Setelahnya, ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Perancis untuk memperdalam pengetahuannya mengenai piano di Ecole Normale de Musique. Tak puas, Slamet pun terus mengembangkan diri secara autodidak.
"Bapak itu gemar sekali baca buku, kalau baca buku luar biasa cepat, tiga buku habis dalam satu hari," kata Tiring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya, meski menguasai lima bahasa sekaligus, Slamet enggan menggunakannya jika berkomunikasi dengan orang Indonesia atau dalam kehidupan sehari-hari. Dirinya justru marah bila ada orang yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Pecinta masakan Jawa seperti rawon dan sambal orek tempe ini juga terkenal gemar memberikan ilmunya. Semasa menjadi ketua jurusan Musik di Institut Kesenian Jakarta, Slamet terkenal gemar mengajar hingga melebihi waktu kuliah.
Selain itu, Slamet pun gemar memberikan apresiasi bagi muridnya bila dinilai sangat berbakat. Kebaikannya tersebut pernah diprotes oleh Tiring, lantaran dianggap terlalu baik.
"Mungkin karena Bapak itu mengajar dengan hati, dan dirinya juga tidak memandang status sosial muridnya," kata Tiring.