Layar Tancap 'Cahaya dari Timur' Memukau Penonton Asing

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2015 12:43 WIB
Sepanjang film yang diproduseri Glenn Fredly itu diputar di Ubud, para penonton, yang terdiri atas masyarakat lokal maupun warga asing, serius menyimak. Aktor Chicco Jerikho meraih Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2014 lewat film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. (CNN Indonesia ANTARA FOTO/Feny Selly/Rei/pd/14)
Ubud, CNN Indonesia -- Balai darurat berdinding bambu dan beratap rumbia yang disebut "Taman Baca" di Ubud, Bali pada Kamis (29/10) malam nyaris gulita, namun kursi-kursinya penuh. Dari jauh hanya terlihat rambut beraneka warna, pirang, jagung, cokelat, nyaris putih, maupun hitam.

Semua kepala menatap satu layar besar di hadapannya. Dari pengeras suara yang terpasang di empat sudut lokasi, terdengar dialog berbahasa Ambon. Wajah Chicco Jerikho sesekali tampil di depan layar.

Orang-orang itu tengah menyaksikan salah satu film terbaik Indonesia, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, atau dibahasainggriskan sebagai We Are Mollucans.


Sepanjang film diputar, para penonton, yang terdiri atas masyarakat lokal maupun warga asing, serius menyimak. Mereka seperti hanyut dalam cerita. Sesekali ikut tertawa membaca teks terjemahan berbahasa Inggris di layar, ikut berdebar-debar, bahkan menitikkan air mata.

Di akhir film garapan Angga Dwimas Sasongko yang membawa Chicco menjadi Aktor Terbaik Festifal Film Indonesia tahun lalu itu, seluruh penonton bertepuk tangan membahana.

Cahaya dari Timur: Beta Maluku sendiri memang Film Terbaik Festival Film Indonesia. Diproduseri Glenn Fredly yang memang berdarah Ambon, film itu mengisahkan bagaimana sepakbola bisa menghapus konflik antaragama di Maluku, salah satu bagian Timur Indonesia.

"Pada 1999, konflik itu terjadi, saya tergugah pulang ke Ambon," ujar Glenn yang hadir malam itu. Ia sendiri lahir dan dibesarkan di Jakarta. Pelantun Januari itu terkejut saat tiba di bandara. Ia "diseleksi" berdasarkan KTP. Muslim ke kanan, Kristen ke kiri.

Ia bahkan tak bisa bebas bertemu saudaranya yang Muslim, hanya karena agamanya berbeda.

Hanya tiga hari Glenn di Maluku, kala itu. Sepulangnya ke Jakarta, ia tahu harus berbuat sesuatu. Kebetulan ia kemudian bertemu tim yang satu visi, dan berniat membuat film. Saat riset, ia menemukan cerita kecil soal Sani Tahulea, sopir ojek Muslim di Maluku.

Demi menghindarkan anak-anak dari konflik, Sani mengajari mereka sepakbola. Bertahun-tahun kemudian, meski penuh perjuangan, tim mereka mewakili Maluku di kompetisi sepakbola remaja di Jakarta. Kompetisi itulah yang akhirnya meleburkan batas agama di Maluku.

"Di film, ada adegan orang-orang Muslim ke gereja untuk menyimak final kompetisi bersama, ada orang Kristen yang ke masjid, itu semua betul terjadi," kata Irfan Ramly, penulis skenario yang hadir di satu sesi Ubud Writers and Readers Festival 2015 itu.

Meski sempat terganjal masalah dana, film yang dibuat selama empat tahun oleh tim produksi yang memang didominasi Ambon itu akhirnya menuai sukses. Cahaya dari Timur: Beta Maluku bukan hanya menang FFI, meski raihan jumlah penontonnya hanya 250 ribu orang, tetapi juga berkeliling dunia.

"Kemarin habis dari Busan Film Festival, November nanti mau ada festival khusus untuk Cahaya dari Timur: Beta Maluku di Barcelona," tutur Glenn pada CNN Indonesia usai acara.

Sempat ada ketakutan film itu akan mengorek luka lama. Namun yang dikhawatirkan tidak terjadi. Masyarakat Maluku justru bangga menontonnya. "Film ini dibuat tanpa menyalahkan, tidak ada siapa yang benar dan siapa yang salah," kata Irfan berkomentar.

Saat penayangan, Cahaya dari Timur: Beta Maluku diputar selama sebulan penuh di Ambon. "Itu pertama kalinya film Indonesia, dibuat orang Indonesia, diputar di Indonesia, pakai teks terjemahan bahasa Indonesia. Tapi selama sebulan, tidak ada film Hollywood di bioskop," ujar Glenn, disambut tawa penonton.

Malam itu, Cahaya dari Timur: Beta Maluku lagi-lagi memukau penonton. "Saya kemari hanya kebetulan. Saya lihat ada ramai-ramai. Saya terlambat menonton filmnya. Saya bahkan tidak tahu apa-apa tentang sepakbola, tidak tahu aturannya dan tidak pernah menonton. Tapi film ini membuat saya kagum," ujar salah satu penonton, wanita berwarga negara asing.

(vga/rsa)