Usai Konflik Maluku, Glenn Fredly Angkat Tragedi 1965

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2015 06:18 WIB
Lagu-lagu cinta sang biduan diangkat ke layar lebar dengan latar belakang peristiwa 1965 sebagai pembungkus kisah cinta. Glenn Fredly (ANTARA FOTO/Regina Safri/ed/pd/15)
Ubud, CNN Indonesia -- Kesuksesan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang diproduseri Glenn Fredly masih tersisa hingga kini. Sesuai mimpinya, Glenn membuat film tentang konflik Maluku yang disatukan kembali lewat sepakbola itu, berumur panjang.

Setelah tahun lalu karyanya mendapat penghargaan sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia dan diputar di berbagai negara, kini Glenn siap "menyembuhkan" konflik lain lewat suguhan yang berbeda.

Kepada CNN Indonesia di Ubud, Bali, Kamis (29/10) malam Glenn bercerita ia akan mengangkat sejarah peristiwa 1965 sebagai latar belakang film terbarunya, Surat dari Praha. Film itu dibintangi Tyo Pakusadewo, Widyawati, dan si cantik Julie Estelle.


"Kami sangat peduli pada masalah-masalah yang tidak terselesaikan, seperti sejarah yang hilang dari tengah masyarakat," ujar Glenn menjelaskan latar belakang pembuatan filmnya. Membuat film tentang konflik masa lalu, menurutnya bukan membuka kembali luka lama.

Alih-alih ingin mengungkit siapa yang salah dan benar, pelantun Januari itu ingin mencari sudut pandang yang berbeda untuk melihat sejarah yang biasanya dianggap gelap oleh Indonesia. Ia berhasil menemukan sudut pandang unik itu untuk film Surat dari Praha.

"Sebenarnya film itu diangkat dari lagu-lagu saya. Angga (Angga Dwimas Sasongko, yang juga sutradara Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi) memilih karya-karya saya untuk dijadikan kisah cinta. Jadi ini love story," tutur Glenn sambil tersenyum penuh misteri.

Hanya saja, latar belakang peristiwa 1965 dipilih sebagai pembungkus kisah cinta itu.

Lagi-lagi, filmnya diangkat dari kisah nyata. Glenn dan tim melakukan riset sampai ke Praha untuk menemukan sekelompok mahasiswa yang terkena dampak sejarah kelam Indonesia itu.

"Kami memang ingin mengambil sudut Praha. Terbayang kan cantiknya? Kami lalu mencari, ada enggak ya mahasiswa yang bisa diriset," katanya bercerita. Seperti sudah ditakdirkan, Glenn bertemu seseorang yang pada 1965 adalah pemimpin mahasiswa Indonesia di Ceko.

Kata Glenn, ia ingin bercerita soal mahasiswa yang menjadi korban 1965 karena tak bisa pulang ke negaranya sendiri. "Pada waktu itu kan identik mahasiswa yang dikirim studi ke luar itu berideologi kiri. Yang kami temukan ini enggak," katanya. Ia bertemu mahasiswa yang tergabung dalam komunitas ikatan dinas.

"Mereka tidak beraliansi ke ideologi mana pun. Mereka nasionalis. Mereka bahkan tidak peduli pada satu ideologi. Ini fakta sejarah yang sampai hari ini tidak keluar," tuturnya.

Yang dipedulikan mahasiswa itu, mantan suami Dewi Sandra itu melanjutkan, hanyalah pulang ke negaranya dan memberikan sesuatu. Ternyata, mereka bahkan tak bisa pulang.

"Ada yang baru dua hari, enggak tahu apa-apa, tiba-tiba enggak bisa pulang. Mereka sampai stateless selama 15 tahun, di bawah Palang Merah Internasional. Gokil," komentar Glenn.

Surat dari Praha kini tengah memasuki masa pascaproduksi. Rencananya, ujar Glenn yang kali ini duduk di kursi produser eksekutif, film akan ditayangkan pada 28 Januari 2016.

Sempat Ciut Nyali

Glenn mengakui, sempat terbersit ketakutan dalam dirinya saat mengangkat latar konflik 1965 untuk filmnya. Apalagi belakangan semakin banyak penolakan terhadap pembahasan peristiwa itu. Beberapa sesi diskusi, pemutaran film, dan peluncuran buku bertema itu di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 pun terpaksa dibatalkan panitia.

"Saya sebenarnya bingung, kenapa sampai dibatalkan? Waktu lagi ramai-ramai isu itu, saya sama Angga sempat takut. Jangan-jangan dilarang juga filmnya," Glenn mengungkapkan.

Namun ia pantang mundur. Pelantun Akhir Cerita Cinta itu percaya, ketakutan seharusnya tidak ditumbuhkan di masyarakat. Demokrasi, katanya, bukan sekadar diciptakan. "Itu juga harus dirawat," ucapnya menegaskan.

Merawatnya, menurut Glenn, salah satunya dengan keluar dari stigma-stigma yang ada di tengah masyarakat kebanyakan. "Di era keterbukaan ini, keberanian menyampaian pemikiran justru jadi hal penting. Film ini kategorinya pop, tapi berlatar sejarah. Seharusnya memang seperti itu," ujar Glenn.

(rsa/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK