Jumlah penulis masih sangat sedikit. Pada 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Jumlah penerbit pun kurang. Anggota IKAPI yang tercatat, kata Lucya, ada 1.300-an. Namun yang aktif hanya 700 sampai 800 penerbit.
"Penerbit terpusat di Jawa. Di Sumatra ada sedikit. Di Kalimantan dan Sulawesi ada, tapi belum banyak. Seharusnya penerbit itu ada di setiap provinsi, jadi ada kearifan lokal. Tapi kita masalahnya minat baca," kata Lucya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, minat baca kalangan muda lebih tertuju pada fiksi atau novel yang memiliki alur cerita seringan tayangan FTV atau film televisi yang biasa disiarkan beberapa stasiun televisi swasta.
Dari sisi pengarangnya sendiri, diakui Antonius, juga tak banyak perkembangan. Kebanyakan mereka pun mengkreasikan bacaan nge-pop seringan FTV. Evolusi pengarang di Indonesia tak berlangsung ekstrem.
Sebenarnya, industri buku tak lepas dari penawaran dan permintaan, seperti rumus yang berlaku pada kegiatan ekonomi apa pun. Saat permintaan meningkat, penawaran pun tinggi. Masalahnya saat ini penawaran rendah, dan permintaan lebih rendah lagi. Menurut Lucya, itu berhubungan dengan masa lampau.
"Histori kita itu budaya lisan. Kita belum sempat membina literasi, sudah diganggu sama teknologi," ujar Lucya. Jarang ada orang tua membacakan anak buku cerita menjelang tidur, misalnya. Yang ada justru mereka disodori gadget.
Tingkat literasi di Indonesia boleh tinggi. Ketua Komite Nasional Pelaksanaan Frankfurt Book Fair 2015, Goenawan Mohamad pernah menyebut tingkat literasi Indonesia 93 persen. Itu salah satu faktor tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015.
Namun menurut Lucya, itu belum dibarengi minat baca yang juga tinggi. "Literasi itu soal baca tulis. Karya kita memang bagus. Komunitas penulis bermunculan, tapi jarang ada yang baca," ucapnya.