Kontroversi Film Nabi Muhammad, Film Termahal Iran

Rizky Sekar Afrisia | CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2015 09:15 WIB
Negara Iran yang identik dengan konflik membuat film berbujet termahal berjudul Mohammad, Messenger of God. Ilustrasi Iran (CNNIndonesia Reuters Photo/TIMA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalau masih menganggap film berbujet mahal hanya bisa dibikin blockbuster Hollywood, coba lihat India. Baru-baru ini industri Bollywood membuat film berbujet termahal sekaligus poster film terbesar. Kali ini, negara yang identik dengan konflik, Iran pun menyusul.

Reuters memberitakan, Iran baru saja membuat film yang bujetnya memecahkan rekor negaranya, US$40 juta atau setara dengan lebih dari Rp560 miliar. Film itu bahkan disutradarai nomine Oscar, Majid Majidi. Tak main-main, film yang disponsori negara itu berjudul Mohammad, Messenger of God.

Itu merupakan film tentang kisah hidup Nabi Muhammad, atau Rasul Allah bagi umat Muslim. "Saya membuat film ini untuk memerangi gelombang baru Islamofobia di dunia Barat. Interpretasi Barat atas Islam adalah penuh kejahatan dan terorisme," ujar Majidi saat diwawancara Hezbollah Line, majalah konservatif di kalangan Iran.


Mohammad, Messenger of God adalah film pertama dari trilogi kehidupan Nabi Muhammad yang direncanakan Majidi. Film itu berdurasi 171 menit, dan fokus pada kehidupan masa kecil Sang Nabi.

Sebagaimana aturan dalam Islam untuk, wajah Nabi Muhammad sama sekali tidak diperlihatkan dalam film itu. Sekali waktu Nabi Muhammad hanya diperlihatkan sebatas bayangan. Waktu yang lain lagi kamera digunakan sebagai "mata" Nabi Muhammad sehingga penonton bisa melihat sudut pandangnya.

Sekali, ditampakkan seorang bocah laki-laki sedang bermain. Ia diibaratkan Muhammad, tetapi hanya ditampakkan dari belakang. Tidak dijelaskan siapa aktor lelaki muda itu.

Film itu baru dirilis di Iran, Kamis (27/8) lalu. Diprediksi film itu akan memecahkan rekor box office domestik. Namun masalahnya, ada golongan yang meminta film itu dilarang tayang di Iran. Mengutip Reuters, Universitas Al-Azhar di Mesir tidak puas dan meminta itu dilarang. Diketahui, Al-Azhar merupakan kampus Sunni prestisius di sana.

"Masalahnya sudah jelas. Syariah melarang mewujdkan Nabi," ujar Profesor Abdel Fattah Alawari, dekan Fakultas Teologi Islam di Al-Azhar. Itu berkaitan dengan kehidupan sang aktor yang memerankan Muhammad. Di kehidupan nyata, bisa saja ia pemabuk atau pemain perempuan. "Itu tidak bisa diterima," katanya.

Menurut Sami Yusuf, salah satu musisi Islam terkondang yang ikut menyanyi untuk lagu tema Mohammad, Messenger of God pelarangan tayang film itu terlalu dipolitisasi. "Kebanyakan reaksi itu terlalu politis," katanya pada Reuters. Pembuat film itu adalah Syiah.

"Saya pun yakin orang-orang di Al-Azhar dan lainnya yang mengkritik film ini belum menontonnya. Mereka hanya melawannya karena itu seperti mengekspor budaya Iran," ujar Yusuf. Ia sendiri mendukung film itu karena belum banyak film tentang Muhammad, apalagi dibandingkan Yesus atau nabi lain di Kristen.

Menurutnya, itu memalukan. "Anda tidak bisa terus mempelajari Nabi Muhammad dan jatuh cinta pada hidup serta karakternya. Jika film ini membuat orang-orang di seluruh dunia tahu nabi kita lebih baik dan melihat betapa baik dia, tugas kita selesai," ujar Yusuf berpendapat.

Sementara itu, belum ada komentar dari Arab Saudi tentang film itu.

Memfilmkan nabi memang seperti tabu dalam Islam. Film tentang Nabi Muhammad saja hanya pernah ada satu, The Message (1976). Sutradara Suriah, Moustapha al-Akkad yang menggarapnya. Aktor Anthony Quinn menjadi paman Nabi Muhammad. Film itu tidak menampakkan wajah Muhammad di layar, namun banyak kelompok Muslim yang tersinggung.

Akkad sendiri akhirnya meninggal dalam bom bunuh diri di Amman pada 2005, meski tidak diketahui apakah itu berhubungan dengan film.

Sebelumnya, Nabi Muhammad juga pernah diwujdkan dalam buku serta kartun. Itu pun selalu membuat marah umat Muslim. Kartun yang dipublikasikan di surat kabar Denmark pada 2005 menimbulkan protes yang mengakibatkan banyak orang meninggal, penyerangan ke kedutaan, serta pemboikotan.

Gambar satire majalah Perancis, Charlie Hebdo diikuti penembakan oleh militan Islam yang akhirnya menewaskan sekitar 12 orang di kantornya, Januari lalu. Pemimpin Iran bahkan pernah mengeluarkan fatwa bagi umat Muslim untuk membunuh penulis Salman Rushdie pada 1988 karena menulis The Satanic Verses. Novel itu dianggap menghina Nabi Muhammad dan Islam.

(rsa/vga)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER