Mondo Gascaro, Dari Laci ke Eksistensi Diri

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 19/04/2015 16:23 WIB
Tidak minder, tapi Mondo mengaku kalau tidak mudah untuk membangun imej untuk karya barunya. Mondo Gascaro saat ditemui di Record Store Day 2015 di Bara Futsal, Jakarta, pada Sabtu (18/4). (Ardita Mustafa/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dulu dikenal sebagai keyboardist band Sore, saat ini Mondo Gascaro eksis dengan namanya sendiri.

Ditemui seusai tampil di perhelatan Record Store Day (RSD) 2015, Mondo bercerita banyak mengenai hari-harinya setelah tidak lagi tampil bersama band yang membesarkan namanya itu.

Diakui Mondo tidak sedikit pun terbersit rasa minder setelah tampil sendirian.


"Saya senang-senang saja berkarya sendirian. Ini bukan rencana dari awal, tapi kebetulan saja momennya pas," kata Mondo kepada CNN Indonesia di balik panggung RSD 2015.

Di atas panggung, Mondo membawakan karya-karyanya solonya. Penonton tahu siapa Mondo, tapi tidak ada satu pun yang memaksanya untuk membawakan lagu-lagu Sore.

"Penontonnya pengertian hehe.. Mereka pelan-pelan mulai memahami karya-karya saya," ujar pria yang sempat tampil di Java Jazz 2015 ini.

Mondo yang datang ditemani istrinya mengatakan kalau hasratnya kembali bermusik muncul sejak beberapa tahun yang lalu.

Ia merasa kalau musik adalah bagian dari hidupnya sehingga rasanya sayang jika tidak ditularkan dengan yang lain.

"Sejak kecil suka musik. Mulai serius selepas SMA. Inspirasi saya dari mana-mana terutama istri, anak, buku dan film," kata Mondo.

"Selain sound engineer, istri adalah orang pertama yang mendengar karya saya. Dia malah jarang bilang bagus haha... Tapi itu jadi masukan buat saya," lanjutnya.

Tidak minder, tapi Mondo mengaku kalau tidak mudah untuk membangun imej untuk karya barunya.

"Membuat band itu sulit lho, ibaratnya harus mampu membangun merk sendiri yang bisa membuat orang menyukai karya kita," ujar Mondo.

"Jadi saat ini saya berusaha menjalani dengan santai, supaya tidak terlihat pretensius. Manggung ayo, tidak manggung ya kerjakan pekerjaan yang lain," lanjut pria yang juga sibuk dengan proyek-proyek filmnya ini.
 
Di RSD, Mondo merilis kaset berisi dua lagu yang bertajuk Saturday Light/Komorebi.

Dicetak hanya 100 keping, kaset tersebut dijual Rp 50.000.

Baru setelah Lebaran tahun ini, Mondo berniat merilis album solo panjang pertamanya.

Selain mengoleksi karya orang lain, Mondo juga tidak lupa mengoleksi karyanya sendiri.

"Mengoleksi karya sendiri itu penting. Tapi tidak terlalu spesial sih, paling hanya ditaruh di laci," kata Mondo.

Dalam albumnya nanti, Mondo banyak menulis lagu dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

"Jujur, menulis lagu dalam bahasa Indonesia jauh lebih sulit karena bahasanya sangat luas. Kata 'saya' saja banyak macamnya. Kita harus pintar merangkai kata supaya tetap terdengar indah," kata Mondo.

Apakah akan dicetak secara terbatas lagi? Padahal saat ini banyak orang yang mengeluh kalau kesulitan mencari rekaman fisik sebuah band, apalagi indie.

"Ekslusivitas itu penting enggak penting sih. Kalau sudah tahu pasarnya ya enggak masalah mau cetak karya secara massal. Tapi bagi musisi indie rasanya hal tersebut sangat gambling ya. Jadi dicetak terbatas dan laku saja sudah bersyukur," ujar Mondo.

Bermusik di jalur indie, tidak menutup kemungkinan karya akan bebas pembajakan, begitulah yang dirasakan Mondo.

Tapi ia tetap yakin kalau pecinta musik sejati akan membeli karya asli, karena jauh lebih berkualitas.

"Pasarnya pasti berbeda. Orang yang download ilegal atau legal, pasti juga ingin memiliki karya asli karena artwork dan suaranya lebih bagus," kata Mondo menutup pembicaraan.

[Gambas:Youtube]

(ard/utw)