Jika merasa harga tiketnya terlalu mahal, coba tengok Australia, Jepang, atau Swiss. Menurut Humuch yang mengumpulkan kisaran harga bioskop dari seluruh dunia, Indonesia ada di peringkat enam terbawah, persis setelah Malaysia.
Di Australia, pada 2013 harga tiket bioskop mencapai US$ 31,94 atau Rp 426 ribu. Ada selisih yang cukup jauh dibanding Jepang, yang berada di peringkat ke-dua tertinggi, dengan harga US$ 19,91 atau sekitar Rp 265 ribu. Di Swiss, harganya US$ 19,61 atau Rp 261 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiket bioskop di Indonesia rata-rata dibulatkan pada harga US$ 4, jika dirupiahkan menjadi Rp 53 ribu. Meski pada kenyataannya, ada harga tiket yang lebih murah dan mahal.
Meski tidak ada peningkatan jumlah penonton, film Indonesia tetap rata-rata 15 juta orang per tahun, masyarakat tetap haus menonton. Jika ingin memajukan film domestik, itu harus dimanfaatkan. Film harus dibarengi kualitas agar penonton tak kehilangan kepercayaan.
Menurut Catherine, digitalisasi film membuat biaya produksi bisa ditekan. Sineas berbondong-bondong bikin film. Alhasil, kualitasnya kurang terjaga. Itu mengecewakan penonton yang berharap pada film Indonesia.
"Jangan kecewakan penonton. Karena sekali kecewa, perlu waktu untuk mengembalikan kepercayaan mereka untuk menonton film Indonesia," ujar Catherine memberi saran.
(rsa/rsa)