Inspirasi Karya IAA 2015: dari Media Sosial hingga Kiamat

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2015 11:24 WIB
Inspirasi Karya IAA 2015: dari Media Sosial hingga Kiamat Muchlis Fachri, pemenang ke-tiga Indonesia Art Award di Galeri Nasional Indonesia (21/9). (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memenangkan Juara 3 Indonesia Art Award (IAA) tak pernah disangka oleh Muchlis Fachri. Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta ini membawa pulang hadiah senilai Rp 50 juta sebagai apreasiasi karyanya yang menyindir kondisi pengguna media sosial saat ini dengan tajuk, Trust Us We're Different.

"Sebenarnya sih ikut IAA ini iseng saja, coba-coba, dan ternyata menang," kata Muchlis kepada CNN Indonesia ketika ditemui di Galeri Nasional Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Senin (21/9).

Karya Muchlis memang tergolong unik, ia membuat seratus gambar karakter manusia dengan wajah abstrak yang mengelilingi sebuah lukisan kumpulan wajah yang bercampur baur menjadi satu.


Seratus wajah tersebut ada yang berwajah babi, daging, hanya mulut saja, dan "wajah seram" lainnya. Rupanya Muchlis menggambarkan wajah-wajah hasil goresan tinta China dan kuas itu adalah perumpamaan para pengguna media sosial.

"Para pengguna media sosial itu cenderung mengunggah hal yang bagus bagi dirinya, misal di kafe, lalu up-date di media sosial, namun ketika di warteg tidak, bagi saya itu mengada-ada," kata Muchlis.

"Media sosial itu surealis dan seratus gambar ini adalah branding dari mereka di media sosial."

Muchlis hanya membutuhkan dua bulan dan biaya kisaran Rp 5 juta untuk mengerjakan seratus wajah, plus lukisan besar serta sebuah koper kayu yang dilukis dari arkilik. Setiap harinya, ia mendekam di kamar dan sanggup menggambar empat wajah abstrak.

Materi yang dibutuhkan Muchlis tak jauh-jauh, yaitu ada di telepon genggamnya sendiri. Melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter, ia memantau unggahan demi unggahan dari kawan-kawannya lalu menjadikannya sebuah karya seni.

"Karya saya ini judgement dari saya pribadi, bersyukur bila yang lain dapat merasakan hal yang sama," katanya. "Menurut saya, ya baiknya menggunakan media sosial itu sebaiknya dan seperlunya."

Muchlis bukan berarti jarang menggunakan media sosial. Ia kerapkali dan hanya menggunakan media sosial untuk mengunggah karya-karyanya agar dapat dinikmati publik.

Namun, seperti lazimnya unggahan seorang artis, ada yang suka dan ada yang tidak. "Perseteruan" dua kelompok dalam memandang karya seni kreasinya ini menjadi ilham tersendiri bagi Muchlis yang berencana menggunakan hadiah Rp 50 juta untuk membuat studio pribadi.

Kadang penggunaan media sosial memang tergolong kelewat batas. Tidak jarang, terjadi konflik di media sosial baik berupa saling sindir hingga saling hina melalui komentar. Muchlis menganggap, memiliki kasus dalam media sosial mempunyai dampak berkepanjangan.

Tapi tak semua media sosial memiliki dampak negatif yang dirasakan oleh Muchlis. Melalui Instagram miliknya, ia dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan karyanya melalui interaksi dengan netizen lain via komentar di unggahannya.

"Tapi ingat bahwa media sosial itu ranah publik, semuanya dapat menjadi complicated," kata Muchlis.

Ratu R. Saraswati, finalis Indonesia Art Awards di Galeri Nasional Indonesia (21/9). (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)
Saat Hari Penghitungan Hisab

Bila Muchlis tak mengira dirinya akan menjadi juara tiga IAA, lain cerita dengan Ratu R. Saraswati. Wanita lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung harus rela Pelayanan Membasuh kreasinya belum mengantarkan menjadi juara IAA.

"Sebenarnya peragaan ini sudah pernah saya lakukan sebelumnya di Yogyakarta selama 14 hari," kata Saras, sapaan akrabnya, kepada CNN Indonesia. "Ini pun sudah saya pikirkan untuk IAA sejak lama."

Saras mengajukan karya Pelayanan Membasuh, sebuah instalasi menggunakan dokumentasi yang menggambarkan peragaan kegiatan pembasuhan terhadap 46 sukarelawan di Yogyakarta, pada Desember hingga Januari silam.

Wanita yang merupakan pengajar seni dan tengah menjalani program grant dari Pemerintah Vietnam ini mengambil filosofi sebuah ajaran Islam ketika Pengadilan Hari Akhir, yaitu saat mulut tak dapat berbicara dan anggota badan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia semasa hidup.

Atas segala dosa dan perbuatan yang pernah dilakukan, Saras mengadakan pembasuhan tangan dan kaki sebagai simbol pengingat juga pembersihan atas segala perbuatan.

"Sebenarnya ketika bagian tertentu tersentuh orang lain, maka bagian yang tersentuh misalnya luka ataupun tato akan mengingatkan kita pada suatu hal," kata Saras.

Upaya "pembersihan" dengan cara mengusapkan kain hangat ke kaki dan tangan para relawan tersebut dilakukan Saras seperti selayaknya membersihkan kaki saat spa. Kain putih bekas pengusapan lalu digantung oleh Saras dalam instalasi karyanya.

Ia mengurutkan kain bekas tersebut dari yang paling bersih hingga paling kotor dengan maksud gambaran perbuatan manusia dibandingkan dengan manusia lainnya. Dengan pengurutan itu, manusia dapat melihat "seberapa kotorkah dirinya."

Aksi pembasuhan tersebut rupanya merangsang para sukarelawan untuk bercerita sendiri kepada Saras akan memori yang berkesan di benak para relawan.

Saras tidak pernah memancing akan pertanyaan ataupun definisi tertentu atas karyanya karena tidak ingin membenarkan pendapatnya seorang diri.

Namun, instalasi yang ia buat belum mengantarkan Saras menjadi satu dari tiga pemenang IAA dan membawa pulang hadiah puluhan juta rupiah. Meski terlihat kecewa, tapi Saras mengaku sudah sangat bersyukur.

"Ya, sebenarnya kesempatan ada di mana saja, kayaknya saya harus bersyukur karena tahun ini juga sudah dapet kesempatan ke Vietnam, juga menjadi finalis," kata Saras.

"Karena bagi saya, ini kesempatan besar untuk menunjukkan karya di Jakarta, setelah di Yogyakarta kemarin, jelas audiens lebih besar di Jakarta dan membuat saya senang karena dapat membagi pegalaman saya," ujarnya sembari tersenyum.

(end/vga)