Terpikat Logat Kental dan Keluguan Papua

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2015 14:21 WIB
Terpikat Logat Kental dan Keluguan Papua Adegan film Epen Cupen. (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. Rapi Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Epen Cupen, parodi Papua yang kini diangkat ke layar lebar, diprediksi bakal meledak. Meski baru tayang hari ini, Rabu (13/5) Yan Wijaya salah satu pengamat film Indonesia meramalkan kekocakan Celo sebagai pemain utama yang asli Papua bakal merebut sampai 200 ribu penonton.

Apa yang membuat Epen Cupen bakal sefenomenal itu? Kekentalan cerita tentang Papua rupanya menjadi kekuatan. Sama seperti Denias, Senandung di Atas Awan atau Di Timur Matahari yang mengisahkan humanisme masyarakat lokal.

"Kita terbiasa dengan semua Jawa, sebagai etnis terbesar di Indonesia. Etnis lain seolah sangat asing, termasuk Papua. Rasanya asing sekali, baik dari etnis maupun budaya," ujar Yan menjelaskan saat dihubungi CNN Indonesia melalui telepon, Rabu (13/5) siang.


Epen Cupen bukan hanya menampilkan orang lokal sebagai pemain utama. Celo juga menyuguhkan keluguan yang khas Papua, dan memarodikannya.

"Apa pun yang diomongkan, bagi telinga kita yang terbiasa dengan Jawa ini, terdengar lucu," kata Yan lagi menerangkan. Logat Papua yang kental membalut film, adalah detail yang ditonjolkan karena dianggap sangat menarik.

Selain itu, Papua juga punya keluguan yang menjadi daya pikat. Bukan lantas menganggap masyarakat Papua bodoh atau terbelakang lalu menertawakannya. Menurut Yan, keluguan itu menyuguhkan sebuah kejujuran yang sederhana.

"Inspirasinya God Must be Crazy. Pasti pernah menonton kan? Film itu lucu sekali, tapi bukan karena menonjolkan kebodohan. Keluguan, kejujuran, itu yang penting," tuturnya. Ia menegaskan, sesuatu yang jujur dan lugu itu biasanya menggegerkan sebab orang kota terbiasa dengan hal-hal yang munafik.

"Jadi yang apa adanya itu sangat langka dan dianggap aneh," ujar Yan menambahkan.

Kemasan parodi adalah yang paling tepat membungkus logat khas dan keluguan itu. Namun, bukan berarti film yang mengangkat nama Papua tidak mungkin dikemas serius. Itu akan lebih bagus seperti Denias, Senandung di Atas Awan.

"Kalau dikemas dengan sangat serius, akan menjadi aset budaya yang berharga," ujar Yan.

(rsa/vga)