'Anak Didik Teguh Karya Orang Hebat Semua'

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2015 14:58 WIB
'Anak Didik Teguh Karya Orang Hebat Semua' Slamet Rahardjo, salah satu anak didik Teguh Karya. (Detikcom Fotografer/Rachman Haryanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu per satu nama aktor besar dipanggil ke atas panggung oleh pemandu acara di Malam Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2015, pada Kamis malam tadi (12/11).

Dari Slamet Raharjo, Rima Melati, Rina Hasyim,  Eros Djarot, Christine Hakim, serta selusin aktor dan aktris kawakan lain. Mereka disebut sebagai anak didik Teguh Karya, sutradara hebat yang menjadi ikon FFI tahun ini.

Selain lima nama besar tersebut ada juga El Manik, George Kamarullah, Henky Solaiman, Lenny Marlina, Niniek L. Kariem, dan Ria Irawan. Tak ketinggalan juga Roy Marten, Yessy Gusman, Hendrik Gozali, Titi Kadarsih, Rini S. Bono, juga Ayu Azhari. Semuanya hadir untuk memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap guru mereka, Teguh Karya.


Teguh Karya memang bukan sembarang sutradara. Karya-karyanya termasuk yang terbaik pada masanya. Sebut saja film Doea Tanda Mata, Ranjang Pengantin, atau Badai Pasti Berlalu. Saking legendaris, sampai-sampai beberapa judul filmnya digarap ulang (remake).

Ketua FFI 2015 Olga Lydia mengatakan pemilihan Teguh Karya sebagai ikon FFI 2015 tahun ini memang sudah saatnya. Olga menilai, banyak film milik Teguh yang memberikan warna tersendiri bagi dunia perfilman di Indonesia.

Untuk memberikan penghargaan kepada Teguh Karya, penyelenggara FFI 2015 juga akan mengundang semua aktor dan aktris senior yang pernah terlibat dan bekerja bersama dalam film-film Teguh Karya.

"Mereka diutamakan diundang, semua anak buahnya, karena kita mau Tribute to Teguh Karya. Kita bisa lihat betapa anak didik Teguh Karya orang hebat semua," kata Olga saat ditemui usai Malam Nominasi FFI 2015 di Plaza Indonesia, Jakarta, Kamis malam (12/11).

Olga menganggap, kontribusi Teguh Karya dalam dunia perfilman Indonesia tidak hanya lewat film-filmnya saja. Tapi juga dari kemampuannya mencetak aktor dan aktris terbaik di negeri ini.  

"Saya baru melihat sutradara dengan anak didik yang sedemikian hebatnya. Demikian legendaris. Mungkin Arifin C. Noor, juga tapi Teguh Karya banyak banget," ujar Olga.

Teguh Karya memang terkenal disiplin dan sangat perfeksionis ketika sedang menggarap karyanya. Masih lekat betul di ingatan Rina Hasyim saat terlibat dan bekerja sama dalam film Teguh Karya berjudul Secangkir Kopi Pahit.

Itulah saat-saat Rina belajar banyak tentang akting dan dunia film. "Dia seorang sutradara yang sangat tegas dan telaten. Orangnya sangat kritis. Kalau membuat satu film tidak asal," ujar Rina.

Sebelum syuting dimulai, semua aktor dan aktris harus mempelajari naskah baik-baik. Kostum pun harus dipersiapkan dengan matang dan harus sesuai dengan karakter yang diperankan.

Sampai riasan wajah pun begitu diperhatikan Teguh. Ia mau semua aktor dan aktris sudah merias wajahnya dua jam sebelum syuting dimulai. Tanpa terkecuali.

"Itu supaya make up bisa menyatu sama muka dulu, jadi seperti asli, sudah berminyak, sudah menyerap. Itu katanya dia. Dia tidak bisa buru-buru syuting, buru-buru make up. Dia tidak mau," kata Rina.

Dia adalah pekerja yang baik. Dia yang mengajarkan kami bagaimana mencintai pekerjaan. Kalau kamu menjadi orang film maka kamu harus mencintai film itu dengan segala cara. Bagaimana caranya? Kerja keras dan belajar.Slamet Rahardjo tentang Teguh Karya
Satu hal yang membuat Rina tak bisa melupakan sosok Teguh Karya sehingga bisa membuat dia menjadi aktris hebat, yaitu "paksaannya" untuk terus berada di lokasi syuting dan memperhatikan semua jalannya syuting. Buat Rina itu momen belajar yang sangat berharga.

"Kalau syuting, pemain harus di lapangan, melihat medan. Tidak bisa orang lagi syuting, kita malah cekakak cekikik saja karena bukan peran kita. Pemain harus berdiri dan melihat. Itu yang saya ingat betul."

Kekaguman yang dirasakan Rina Hasyim tak jauh berbeda dengan Slamet Raharjo. Aktor kawakan itu juga mengagumi sosok Teguh Karya yang begitu menginspirasi insan perfilman Indonesia, termasuk dirinya.

"Dia adalah pekerja yang baik. Dia yang mengajarkan kami bagaimana mencintai pekerjaan. Kalau kamu menjadi orang film maka kamu harus mencintai film itu dengan segala cara. Bagaimana caranya? Kerja keras dan belajar," ujar Slamet.

Bahkan sampai akhir hayatnya pun, Slamet bercerita Teguh Karya masih bisa menginspirasi.

"Sebelum meninggal, hanya satu kata yang dia sebutkan. Saya heran dia stroke dan ngomongnya sudah cadel tapi khusus kalimat satu ini dia bicara dengan jelas. 'Kreativitas tidak boleh mati.'" (tri/vga)