"Semuanya berubah ketika saya beranjak dewasa dan berkenalan dengan Stefanus, teman saya yang sering dipanggil Anus," ujar Irfan di sela jumpa pers di Jakarta, baru-baru ini.
Irfan dengan agama Islam, awalnya, mengikat tali persahabatan kencang dengan Stefanus yang beragama Kristen. Namun kelamaan tali itu mengendur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu kerusuhan besar-besaran dan etnis China tersingkir. Saya bertemu pendidikan perdamaian melalui Mizan Group. Bagaimana pendidikan tanpa kekerasan," kata Irfan tentang kelompok penerbitan tersebut.
Haidar pun dengan cepat mengangguk setuju. Irfan akan membuat sistem pendidikan perdamaian dengan basis toleransi keberagaman ke seluruh Indonesia.
Lihat juga:Seni Tak Tenggelam Ditelan Lumpur Lapindo |
"Namun, waktu itu ada yang menolak, salah satunya Aceh. Mereka anggap buku ini hasil dari murid orang Amerika," tutur Irfan.
Ia pun tak mau kalah. Irfan bertekad untuk membuktikan bahwa siapa pun rekan menulisnya, tidak akan mengubah konten. Akhirnya, justru salah satu organisasi Aceh yang menerima modul tersebut.
Dibantu Unicef, Irfan pun mengajukan proyek pendidikan ini ke British Council Awards. "Saya menawarkan proyek enterpreneur, tapi sosial, sustainable, dan dapat bertahan di Indonesia," ucap Irfan.
Lihat juga:Lantunan Pilu Glenn Fredly untuk Angeline |
Kini, modul tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya adalah Tagalog, Inggris, Melayu, dan Aceh. Tak hanya dalam versi Islam, modul tersebut juga sudah tersedia dalam versi Kristen. "Kami juga sedang berusaha untuk buat versi Hindu dan Yahudi," tandas Irfan.
Tak bergerak dengan tangan sendiri, Irfan menebarkan jaringan Peace Agent-nya ke seluruh pelosok Indonesia. Sekarang, Peace Generation sudah memiliki tujuh generasi dengan 30 ribu agen.
Puluhan ribu orang tersebut pun diberi bekal untuk melakukan berbagai aktivitas menarik dalam mempromosikan toleransi keberagaman. "Ada Rock the Peace itu konser damai, Breaking Down the Walls di sekolah, Walk the Peace Bandung, dan Peacesantren," papar Irfan.
"Waktu itu Peace Generation menggabungkan pesantren dengan sekolah internasional bersama bermurid bule dalam satu pertandingan basket. Pesantren anggap bule kafir, bule anggap pesantren fundamentalis," tutur Haidar.
Namun, jurang pikiran pemisah tersebut akhirnya terjembatani. "Tidak ada perpecahan karena mereka lihat di sana semua berkomunikasi dengan baik," kata Haidar.
Irfan tak lantas tenang. Sebuah obrolan dengan mantan mujahidin dari Afghanistan menyadarkannya.
Lihat juga:Menuai Falsafah Lakon Sumantri dan Sukrasana |
Setelah mendengar komentar tersebut, Irfan tersentak. Ia teringat dengan jejaring organisasinya yang luas, tapi tak saling mengenal.
"Peace Generation punya kurikulum pengajaran damai yang disebarkan di seluruh Indonesia, tapi tidak saling kenal. Akhirnya, saya data ulang 30 ribu relawan itu dan kami lakukan sertifikasi dengan pelatihan-pelatihan," ucapnya.
Konsultasi dengan berbagai pihak pun Irfan jalani. "Salah satunya dengan kelompok pendukung Persib karena cara mereka membentuk organisasi dan militansi mereka patut dicontoh," kata Irfan.
Kini, Irfan siap membawa Peace Generation untuk menjadi agen perdamaian yang lebih militan alias berhaluan keras dari kelompok teror.
(vga)