Peace Generation, Agen Perdamaian Berhaluan Keras

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 12/06/2015 10:10 WIB
Aktivitas toleransi keberagaman yang dijalankan: Rock the Peace, Breaking Down the Walls, Walk the Peace Bandung, dan Peacesantren. Ilustrasi Perdamaian (geralt/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Masa kecil saya seperti surga," kata Irfan Amalee, penggagas Peace Generation. Ia tumbuh sebagai anak yang memiliki segudang teman, tanpa memandang perbedaan suku dan agama.

"Semuanya berubah ketika saya beranjak dewasa dan berkenalan dengan Stefanus, teman saya yang sering dipanggil Anus," ujar Irfan di sela jumpa pers di Jakarta, baru-baru ini.

Irfan dengan agama Islam, awalnya, mengikat tali persahabatan kencang dengan Stefanus yang beragama Kristen. Namun kelamaan tali itu mengendur.


"Semakin belajar agama, kami justru semakin banyak prasangka. Saya masuk Universitas Islam Nasional, mempelajari hadis, dan saya putus hubungan dengan dia," tuturnya.
Tak disangka, luka bekas putusnya hubungan akibat perbedaan tersebut justru membawa Irfan untuk lebih menyelami makna toleransi. Semuanya bermula pada 1998.

"Waktu itu kerusuhan besar-besaran dan etnis China tersingkir. Saya bertemu pendidikan perdamaian melalui Mizan Group. Bagaimana pendidikan tanpa kekerasan," kata Irfan tentang kelompok penerbitan tersebut.

Belajar dan ditempa, akhirnya Irfan memasuki masa penulisan buku mengenai Islam, pada 2001-2005. Sudah banyak buku dicetak, hingga akhirnya pada 2007 Irfan menghadap salah satu CEO Mizan Group Haidar Bagir, dan berkata, "Saya mau buat proyek yang tidak menguntungkan."

Haidar pun dengan cepat mengangguk setuju. Irfan akan membuat sistem pendidikan perdamaian dengan basis toleransi keberagaman ke seluruh Indonesia.
Meniti jalan ke tujuan mulianya, Irfan menggandeng Lincoln, seorang Kristen dari Amerika, untuk berkolaborasi membuat buku pedoman dalam versi Islam. Berbekal sebuah dummy, Irfan menawarkan konsep buku tersebut kepada banyak sekolah.

"Namun, waktu itu ada yang menolak, salah satunya Aceh. Mereka anggap buku ini hasil dari murid orang Amerika," tutur Irfan.

Ia pun tak mau kalah. Irfan bertekad untuk membuktikan bahwa siapa pun rekan menulisnya, tidak akan mengubah konten. Akhirnya, justru salah satu organisasi Aceh yang menerima modul tersebut.

Dibantu Unicef, Irfan pun mengajukan proyek pendidikan ini ke British Council Awards. "Saya menawarkan proyek enterpreneur, tapi sosial, sustainable, dan dapat bertahan di Indonesia," ucap Irfan.
Dengan gemilang, proyek tersebut membawa Irfan ke pentas British Council, menerima piala International Young Creative Enterpreneur Award 2008.

Kini, modul tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya adalah Tagalog, Inggris, Melayu, dan Aceh. Tak hanya dalam versi Islam, modul tersebut juga sudah tersedia dalam versi Kristen. "Kami juga sedang berusaha untuk buat versi Hindu dan Yahudi," tandas Irfan.

Tak bergerak dengan tangan sendiri, Irfan menebarkan jaringan Peace Agent-nya ke seluruh pelosok Indonesia. Sekarang, Peace Generation sudah memiliki tujuh generasi dengan 30 ribu agen.

Puluhan ribu orang tersebut pun diberi bekal untuk melakukan berbagai aktivitas menarik dalam mempromosikan toleransi keberagaman. "Ada Rock the Peace itu konser damai, Breaking Down the Walls di sekolah, Walk the Peace Bandung, dan Peacesantren," papar Irfan.
Keberhasilan Peace Generation pun sudah diakui oleh Haidar. Salah satu programnya, Breaking Down the Walls, bahkan akan diangkat ke layar lebar.

"Waktu itu Peace Generation menggabungkan pesantren dengan sekolah internasional bersama bermurid bule dalam satu pertandingan basket. Pesantren anggap bule kafir, bule anggap pesantren fundamentalis," tutur Haidar.

Namun, jurang pikiran pemisah tersebut akhirnya terjembatani. "Tidak ada perpecahan karena mereka lihat di sana semua berkomunikasi dengan baik," kata Haidar.

Irfan tak lantas tenang. Sebuah obrolan dengan mantan mujahidin dari Afghanistan menyadarkannya.
"Waktu itu mereka bilang, kalau mau menyebarkan perdamaian, tiru kaum militan. Organisasi jelas, ada mentoring, ada tahap pembinaan, termasuk jaminan keluarga," tuturnya.

Setelah mendengar komentar tersebut, Irfan tersentak. Ia teringat dengan jejaring organisasinya yang luas, tapi tak saling mengenal.

"Peace Generation punya kurikulum pengajaran damai yang disebarkan di seluruh Indonesia, tapi tidak saling kenal. Akhirnya, saya data ulang 30 ribu relawan itu dan kami lakukan sertifikasi dengan pelatihan-pelatihan," ucapnya.

Konsultasi dengan berbagai pihak pun Irfan jalani. "Salah satunya dengan kelompok pendukung Persib karena cara mereka membentuk organisasi dan militansi mereka patut dicontoh," kata Irfan.

Kini, Irfan siap membawa Peace Generation untuk menjadi agen perdamaian yang lebih militan alias berhaluan keras dari kelompok teror.

(vga)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK