Formula agar Selebriti Indonesia Bisa Tembus Hollywood

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2015 14:22 WIB
Tak perlu memburu karier ke Hollywood. Cukup berfokus di sinema Tanah Air. Kelak Hollywood sendirilah yang akan memburu si selebriti hebat. Arifin Putra tak "ngoyo" memburu karier sampai Hollywood, dan lebih memilih berfokus di sinema Tanah Air. (CNN Indonesia/Vega Probo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia mulai punya nama di mata dunia. Aktor dan aktris dalam negeri mulai dikenal, bahkan diajak bermain di film-film asing. Joe Taslim mengawali kebanggaan dengan ikut menjadi penjahat dalam Fast & Furious 6. Terakhir, Ray Sahetapy terlibat Captain America 3.

Keduanya dikenal setelah membintangi The Raid. film kebanggaan Indonesia yang sampai ke Hollywood. Dibanding kawan-kawan sesamanya, Arifin Putra yang dalam The Raid 2: Berandal mendapat peran tak kalah penting, belum kecipratan bermain di film-film asing.

Diakui Arifin, menembus pasar Hollywood tidak semudah yang dibayangkan. Ia sendiri bukan tidak kedapatan durian runtuh The Raid, lokal maupun internasional. Namun untuk dilirik kiblat perfilman dunia, butuh upaya lebih.


"Joe Taslim itu dipilih langsung oleh sutradara Fast & Furious, yang kebetulan menonton dia di Toronto. Dia bilang, 'Saya mau dia' dan produsernya melaksanakan," ujar Arifin bercerita, saat mengunjungi kantor redaksi CNN Indonesia, beberapa waktu lalu.

Itu juga terjadi pada Ray Sahetapy. Ia ikut syuting Captain America: Civil War berdasarkan rekomendasi Gareth Evans, sutradara The Raid.

Jika tim produksi tidak memilih langsung, kata Arifin, aktor harus melalui proses casting yang tidak mudah. Saingannya ribuan orang, dari seluruh dunia. Apalagi setiap negara punya kebijakan melindungi tenaga kerja lokal. Mereka lebih dipilih dibanding aktor asing.

"Kalau mereka bisa menemukan orang yang mirip dengan yang diinginkan tapi lokal, itu yang akan dipilih," ujar Arifin. Ia mencontohkan, sebuah tim produksi Hollywood butuh peran oriental yang sekaligus bisa beradu fisik.

"Pilihannya Joe Taslim, Tony Jaa (peran antagonis di Furious 7 yang berasal dari Thailand), atau misalnya, John yang Amerika-China. Kalau mereka enggak perlu-perlu banget, John yang dipilih," kata Arifin menjelaskan.

Ia mengerti formula itu dari seorang casting director yang ditemuinya saat ikut workshop akting di Berlinale, beberapa waktu lalu. Debbie McWilliams, penyaring bintang untuk 10 film James Bond terakhir, yang membuka matanya soal perlindungan bagi tenaga lokal.

"Dia bilang, 'Guys, saya tahu kalian pasti mau ke UK atau Hollywood. Sebaiknya jangan,'" kata Arifin menceritakan bagaimana McWilliams mengawali "ceramah" inspiratifnya. "Artis yang memburu peran ke Hollywood, menurut McWilliams, ujung-ujungnya hanya akan menjadi pelayan restoran. Bakatnya tak terpakai.

"Dia menyarankan, jadilah aktor terbaik di negara masing-masing, jadilah raja di sana. Kalau suatu saat dia perlu orang dengan kriteria itu, kita akan jadi orang pertama yang dia cari," kata aktor 28 itu menambahkan. Dari situ, ia baru memahami pola yang ada.

Arifin pun maklum. Kalau pun ia memaksa datang ke casting director seperti McWilliams di Inggris atau Amerika, ia hanya akan jadi selintas lewat. Saingannya ribuan orang, jauh lebih banyak daripada bersaing di negeri sendiri. "Jadi kalau sudah ada karier di negara kita, fokus saja di situ," ucap Arifin.

Ia pun memilih berusaha menjadi aktor terbaik di Indonesia, yang saingannya hanya segelintir, tapi bisa jadi cukup menonjol untuk mencuri perhatian insan film dunia. (rsa/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK