Liputan Khusus Ultah Jakarta

Kelakar Kasar Bukan Karakter Lenong Betawi Asli

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 15:15 WIB
Kelakar Kasar Bukan Karakter Lenong Betawi Asli Lenong Betawi saat pentas di Bentara Budaya Jakarta. (CNN Indonesia/Vega Probo)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Eh, penontooon..."

"Ooooy!"

Interaksi itu biasa terdengar di acara lenong yang ditayangkan di televisi. Namun, menurut salah satu anggota Komite Kesenian dan Pemasaran Lembaga Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Indra Sutisna, interaksi itu tidak ada dalam lenong asli.


"Di lenong tidak ada interaksi. Kalau yang ada interaksi itu sebenarnya adalah samrah, dulu dipopulerkan oleh Mat Solar," ujar Indra kepada CNN Indonesia pada Sabtu (20/6).

Menurut Indra, memang ada beberapa perbedaan mendasar antara lenong yang biasa disiarkan di televisi dengan karakter lenong sebenarnya. Salah satu aspek paling menonjol adalah gaya bertutur yang keras, adanya kelakar kasar, dan pembicaraan tak bermoral.

Sejatinya, lenong tercipta ketika masyarakat Betawi sedang mencari cara untuk menyampaikan pesan baik kepada warga sekitar. Kesenian lain seperti tari dan silat memang bisa menyampaikan pesan. Namun, tak ada bahasa ucap dalam seni itu. Pesan pun sulit tersampaikan.

"Akhirnya kita pikirkan bagaimana cara menyampaikan pesan dengan cara menyenangkan. Terciptalah konsep lenong," tutur Indra.

Lenong preman dan denes

Konsep lenong sebenarnya sangat teratur. Ada plot cerita dan babak-babak adegan yang sudah dipersiapkan layaknya pementasan teater.

"Lenong ada pakemnya. Cerita tutur, berdurasi, ada bagian-bagian dalam penyajian, ada pesan yang harus sampai ke penonton. Bukan hanya untuk hiburan," ucap Indra menjelaskan.

Di setiap adegan, disuguhkan berbagai permasalahan yang disampaikan dengan gaya banyolan hingga akhirnya mencapai titik simpulan. Di akhir lenong, akan ada pesan moral yang diterima oleh penonton.

Bicara lenong Betawi, sebenarnya ada dua aliran besar. Lenong dengan kisah keseharian ini termasuk dalam lenong preman. "Dulunya, pasti ada tokoh jagoan atau jawara silat dalam lenong preman. Sekarang bisa disesuaikan dengan pesan yang mau disampaikan, jadi tidak harus ada preman atau jago silatnya."

Selain lenong preman, dikenal pula lenong denes. "Kalau lenong denes itu ceritanya lebih fiksi. Ada Jula Juli Bintang Tujuh. Ada yang ceritanya orang lagi pusing, naik layang-layang, jatuh ke negeri China. Mana ada orang naik layang-layang sampai ke negeri China? Itu fiksi. Bukan keseharian," ujar Indra.

Bahasa yang digunakan dalam lenong denes juga biasanya lebih tinggi. Kostum yang dipakai pun mewah dan bergaya kerajaan, disesuaikan dengan ceritanya yang memang fiksi.

Ilustrasi lenong Betawi. (CNN Indonesia/Vega Probo)
Latihan yang berat

Lenong Betawi yang asli harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Ada latihan yang berat di belakangnya. Tujuannya, pesan tersampaikan secara maksimal. "Mendalami karakter dan menggodok pesan yang ingin disampaikan bisa memakan waktu enam bulan latihan," kata Indra.

Namun di tengah masyarakat modern yang serba instan, konsep itu tertekan. "Dari penonton juga ada pergeseran selera, mereka suka humor instan seperti di televisi, padahal sama sekali enggak mendidik," kata Indra.

Sedikit banyak, itu memengaruhi semangat pelaku lenong. "Latihannya empat sampai lima kali dalam lima sampai enam hari. Begitu tampil, enggak ada apresiasi dari penonton. Pada pulang. 'Yaelah, gue latihan kayak begini. Nyang ono, nyang kagak latihan, lawakan ulangan, malah laku,'" tutur Indra.

Meskipun sesak, masih ada beberapa sanggar lenong yang mencoba bertahan dengan mencuri napas. Segala upaya dilakukan agar detak jantung lenong yang beretika tetap berdetak.

"Di TV, untuk kebutuhan media dan pasar, norma dan etika dilewatkan. Kalau lenong memang untuk mengedukasi, menyampaikannya juga harus mengedukasi. Tontonan harus menjadi tuntunan," ucap Indra menegaskan filosofi lenong asli.

(rsa/rsa)