'Gangster,' Ketegangan yang Menyenangkan

Nadi Tirta Pradesha, CNN Indonesia | Kamis, 27/08/2015 16:52 WIB
'Gangster,' Ketegangan yang Menyenangkan Adegan di film Gangster. (CNNIndonesia/Dok. Starvision Plus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gangster, dari judulnya saja sudah terbayang adegan “klasik” yang didominasi aksi kejar-kejaran, baku tembak dan baku tinju antara si baik melawan bandit, juga makian sarkas.

Namun tidak demikian halnya Gangster (2015) garapan Fajar Nugros. Sineas yang pernah menyutradarai Cinta Brontosaurus (2013) ini menampilkan kisah bandit yang tak berdarah-darah.

Gangster versi Nugros menampilkan aksi berbumbu drama dan humor yang segar, menjadikannya tontonan serta perspektif baru tentang bagaimana film aksi lokal dapat diolah.


Film ini menceritakan tentang perjalanan Jamroni (Hamish Daud) ke Ibu Kota untuk menemui orang tuanya sekaligus mencari sahabat kecilnya, Sari (Eriska Rein).

Di tengah perjalanannya, Jamroni terhimpit duel dari berbagai penjuru, Hastomo (Agus Kuncoro) dan Amsar (Dwi Sasono). Namun dari sini, sorotan justru beralih dari Jamroni ke Amsar.

Hadirnya tokoh antagonis Amsar dan anggota Front Pembela Keadilan Bersama (FPKB) lantas meminggirkan tujuan utama Jamroni datang ke Jakarta untuk mencari orang tua dan sahabatnya.

Gangster sepertinya kesulitan mengakhiri film karena telanjur mengalihkan fokus pada pertarungan Hastomo-Amsar. Alurnya menggantung, layaknya petinju yang tak mampu melayangkan pukulan akhir.

Di sisi lain, Gangster menampilkan sinematografi variatif. Suasana pedesaan dihadirkan di awal cerita dengan mode bird-eye view. Begitu pun nuansa keras dan metropolis Jakarta.
 
Urusan koreografi pun sama unggulnya. Di bawah arahan komedian tunggal, McDanny, adegan pertarungan Gangster tak melulu berisikan baku hantam bertempo cepat.

Tempo pertarungan realistis, layaknya pertarungan jalanan. Beberapa adegan fokus pada pengejaran, bukan pertarungan, khususnya saat pembunuh bayaran Sueb (Ganindra Bimo) memburu Jamroni.

Adegan laga Gangster mengalir seperti musik, contohnya ketika Si Jangkung (Yayan Ruhian) dengan pacarnya (Dian Sastrowardoyo) dan asisten Amsar (Kelly Tandiono) bertarung diiringi scoring tango.

Salah satu elemen segar dalam Gangster adalah alur cerita dan tempo yang berdenyut, cerita pun dapat diserap dahulu sebelum kembali masuk ke dalam ketegangan laga.

Tanpa perlu mengumbar makian atau pertumpahan darah, toh karakter Amsar tetap terkesan kejam dengan gaya bicara santai (bahkan sopan), Sueb pun beringas walau minim dialog.

Boleh dibilang, Amsar dan Hastomo lah sentral film ini, bukan Jamroni. Seakan bermain catur dengan kekuasaan, bisnis mereka gagal kemudian menyebabkan perseteruan yang menyetir Gangster.

Aksi laga tak berdarah-darah di Gangster. (CNNIndonesia/Dok. Starvision Plus)
Dwi Sasono dan Agus Kuncoro menampilkan akting jempolan, di mana Amsar sebagai antagonis terlihat betul menikmati hidup tapi pada saat bersamaan juga beraura kejam.

Hastomo pun memiliki pertentangan serupa: family man yang sarat kecamuk konflik batin. Ia memperlihatkan kekuatannya saat mengancam Jamroni dengan pisau buah hingga menitikkan air mata.

Secara utuh, sinematografi dan koreografi Gangster menjadi aspek penting yang membungkus keseluruhan cerita. Sayang, adanya "plot twist" justru menyurutkan unsur kejutan.

Meskipun lemah dalam plot, namun tetap menghibur dan menyenangkan untuk ditonton. Porsi komedi cerdik—bukan slapstick—dalam Gangster juga berada di taraf pas.

Salah satu andalan film yang naskahnya ditulis oleh Jujur Prananto ini adalah black humor atau humor satir yang hadir di momen tepat sehingga mampu menggelitik secara konstan.

Siapa bisa menahan tawa melihat momen romantis Sari menyuapi Jamroni dengan interupsi suara kambing, atau Amsar yang mengaku sedang berada di panti asuhan namun sebenarnya berada di spa.

Ada juga adegan pengenalan Sueb pembunuh berdarah dingin sebagai koki roti. Semua adegan dalam balutan black humor itu membuat Gangster layak disebut ketegangan yang menyenangkan.

[Gambas:Youtube]

[Gambas:Youtube]

(vga/vga)