Mengutip Reuters, itu menjadi film animasi dengan debut terlaris ke-dua dalam sejarah. Film lepas dari Despicable Me itu mengekor di belakang Shrek the Third yang rilis 2007. Pada pekan pembukaan, Shrek meraup penghasilan US$ 121,6 juta atau setara dengan Rp 1,6 triliun.
Salah satu keunggulan Minions adalah biaya produksinya yang rendah. Produser Chris Meledandri mampu menekannya sampai hanya US$ 74 juta atau Rp 984 miliar, termasuk sederhana dibanding film Pixar dan DreamWorks Animation yang biasanya dibiayai lebih dari US$ 100 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buktinya, Minions langsung menjadi tren, bukan hanya di layar lebar. Dekorasi di pusat perbelanjaan, perlengkapan sekolah anak, sampai hadiah di gerai-gerai makanan cepat saji pun Minions. "Mereka ada di mana-mana, makhluk kuning itu. Entah bagaimana mereka eksis di budaya, bahkan tanpa menarik filmnya untuk terus lekat dengan mereka," kata Carpou.
"Para Minions adalah bintangnya Despicable Me. Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa menyukainya," kata analis Exhibitor Relations itu melanjutkan. Minions unggul dibanding film-film lain yang rilis berbarengan, seperti Self/Less dan teror hantu The Gallows.
Minions bahkan menyingkirkan penguasa box office beberapa pekan terakhir, yakni dinosaurus Jurassic World. Film yang dibintangi Chris Pratt itu turun ke posisi ke-dua box office, disusul Inside Out di posisi ke-tiga. Keseluruhan tiket penjualan naik 40 persen dibanding periode tahun lalu.
(rsa/rsa)