Liputan Khusus Ultah Jakarta

Lenong Preman Modern, Warisan Berharga Mpok Nori

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 23:35 WIB
Lenong Preman Modern, Warisan Berharga Mpok Nori Pertunjukan Lenong "We Love Mpok Nori" di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta (21/6). (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. Galeri Indonesia Kaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Macan mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, Mpok Nori mangkat mewariskan Sinar Noray Grup yang memainkan lenong dan gambang kromong khas Betawi.

Pada akhir pekan kemarin (21/6), kelompok binaan seniman bernama asli Nuri Sarinuri ini mempertunjukkan lakon We Love Mpok Nori di Galeri Indonesia Kaya (GIK), kawasan Thamrin, Jakarta.

Usai berpentas, dua personel kelompok ini, Engkar Karmila dan Bang Cablak mengisahkan peran Mpok Nori—yang mereka sapa Emak Haji—mendirikan grup lenong dan gambang kromong tersebut.


"Jadi bikin grup Noray itu dadakan dan enggak sengaja,” kata Bang Cablak. Saking mendadaknya, Emak Haji menalangi pembelian alat musik gambang kromong dengan menggunakan uangnya sendiri.

“Musiknya Sinar Noray nih, gembrang-gembrong,” jelas Bang Cablak. Tak jarang musik khas kelompoknya dilihat dan ditiru penampil lain di stasiun televisi.

Selama ini, Sinar Noray aktif menggelar lakon lenong preman, ber-genre horor. Menurut Bang Cablak, ini salah satu cara Mpok Nori memodernkan lenong.

"Anak sekarang kan maunya yang modern, jadi dengan cara itu Emak Haji Nori bikin yang enggak suka, jadi suka. Mungkin perpaduan lah antara lenong preman dan modern," jelas Cablak.

"Jadi emak yang milih lawakannya, lagu-lagunya, sama setannya juga," ujar Engkar.

Memainkan lenong membutuhkan kemampuan tinggi dalam berimprovisasi. Engkar mengaku, ibundanya kerap mendorong anggota Sinar Noray agar pandai melawak secara spontan.

"Emak haji itu cap tembak sama anak-anaknya. Jadi pake otak sendiri dan lebih spontan,” ucap Engkar. "Spontanitas, jadi ortodoks banget," imbuh Cablak.

Engkar dan Bang Cablak mengaku tak pernah tampil di ampiteater. Momen di GIK adalah pengalaman pertama. Keduanya tak menampik kenyataan: pegiat lenong kerap terpinggirkan.

"Kami kadang merasa miris, sebagai orang Betawi yang punya seni budaya Betawi, tapi kenapa adanya pinggiran doang?” kata Bang Cablak. “Budaya kami kadang dikebelakangkan, kurang ditonjolkan.”

Dalam pandangan Bang Cablak, pertunjukan budaya asing atau kelas atas lebih mendapat tempat di Ibu Kota. Sementara lenong, menurutnya, “ada tapi kurang ditonjolkan. Kadang-kadang kami ngerasa sedih.”

Pandangan serupa juga disampaikan Engkar yang tak lain putri Mpok Nori. Media televisi yang dulunya mengangkat nama lenong, menurutnya, kini mulai “lupa.”

"Makanya kami berharap ya, tolonglah untuk Dinas Kebudayaan Betawi, tolong budaya Betawi digalakkan banget. Siapa pun orang Betawinya,” pinta Bang Cablak.

Bang Cablak tak ingin budaya asing yang tak kita ketahui seluk beluknya disuguhkan begitu saja. Ia juga menolak keras “ondel-ondel hanya dipasang saat ulang tahun Jakarta doang.”

(vga/vga)