Sutradara Akui 'United Passions' FIFA sebagai Bencana

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 18/06/2015 19:58 WIB
United Passions gagal merebut minat publik. Pekan pembukaan film itu hanya meraup Rp 12 juta. Sutradara Frederic Auburtin pun menyesal terlibat. Dalam United Passions, Sepp Blatter dimainkan Tim Roth. (REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia -- United Passions mencoreng dunia perfilman. Film yang dibuat FIFA itu minim peminat. Rating-nya di Rotten Tomatoes nol persen. Penontonnya saat premiere hanya dua orang. Kritikus mencelanya sebagai film paling tidak layak tonton tahun ini.

Film itu mengisahkan sejarah FIFA selama 111 tahun. Dalam United Passions, Sepp Blatter yang menjadi presiden FIFA sejak 1998 diagungkan sebagai sosok yang lihai mencari sponsor. Blatter diperankan aktor Tim Roth.

Di tengah skandal korupsi FIFA dan ditangkapnya para petinggi otoritas sepakbola dunia itu, United Passions krisis peminat.


Sang sutradara, Frederic Auburtin, bahkan menyesali keterlibatannya. Mengutip The Guardian, ia menyebut filmnya sebagai bencana.

Sebenarnya, dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Auburtin menyatakan ingin menggabungkan film propaganda ala Disney dengan karya Costa Gavras atau Michael Moore.

Namun ia di bawah bayang-bayang FIFA. Film yang disutradarainya diproduksi dengan biaya 24 juta euro atau sekitar Rp 360 miliar. FIFA mengeluarkan dana sebesar 20 juta euro atau Rp 300 miliar untuk membiayai keseluruhannya.

Tapi dalam pembukaan di Amerika Serikat, di minggu pertama film itu hanya mendapat US$ 918 atau Rp 12 juta. Ia mendapat ulasan buruk. Bintangnya sendiri, Roth bahkan mengklaim peran yang dimainkannya akan membuat ayahnya menggali liang lahat sendiri.

"Sekarang saya dilihat seperti pria jahat yang membawa AIDS ke Afrika atau menyebabkan krisis finansial," ujarnya dengan menyesal. "Nama saya disebut di segala kekacauan ini dan saya dianggap seorang propaganda yang membuat film untuk mereka yang korupsi," ia melanjutkan.

Ia membocorkan, proyek film FIFA itu sebenarnya bermasalah sejak awal, saat FIFA memintanya siap dirilis musim panas 2014. Auburtin hanya punya empat bulan untuk menyiapkan skenario. Naskah awal, kata Auburtin, adalah tentang investigasi korupsi.

"Gambar pertama yang kami ambil, yang tentu saja sekarang akan dilihat sebagai ironi, adalah sorot lampu dan sirene menghampiri para petinggi FIFA pada dini hari," ujar Auburtin. Tapi entah apa yang terjadi pada gambar itu.

FIFA terlalu banyak ikut campur dalam filmnya. Otoritas itu bahkan membuatkan judul: Men of Legend. "Bisa Anda bayangkan judul apa itu? Itu tidak masuk akal. Lalu, ada lagi judul The Dreammaker. Oh, ayolah, masa begitu," Auburtin mengeluhkan.

[Gambas:Youtube]

Uniknya lagi, ia bahkan mengaku tidak tahu film itu bakal dirilis di AS, sampai seorang jurnalis memberi tahunya. Ia langsung merasa seperti korban. "Saya korban dalam sebuah permainan," ujar sutradara Perancis itu.

Auburtin menambahkan, "Itu bencana, tapi bukan itu intinya, saya menerima pekerjaan itu. Tapi saya tidak dibayar untuk menjadi Che Guevara dari bisnis olahraga. Tolong jangan buat saya merasa seperti orang yang bertanggung jawab untuk fakta bahwa FIFA adalah busuk," katanya.

Saat ini, ia disebut-sebut sedang membuat sekuelnya, tentang kontroversi FIFA sekarang.

(rsa/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK