Museum Benyamin dan Pelestarian Karya Sang 'Kompor Meleduk'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 06/09/2015 16:09 WIB
Museum Benyamin dan Pelestarian Karya Sang 'Kompor Meleduk' Segudang peninggalan milik mendiang Benyamin Sueb yang legendaris akan ditempatkan dalam museum sederhana oleh pihak keluarga. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Benyamin Sueb adalah salah satu seniman Indonesia yang memiliki segudang peninggalan karya. Tercatat, lebih dari 50 judul film, 45 single lagu solo, 37 single duet, dan 10 album kompilasi telah ia hasilkan.

Catatan tersebut belum termasuk dengan dua Piala Citra dan berbagai penghargaan yang diterima sang legenda. Kini, setelah 20 tahun Benyamin Sueb telah tiada, belum ada yang mengurusi warisan karyanya.

"Memang banyak dari masyarakat yang menginginkan adanya museum karya dari Benyamin Sueb, supaya para penggemarnya lebih mudah untuk melihat lagi karya-karyanya," kata Biem Triani Benjamin, anak ketiga Benyamin Sueb kepada CNN Indonesia pada acara 20 Tahun Benyamin Sueb dalam Kenangan di Jagakarsa Jakarta Selatan, Sabtu (5/9).


Ide museum yang diterima oleh pihak keluarga itu masih dalam proses pembahasan, dan pihak keluarga menerima kerja sama dari berbagai pihak yang ingin membantu terwujudnya museum. Konsep pun masih dalam perbincangan.

Biem tak ingin muluk-muluk dalam mengonsep museum karya bapaknya. Ia berencana akan mendirikannya di kantor Bens Radio di Jalan Jagakarsa No 39, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Rencana itu karena Bens Radio adalah salah satu karya yang diwariskan oleh sang ikon Betawi.

Seluruh karya Benyamin rencananya akan dikumpulkan kemudian dibuat dalam bentuk etalase untuk dipamerkan. Guna tak membosankan dan lebih kekinian, museum itu akan memasang berbagai mural foto ekspresi Benyamin yang banyak beredar.

Putra Benyamin yang juga sekaligus anggota DPR RI Komisi XI tersebut belum dapat memastikan waktu terwujudnya museum. Biem menginginkan adanya kerja sama dengan para penggemar dan kolektor yang menyimpan karya-karya bapaknya.

"Beberapa karya memang dimiliki oleh keluarga, salah satunya film Zorro Kemayoran karena masternya terbakar di Hong Kong," kata Biem.

Yang terselamatkan dan terancam kepunahan

Zorro Kemayoran adalah salah satu dari film karya Benyamin Sueb yang nyaris musnah. Rekaman asli dari film ini hangus terbakar ketika berada di Hong Kong untuk diproses. Hal itu yang menyebabkan film ini nyaris tidak pernah ditonton di masa kini.

Film ini dirilis pada 1976 dan merupakan karya Lilik Sudijo dan Sofyan Sharma sebagai penulis naskah. Benyamin Sueb beradu peran bersama Lenny Marlina, Wolly Sutinah, dan juga Eddy Gombloh.

Kisah film ini bermula dari seorang bertopeng yang berhasil menyelamatkan orang-orang di Kemayoran dari aksi perampok. Aksi heroik itu rupanya membuat kesengsem seorang janda muda. Dengan berani, sang janda datang ke dukun untuk meminta bantuan mencari sang pahlawan bertopeng.

Tak disangka, dukun yang diperankan oleh Benyamin secara diam-diam adalah sang Zorro. Tak ada yang mengetahui aksi heroik Zorro tersebut selain ia dan sang kekasih.

Film yang terinspirasi dari kisah Zorro karya Johnston McCulley pada 1919 tersebut merupakan simpanan Yayasan Benyamin Sueb, yang semula diketuai oleh mendiang Beib Habbani, anak pertama Benyamin Sueb.

"Film ini rencananya tetap akan disimpan, kalaupun diduplikat akan diperuntukkan menjadi arsip, tetapi untuk dijual sepertinya tidak," kata Beno Rachmat Benjamin, anak keempat Benyamin S sekaligus ketua Yayasan Benyamin Sueb.

Selain meninggalkan karya, rupanya Benyamin Sueb juga mewakafkan rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan yang bertempat di kawasan Kemayoran. Rumah tersebut diwakafkan ke masyarakat sekitar sebagai tanda bakti Benyamin kepada kampung halamannya.

"Namun sayangnya rumah tersebut tidak terurus, inginnya dirawat kembali tetap untuk masyarakat dan barangkali dapat menjadi bagian dari museum," kata Biem.

Berbagai karya dari Benyamin Sueb nantinya bukan hanya akan dikumpulkan dan dipajang, tetapi diupayakan untuk diduplikat kembali sebagai arsip sang legenda. Biem mengisayaratkan bukan tidak mungkin duplikasi karya Benyamin Sueb dapat dijual untuk para penggemar Bang Ben.

Semangat pelestarian yang dilanjutkan

Dalam pengupayaan perlindungan karya dan budaya Betawi, pihak keluarga Benyamin Sueb sebenarnya sudah memiliki yayasan khusus yang bergerak di bidang pelestarian budaya. Yayasan tersebut bernama Yayasan Benyamin Sueb.

Yayasan yang dibentuk oleh mendiang anak pertama Benyamin, Beib Habbani, pada 2004 itu mengadakan beberapa kegiatan dalam rangka melestarikan budaya lokal seperti pementasan kesenian Betawi, pembinaan sanggar seni Betawi, kegiatan sosial kemasyarakatan, penganten sunat, dan program santri kiriman.

Organisasi ini juga mengupayakan para seniman untuk mendapatkan kesempatan tampil sehingga memperoleh penghasilan, di tengah persaingan dengan berbagai seniman dari luar Betawi di Jakarta. Yayasan ini juga mencoba mengadakan pertukaran budaya ke luar negeri seperti ke Belanda, dengan mengirim anggota sanggar-sanggar.

"Dahulu mungkin Bang Beib sudah merasa siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan bapak dan juga dirinya dalam melestarikan budaya lokal seperti yang dilakukan bapak," kata Beno.

Benyamin Sueb memang terkenal dengan semangatnya mengembangkan budaya lokal, khususnya Betawi. Meski terkenal sebagai ikon Betawi semasa hidupnya, Benyamin juga pernah membawakan beberapa lagu daerah seperti dari Padang, Manado, bahkan juga Batak.

"Bapak sangat semangat dalam melestarikan budaya lokal. Itu memang pesannya almarhum, kita semua harus cinta dan bangga dengan budaya lokal, kebetulan saja Bang Ben lahir di Betawi. Nyatanya, beliau dikenal di seluruh Indonesia." kata Biem.

(ard/ard)