mungkin adalah London.

Setelah Patizo meninggal dalam bencana, Lucy mengirim keponakan kecilnya ke London. Hanya berbekal selai jeruk, pelajaran tata krama, dan kalung bertuliskan "Tolong rawat beruang ini," ia akhirnya terdampar di Stasiun Paddington. Tapi ternyata London tidak seperti yang dipikirkan beruang-beruang itu. Mencari sang petualang yang pernah mengunjungi Peru puluhan tahun lalu di antara jutaan penduduk London, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.


Si beruang kecil tersisih sendiri di stasiun, sampai keluarga Brown menemukannya. Mrs. Brown (Sally Hawkins) memberinya nama baru: Paddington. Ia memberinya tempat tinggal sementara, meski Mr. Brown (Hugh Bonneville) bersungut-sungut karena Paddington tak henti berbuat onar atau merusakkan barang. Tapi Paddington memberi warna baru bagi keluarga itu. Judy (Madeleine Harris) jadi lebih bangga pada keluarganya. Jonathan (Samuel Joslin) merasa punya sahabat baru dan tak lagi kesepian. Sampai Mrs. Bird (Julie Walters) pengurus rumah menyimpulkan, "Keluarga ini membutuhkan Paddington, seperti halnya mereka membutuhkan kepala rumah tangga.

"Sementara Paddington berjuang untuk diterima dan dalam waktu bersamaan menemukan sang petualang yang memberi pamannya topi merah, ada seorang perempuan jahat (Nicole Kidman) yang memburu si beruang. Wanita misterius pemilik museum menyeramkan itu ingin mengawetkan si beruang langka sebagai koleksi barunya.

Paddington merupakan karakter beruang yang lekat dengan masa kecil setiap masyarakat Inggris. Ia diciptakan Michael Bond pada 1926. Setengah abad kemudian, karakter itu muncul di televisi untuk pertama kalinya. Film animasinya dibuat pada 1990-an. Film Paddington yang rilis bulan lalu di Inggris, adalah yang terbaru. Film garapan Paul King itu menyuguhkan tontonan menghibur sekaligus penuh edukasi untuk anak-anak.

Seluruh adegan dibalut dengan humor yang mengocok perut, tapi tidak kacangan dan sekadar membuat tertawa. Di sela-sela dialog dan adegan, ada budaya Inggris yang diselipkan. Misalnya, kebiasaan orang Inggris berjalan cepat dan individualis pada jam sibuk Stasiun Paddington. Mitos bahwa penderita rematik bisa meramal cuaca lewat sakit di lututnya. Penjaga Kerajaan Inggris dengan seragam khas dan topi tinggi yang tak boleh bergerak sedikit pun.

Tapi di luar itu semua, Paddington menunjukkan bahwa sebagian warga Inggris, London terutama, masih punya hati. London bisa menjadi rumah untuk semua kalangan, bahkan beruang seperti Paddington.

Selain mengundang tawa setiap menit sekali, sutradara Paul King juga menguras air mata. Kesedihan penonton terpancing saat Paddington menyadari dirinya tak diinginkan. Penonton bahkan menjerit serempak saat dengan efek gerak lambat beruang bertopi merah dan mantel biru itu nyaris terjatuh ke api.

Tanpa disadari, keramahan, kejernihan mata, ketulusan, dan kepolosan Paddington merebut hati penonton. Beruang menggemaskan dengan kisah menarik simpati itu akan tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini (22/12). Ia bisa jadi tontonan tepat di musim libur anak Anda.